Konten dari Pengguna

Pergaulan Bebas Gen Z: Boleh Berteman dengan Siapa Saja, Asal Tahu Batas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dellia Nur Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menikmati masa muda bukan berarti harus mengikuti semua hal yang dilakukan lingkungan sekitar.

Menjadi Gen Z berarti hidup di tengah banyak pilihan. Kita bebas berteman dengan siapa saja, mengikuti berbagai kegiatan, pergi bersama teman, hingga membangun pertemanan melalui media sosial. Namun, semakin luas pergaulan, semakin besar pula tantangannya. Pergaulan bebas Gen Z menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar kebebasan dalam berteman tidak membuat seseorang kehilangan arah.

Namun, semakin luas pergaulan, semakin besar pula tantangannya. Pergaulan bebas Gen Z sering menjadi perhatian karena kebebasan dalam berteman terkadang membuat seseorang sulit membedakan antara mengikuti lingkungan dan kehilangan kendali atas diri sendiri.

Sebenarnya, memiliki banyak teman bukanlah sesuatu yang salah. Begitu juga dengan menikmati masa muda. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang mulai melakukan sesuatu hanya karena takut dianggap berbeda atau takut kehilangan teman.

Ketika Pertemanan Mulai Memengaruhi Pilihan

Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh terhadap kebiasaan seseorang. Hal-hal yang awalnya terasa asing bisa menjadi biasa ketika dilakukan berulang kali bersama kelompok.

Misalnya, seseorang yang awalnya hanya ikut nongkrong karena ingin berkumpul dengan teman, lama-kelamaan merasa harus selalu mengikuti keputusan kelompok. Bahkan, ketika ada ajakan yang sebenarnya tidak nyaman, ia tetap mengikutinya karena takut dianggap tidak solid.

Di sinilah pentingnya memiliki pendirian.

Mengatakan “tidak” kepada teman bukan berarti seseorang tidak bisa bergaul. Menolak ajakan yang tidak sesuai dengan prinsip diri justru menunjukkan bahwa seseorang mampu bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.

Pergaulan Gen Z Tidak Hanya Terjadi di Dunia Nyata

Pergaulan bebas Gen Z dan batas dalam pertemanan (Chat GPT)

Bagi Gen Z, pergaulan tidak hanya berlangsung di sekolah, kampus, tempat kerja, atau lingkungan tempat tinggal. Media sosial juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pertemanan dapat dimulai dari komentar, pesan pribadi, grup percakapan, hingga interaksi melalui berbagai platform media sosial. Kita bahkan bisa merasa dekat dengan seseorang yang sebenarnya belum pernah ditemui secara langsung.

Karena itu, menjaga pergaulan juga perlu dilakukan di ruang digital.

Tidak semua orang yang kita kenal melalui media sosial benar-benar kita kenal secara dekat. Informasi pribadi, foto, lokasi, maupun masalah pribadi tidak harus dibagikan kepada semua orang.

Batasan tetap diperlukan, meskipun hubungan tersebut terasa dekat.

Bebas Bukan Berarti Harus Mengikuti Semuanya

Sering kali kebebasan anak muda dianggap sebagai kesempatan untuk mencoba berbagai hal. Memang tidak ada yang salah dengan mencoba pengalaman baru selama seseorang memahami konsekuensinya.

Masalah muncul ketika kebebasan diartikan sebagai kewajiban untuk mengikuti semua hal yang dilakukan teman.

Padahal, setiap orang memiliki batas yang berbeda. Ada yang nyaman pergi bersama teman hingga malam, ada yang memilih pulang lebih awal. Ada yang senang berada di lingkungan yang ramai, sementara yang lain lebih nyaman dengan lingkaran pertemanan yang kecil.

Tidak ada satu standar pergaulan yang harus diikuti semua orang.

Yang penting adalah kemampuan untuk menentukan mana yang sesuai dengan diri sendiri dan mana yang sebaiknya dihindari.

Takut Dikucilkan Jangan Sampai Menghilangkan Diri Sendiri

Salah satu alasan seseorang sulit menolak ajakan teman adalah rasa takut kehilangan pertemanan. Kekhawatiran seperti “nanti aku dianggap tidak asyik” atau “nanti mereka tidak mau berteman lagi” terkadang membuat seseorang mengabaikan rasa tidak nyaman dalam dirinya.

Padahal, hubungan pertemanan yang sehat seharusnya tidak memaksa seseorang menjadi orang lain.

Teman yang baik bukan berarti teman yang selalu setuju dengan kita. Justru, teman yang baik adalah mereka yang dapat menghargai keputusan dan batasan masing-masing.

Karena itu, tidak perlu merasa bersalah ketika memilih untuk tidak mengikuti sesuatu yang memang tidak sesuai dengan diri sendiri.

Menjaga Pergaulan Bukan Berarti Menjauhi Semua Orang

Menjaga diri dari pergaulan yang tidak sehat bukan berarti harus menjadi pribadi yang tertutup.

Kita tetap bisa memiliki banyak teman, mengikuti organisasi, menghadiri kegiatan kampus, bepergian, dan bertemu orang-orang baru. Namun, di tengah banyaknya lingkungan yang kita temui, kita tetap perlu memiliki prinsip.

Pada akhirnya, orang lain hanya bisa memberikan ajakan. Keputusan untuk menerima atau menolaknya tetap berada di tangan kita.

Gen Z boleh menikmati masa muda. Boleh berteman dengan siapa saja. Boleh mencoba pengalaman baru dan bebas berekspresi.

Namun, kebebasan akan lebih berarti ketika kita tetap tahu batas dan tidak kehilangan