Konten dari Pengguna

Taksi Green SM: Strategi Ekspansi Global Vietnam dalam Mobilitas Berkelanjutan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anisa Devandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/wal_172619-12138562/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=7856666">wal_172619</a> dari <a href="https://pixabay.com/id//?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=7856666">Pixabay</a>
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/wal_172619-12138562/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=7856666">wal_172619</a> dari <a href="https://pixabay.com/id//?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=7856666">Pixabay</a>

Pada Oktober 2026, perusahaan mobilitas asal Vietnam, Taksi Green SM, memasuki pasar Los Angeles, Amerika Serikat. Langkah ini menjadi strategi penting karena memperluas jangkauan bisnis transportasi listriknya ke Amerika Utara. Perusahaan tersebut memulai operasinya pada 13 Oktober dengan armada kendaraan listrik VinFast dan model layanan yang mengandalkan pengelolaan kendaraan serta pengemudi secara langsung. Kehadiran Taksi Green SM dalam skala global ini bukan sekadar penambahan pemain dalam industri transportasi, melainkan gambaran tentang bagaimana perusahaan dari negara berkembang berusaha memperluas pengaruh ekonomi di pasar global.

Dalam perspektif Hubungan Internasional, ekspansi Green SM menarik karena menunjukkan bahwa persaingan global tidak hanya ditentukan oleh perusahaan teknologi dari Amerika Serikat, Eropa, atau Tiongkok. Perusahaan asal Vietnam juga berupaya membangun posisi di industri strategis melalui kombinasi inovasi, modal, dan agenda keberlanjutan. Namun, keberhasilan ekspansi ini tidak cukup diukur dari jumlah kendaraan listrik yang beroperasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah model bisnis tersebut mampu bertahan sekaligus memberikan manfaat lingkungan dan sosial yang nyata.

Green SM didirikan pada 2023 dan berkembang melalui ekosistem mobilitas listrik yang terhubung dengan VinFast, produsen kendaraan listrik Vietnam. Sebelum memasuki Amerika Serikat, perusahaan ini telah memperluas operasinya ke sejumlah negara di Asia dan Eropa. Ekspansi ke Los Angeles memperlihatkan strategi perusahaan untuk membawa model bisnis yang dikembangkan di pasar domestik menuju lingkungan persaingan yang berbeda.

Reuters melaporkan pada September 2026 bahwa Green SM merencanakan perluasan operasi internasional, termasuk ke Amerika Serikat dan sejumlah pasar Eropa. Laporan tersebut juga menyoroti hubungan bisnis Green SM dengan VinFast, yang memasok kendaraan bagi armadanya. Hubungan ini memberikan keuntungan strategis karena perusahaan mobilitas dapat menggunakan kendaraan dari ekosistem bisnis yang sama, sementara produsen kendaraan memperoleh saluran penggunaan produknya dalam skala komersial.

Strategi tersebut memperlihatkan bentuk integrasi bisnis lintas negara. Green SM tidak hanya menjual jasa transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari rantai bisnis kendaraan listrik, mulai dari produksi kendaraan hingga layanan mobilitas. Dalam konteks perusahaan multinasional atau multinational corporation (MNC), integrasi semacam ini dapat membantu perusahaan mengendalikan kualitas layanan, membangun identitas merek, dan memperluas pasar bagi produk yang terhubung dengan bisnis intinya.

Meski demikian, integrasi vertikal juga membawa risiko. Ketika perusahaan transportasi sangat bergantung pada satu produsen kendaraan, gangguan produksi, masalah kualitas, atau lemahnya penerimaan pasar terhadap merek kendaraan tersebut dapat memengaruhi keseluruhan operasi. Dengan kata lain, keunggulan ekosistem bisnis sekaligus dapat menjadi sumber kerentanan.

Los Angeles merupakan pasar yang menantang karena perusahaan harus bersaing dengan layanan transportasi berbasis aplikasi yang telah dikenal luas. Menurut Los Angeles Times, Green SM memulai operasinya dengan rencana armada sekitar 500 kendaraan listrik dan 500 pengemudi. Perusahaan juga membawa pendekatan ketenagakerjaan yang berbeda dari model pekerja independen yang banyak digunakan platform transportasi digital.

Pendekatan ini dapat menjadi pembeda. Status pengemudi sebagai pekerja perusahaan berpotensi memberikan kepastian kerja dan akses terhadap perlindungan ketenagakerjaan yang tidak selalu tersedia dalam model ekonomi gig. Jika diterapkan secara konsisten, pendekatan tersebut dapat membangun kepercayaan pengemudi sekaligus menjadi bagian dari keunggulan kompetitif perusahaan.

