BI Tahan Bunga 5,75 Persen: Keputusan Tepat atau Sekadar Main Aman?

Mahasiswi Manajemen UNPAM, penulis soal e-commerce
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari della sagita fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
BI tahan bunga di level 5,75 persen pada Oktober lalu, dan menurut saya keputusan ini layak dipertanyakan karena inflasi masih naik dan rupiah belum tenang. Sebagai orang yang tiap bulan menghitung uang belanja, saya ingin menimbangnya dengan kepala dingin. Artikel ini mengaitkan Bank Indonesia dan inflasi dengan dompet kita sehari-hari.

Inflasi Tahunan Naik, Dapur Paling Terasa
Menurut BPS, inflasi September 2026 sebesar 0,30 persen secara bulanan dan 3,28 persen secara tahunan, naik dari 3,19 persen pada Agustus. Angka 3,28 persen mungkin terdengar kecil, tapi komposisinya yang membuat saya khawatir.
Pendorong terbesarnya adalah makanan. Cabai, daging ayam ras, beras, dan telur naik harga, dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan 4,37 persen. Inilah belanja yang tidak bisa ditunda. Orang bisa menunda beli ponsel, tapi tidak bisa menunda makan.
Kenapa BI Tahan Bunga di 5,75 Persen?
BI menahan BI Rate di 5,75 persen pada rapat 20–21 Oktober 2026, padahal banyak ekonom memperkirakan bunga naik ke 6 persen. Alasannya masuk akal: menjaga stabilitas rupiah dan inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Menaikkan bunga juga ada harganya, yaitu cicilan dan kredit usaha jadi lebih mahal saat daya beli sedang tertekan.
BI juga tidak diam. Deposit Facility dinaikkan menjadi 5,00 persen, dan Giro Wajib Minimum bank akan diturunkan mulai November untuk menjaga likuiditas.
Rupiah Masih Jadi Pertanyaan Besar
Rupiah sempat melemah menembus Rp18.000 per dolar AS dan ditutup sekitar Rp17.995 pada 20 Oktober. Menurut BI, rupiah melemah 0,61 persen dibanding akhir September, meski ada aliran modal asing masuk sekitar US$9,9 miliar sejak insentif berlaku pada Juni.
Rupiah yang lemah membuat barang impor dan bahan baku lebih mahal, dan ujungnya bisa menambah tekanan harga. Kalau rupiah terus tertekan, bunga yang ditahan hari ini bisa jadi tidak cukup.
Pendapat Saya
Saya menilai BI tahan bunga adalah keputusan yang cukup tepat untuk saat ini, karena inflasi inti masih terkendali di 2,84 persen dan ekonomi tidak perlu dibebani bunga lebih tinggi. Tapi pembelaan itu ada batasnya. Kalau inflasi pangan terus naik dan rupiah belum stabil, BI kemungkinan harus menaikkan bunga, dan menunggu akan terasa terlambat.
Yang bisa kita lakukan adalah lebih cermat mengatur belanja kebutuhan pokok dan memantau data inflasi Oktober sebagai petunjuk arah kebijakan berikutnya. Menurut Anda, menahan bunga adalah langkah bijak atau sekadar main aman?
Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia.
