Ketika Sungai Hilang, Apa yang Tersisa dari Sebuah Kampung?

Mahasiswa PBSI UIN Syarif Hidayatullah, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia , menganalisis karya karya sastra indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Akbar Rama Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Percaya tak percaya, parit-parit sawit itu adalah sungai-sungai kita yang hilang, bahkan selat dan laut yang pernah diarungi nenek moyang."
Kalimat itu mungkin terdengar seperti ungkapan seorang tua yang larut dalam kenangan. Namun dalam cerpen Berlayar di Parit Sawit karya Raudal Tanjung Banua, ucapan Briting justru menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan yang lebih besar: hilangnya ingatan sebuah kampung ketika alam yang selama ini menjadi bagian hidup masyarakat perlahan berubah.
Saat membicarakan kerusakan lingkungan, perhatian kita biasanya tertuju pada hutan yang ditebang, sungai yang tercemar, atau lahan yang beralih fungsi. Akan tetapi, ada satu kehilangan lain yang jarang dibahas, yaitu hilangnya hubungan manusia dengan tempat yang membesarkannya.
Cerpen ini membawa pembaca ke kehidupan masyarakat Talang Mamak yang hidup berdampingan dengan hutan dan sungai. Alam bukan sekadar latar tempat tinggal, melainkan bagian dari identitas mereka. Sungai menjadi jalur perjalanan, hutan menjadi sumber kehidupan, sementara cerita tentang leluhur diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun semuanya perlahan berubah. Sungai yang dahulu menjadi nadi kehidupan berganti menjadi parit-parit perkebunan sawit. Hutan yang menyimpan berbagai pengetahuan lokal berubah menjadi hamparan tanaman yang seragam. Perubahan itu tidak hanya mengubah pemandangan, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang kampung mereka sendiri.
Di tengah perubahan tersebut, muncul sosok Briting. Ia bukan pemimpin perlawanan, bukan pula tokoh yang berteriak lantang menuntut keadilan. Ia hanya seorang pencerita. Dari warung kopi ke warung kopi lain, ia terus mengulang kisah yang sama tentang sungai, hutan, dan nenek moyang.
Sekilas, tindakan Briting tampak sederhana. Namun justru di situlah letak kekuatan tokoh ini. Ketika banyak orang mulai melupakan masa lalu, ia memilih menjadi penjaga ingatan.
Melalui Briting, Raudal menunjukkan bahwa kehilangan terbesar tidak selalu berbentuk tanah atau harta benda. Ada kalanya yang hilang adalah memori kolektif sebuah masyarakat. Ketika generasi muda tak lagi mengenal sungai yang pernah menghidupi leluhurnya, maka perlahan sejarah kampung itu ikut memudar.
Dalam Teori Pengkajian Fiksi, Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa karya sastra lahir dari penghayatan pengarang terhadap berbagai persoalan kehidupan manusia. Karena itu, meskipun berbentuk fiksi, karya sastra sering kali menghadirkan kenyataan yang terasa dekat dengan kehidupan pembacanya.
Pandangan tersebut tampak jelas dalam cerpen ini. Konflik yang dialami masyarakat Talang Mamak bukanlah persoalan yang asing. Di berbagai daerah Indonesia, masyarakat adat masih menghadapi tantangan yang serupa, mulai dari menyempitnya ruang hidup hingga hilangnya akses terhadap wilayah yang selama ini menjadi bagian dari identitas mereka.
Yang menarik, Raudal tidak menempatkan masyarakat adat hanya sebagai pihak yang pasrah menerima keadaan. Mereka tetap berusaha mempertahankan apa yang tersisa.
Hal itu terlihat ketika Briting berkata:
"Kita masih punya Rimba Payokumbuh, bukan? Banyak bibit pohon langka di sana. Bawa dan tanamlah sepanjang parit."
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa harapan masih ada. Menanam pohon dalam cerpen ini bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi juga usaha mempertahankan ingatan. Pohon-pohon itu menjadi simbol bahwa hubungan manusia dengan alam belum sepenuhnya terputus.
Cerpen ini juga mengajak pembaca melihat lingkungan dari sudut pandang yang berbeda. Hutan yang hilang bukan hanya berarti berkurangnya pepohonan. Bersamaan dengan itu hilang pula cerita rakyat, pengetahuan lokal, tradisi, dan berbagai pengalaman yang selama ini membentuk identitas suatu komunitas.
Karena itu, parit sawit dalam cerpen ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar saluran air. Bagi Briting, parit adalah jejak sungai yang pernah ada. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan sering kali meninggalkan konsekuensi yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga kultural.
Menjelang akhir cerita, pembaca dihadapkan pada pertanyaan yang mengusik. Ketika sebagian warga mengambil buah sawit dari lahan yang dahulu mereka yakini sebagai milik leluhur mereka, siapa sebenarnya yang layak disebut perampok?
Raudal tidak memberikan jawaban pasti. Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung di benak pembaca. Cara tersebut membuat cerpen ini terasa kuat karena tidak menggurui, tetapi mengajak pembaca berpikir dan menilai sendiri.
Pada akhirnya, Berlayar di Parit Sawit bukan hanya cerita tentang sawit, sungai, atau hutan. Cerpen ini adalah cerita tentang manusia yang berusaha mempertahankan ingatan di tengah perubahan yang terus berlangsung.
Sebab ketika sebuah kampung kehilangan sungainya, mungkin yang paling sulit dicari kembali bukanlah air yang mengalir di sana, melainkan kenangan yang ikut hanyut bersamanya.
Daftar Pustaka
Banua, Raudal Tanjung. 2026. "Berlayar di Parit Sawit." Kompas, 4 April 2026.
Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Edisi Revisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