Akan tetapi, model armada yang dimiliki dan dikelola perusahaan membutuhkan modal besar. Biaya kendaraan, perawatan, asuransi, pengisian daya, dan pengelolaan tenaga kerja harus ditanggung dalam skala yang signifikan. Hal ini berbeda dari model platform yang sebagian besar mengandalkan kendaraan milik pengemudi.

Karena itu, Green SM harus membuktikan bahwa diferensiasi layanan dan komitmen terhadap kesejahteraan pengemudi mampu menghasilkan loyalitas pelanggan serta pendapatan yang cukup untuk menopang biaya operasional. Harga yang kompetitif saja tidak menjamin keberhasilan jika perusahaan harus terus mengeluarkan biaya besar untuk mempertahankan armadanya.

Ekspansi Green SM juga dapat dibaca sebagai bagian dari upaya perusahaan Vietnam untuk memperkuat posisi negaranya dalam ekonomi global. Kehadiran merek Vietnam di pasar Amerika Serikat memperluas visibilitas industri nasional dan memperlihatkan ambisi untuk tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga sumber perusahaan yang mampu membangun merek internasional.

Dalam konteks ini, perusahaan multinasional dapat berperan sebagai aktor ekonomi yang membawa kemampuan teknologi, model bisnis, dan reputasi negara asal ke pasar luar negeri. Meski ekspansi perusahaan tidak otomatis mencerminkan kebijakan resmi pemerintah, keberhasilannya dapat memperkuat citra Vietnam sebagai salah satu pemain yang berusaha mengambil peluang dari transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Mobilitas listrik juga memiliki relevansi strategis. International Energy Agency (IEA) menjelaskan bahwa kendaraan listrik dapat mengurangi emisi sepanjang siklus hidup dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil, meskipun besarnya manfaat bergantung pada proses produksi kendaraan, baterai, dan sumber listrik yang digunakan. Dengan demikian, transportasi listrik dapat menjadi peluang ekonomi sekaligus instrumen untuk mendukung pengurangan emisi.

Namun, penting untuk tidak menyamakan kendaraan tanpa emisi knalpot dengan keseluruhan sistem transportasi yang sepenuhnya bebas emisi. Produksi baterai membutuhkan bahan baku dan energi, sementara pembangkitan listrik juga dapat menghasilkan emisi. Klaim keberlanjutan harus didukung oleh perhitungan yang transparan, bukan hanya oleh penggunaan kendaraan listrik.

Bagi Green SM, tantangan terbesar justru dimulai setelah ekspansi diumumkan. Perusahaan perlu menunjukkan bahwa layanannya mampu mengurangi emisi secara nyata, menjaga kualitas kerja pengemudi, dan menawarkan transportasi yang dapat diandalkan. Pemerintah daerah dan masyarakat juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai pengelolaan baterai, sumber listrik, keselamatan, serta dampak operasional perusahaan.

Selain itu, kendaraan listrik tidak otomatis menyelesaikan persoalan kemacetan. Jika layanan berbasis aplikasi hanya menambah perjalanan kendaraan tanpa mengurangi penggunaan mobil pribadi, manfaatnya terhadap sistem transportasi perkotaan bisa lebih terbatas. Oleh sebab itu, mobilitas listrik sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi transportasi yang lebih luas, termasuk penguatan angkutan umum, infrastruktur pengisian daya, dan perencanaan kota.

Ekspansi Green SM ke Los Angeles pada akhirnya memperlihatkan peluang sekaligus batas dari strategi perusahaan multinasional di era transisi hijau. Perusahaan asal Vietnam memiliki kesempatan membangun posisi global dengan memadukan teknologi kendaraan listrik dan layanan transportasi. Namun, ambisi internasional tidak dapat menggantikan kebutuhan akan kinerja bisnis yang sehat dan tanggung jawab lingkungan yang terukur.

Jika Green SM mampu memenuhi dua hal tersebut, ekspansinya berpotensi menjadi contoh bagaimana perusahaan dari negara berkembang dapat berkompetisi dalam industri masa depan. Sebaliknya, jika keberlanjutan hanya menjadi identitas pemasaran tanpa hasil yang dapat diverifikasi, ekspansi ini berisiko menjadi pertumbuhan bisnis biasa yang dibungkus dengan narasi hijau.

Ukuran keberhasilan Green SM bukan semata-mata seberapa jauh kendaraan Vietnam melaju di jalanan Amerika, melainkan seberapa besar perusahaan mampu membuktikan bahwa pertumbuhan lintas negara dapat berjalan seiring dengan manfaat sosial, ketahanan bisnis, dan pengurangan dampak lingkungan.