Konten dari Pengguna

Opini: Krisis Memori Bikin Gadget Mahal, Konsumen yang Menanggung

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari della sagita fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi krisis. Harga memori smartphone melonjak lebih dari 80 persen secara kuartalan pada kuartal II 2026. (Foto: viarami/Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi krisis. Harga memori smartphone melonjak lebih dari 80 persen secara kuartalan pada kuartal II 2026. (Foto: viarami/Pixabay)

Banyak orang menganggap kenaikan harga gadget sebagai urusan produsen. Menurut saya, ini urusan kita semua. Counterpoint Research mencatat harga memori smartphone naik lebih dari 80 persen secara kuartalan pada kuartal II 2026, dan lonjakan itu perlahan sampai ke harga eceran yang kita bayar. Inilah dampak krisis memori yang kini terasa dari rak toko sampai dompet.

Apa yang Terjadi dalam Krisis Memori Global

Akar masalahnya ada di pergeseran prioritas industri. Memori untuk pusat data AI dinilai jauh lebih menguntungkan dibanding memori untuk PC dan laptop konsumen, sehingga pasokan untuk segmen konsumen menjadi terbatas dan harga naik. Menurut Counterpoint, pada kuartal I 2026 harga DRAM global naik lebih dari 50 persen dan NAND Flash lebih dari 90 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Dampak Krisis Memori bagi Konsumen Indonesia

Angkanya ikut mengubah harga yang kita lihat. IDC memproyeksikan harga jual rata-rata smartphone global mencapai US$581 pada 2026, naik 27,6 persen dan menjadi rekor baru. Untuk laptop, TrendForce memperkirakan laptop kelas menengah seharga sekitar US$900 bisa naik lebih dari 30 persen hanya karena harga memori.

Indonesia tidak luput. Pada awal April 2026, sejumlah vendor smartphone di Indonesia menaikkan harga produknya. Dampaknya terlihat di pasar: pengiriman smartphone di Indonesia turun 9 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, dan salah satu faktornya adalah konsumen menunda penggantian perangkat. Menurut saya, ini tanda bahwa daya beli ikut menentukan kapan orang berganti perangkat.

Rupiah Memperberat Krisis Memori

Ada tekanan kedua yang jarang dibahas bersamaan. Komponen elektronik dibayar dengan dolar, sedangkan rupiah sempat melemah menembus Rp18.000 per dolar AS pada Oktober. Bisnis.com menyebut kenaikan harga laptop dipicu oleh RAM dan SSD yang terserap industri AI serta penguatan dolar AS. Dua tekanan itu bertemu di harga akhir, dan konsumen berada di ujungnya.

Cerita Fiksi: Laptop Lama yang Terus Dipakai

Ini ilustrasi fiktif, bukan kisah nyata. Bayangkan seorang mahasiswa semester akhir yang laptopnya sudah lamban. Dia sempat membuka-buka harga laptop baru, lalu menutupnya. Skripsi harus selesai dulu, dan tabungan tidak cukup mengejar harga yang terus bergeser. Akhirnya laptop lama diberi tambahan penyimpanan, dibersihkan, dan dipakai satu semester lagi. Keputusan seperti inilah yang menurut saya tersembunyi di balik angka penurunan pengiriman perangkat.

Apakah Krisis Ini Segera Reda?

Sinyalnya belum seragam. Harga memori global dilaporkan mulai melandai, tetapi harga smartphone dan laptop belum akan segera turun karena permintaan AI tetap tinggi dan pasokan terbatas. Di sisi lain, produsen memori TeamGroup memperkirakan kenaikan harga DRAM berlanjut sepanjang 2026, tanpa tanda penurunan hingga setidaknya 2027. Dengan dua pandangan yang berbeda ini, menurut saya konsumen sebaiknya tidak menunggu harga turun sebagai satu-satunya rencana.

Pendapat Saya

Menurut saya, produsen perlu lebih terbuka menjelaskan berapa porsi kenaikan harga yang benar-benar berasal dari biaya komponen. Konsumen juga punya pilihan: memperpanjang usia perangkat, menimbang kebutuhan sebelum berganti, dan membandingkan informasi dari banyak sumber. Tentu ada yang berpendapat bahwa kenaikan ini wajar karena industri sedang memprioritaskan teknologi AI yang membawa manfaat luas. Itu masuk akal, tapi biaya transisinya tetap perlu dibicarakan, karena sebagian besar ditanggung konsumen biasa.