Konten dari Pengguna

Apakah Komunikasi Nonverbal Hanya Untuk Orang-Orang Yang Berkebutuhan Khusus?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Devi Kartika Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar bahasa isyarat sumber foto : shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar bahasa isyarat sumber foto : shutterstock.com

Seperti yang kita ketahui, komunikasi adalah fondasi utama dalam berinteraksi antar sesama manusia. Meskipun banyak yang berpikir bahwa komunikasi nonverbal adalah komunikasi utama dalam kehidupan, sebenarnya komunikasi nonverbal juga memiliki porsi besar dalam menyampaikan dan menerima sebuah pesan. Beberapa kalangan awam menganggap komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang digunakan hanya untuk individu berkebutuhan khusus, seperti autisme, penyandang gangguan bicara, atau tunarungu. Namun, apakah komunikasi nonverbal hanya relevan bagi kelompok tersebut? Jawabannya Tidak. Komunikasi nonverbal tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seseorang, baik yang memiliki kebutuhan khusus maupun tidak. Komunikasi nonverbal adalah komponen universal dalam komunikasi manusia. Komunikasi nonverbal bukan hanya untuk orang- orang berkebutuhan khusus, melainkan merupakan komponen penting dalam interaksi manusia secara umum. Alih- alih melihat komunikasi nonverbal hanya untuk sebagian kecil orang. Kita perlu menyadari bahwa komunikasi nonverbal digunakan dan dibutuhkan oleh semua individu. Karena sering kali, apa yang tidak dikatakan justru lebih kuat maknanya dibandingkan apa yang dikatakan.

Apa sih komunikasi nonverbal itu? Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang disampaikan tidak menggunakan kata- kata, seperti ekspresi wajah tersenyum, gerakan tubuh, bahasa tubuh, kontak mata, intonasi suara, dan masih banyak bentuk komunikasi nonverbal lainnya yang ada dalam kehidupan manusia. Komunikasi ini bisa terjadi secara sadar maupun tidak sadar, dan seringkali makna yang ada lebih dalam dibandingkan kata- kata itu sendiri. Bagi individu berkebutuhan khusus, komunikasi nonverbal berperan penting, terutama sebagai pengganti komunikasi verbal agar komunikasi berjalan baik atau efektif. Begitu pentingnya komunikasi nonverbal bagi semua individu, baik individu berkebutuhan khusus maupun tidak, karena dengan menambahkan komunikasi nonverbal, komunikasi akan jauh lebih bermakna.

Menurut Birdwhistell( 1970), hanya sekitar 35 dari komunikasi antarpribadi disampaikan melalui kata- kata, sedangkan 65 sisanya dikomunikasikan secara nonverbal melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh, nada suara, dan elemen lainnya. Ini menunjukkan bahwa komunikasi nonverbal sangat penting bagi semua orang, bukan hanya bagi mereka yang memiliki keterbatasan verbal. Dalam konteks komunikasi verbal dan kebutuhan khusus untuk penyandang disabilitas, terutama bagi mereka yang memiliki hambatan dalam komunikasi verbal, komunikasi verbal dijadikan komunikasi utama untuk menyampaikan pesan.

Salah satu pendekatan populer adalah PECS( Picture Exchange Communication System), yang banyak digunakan pada anak- anak dengan autisme untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dasar( Bondy & Frost, 1994).

Studi oleh Ganz et al ( 2012) menunjukkan bahwa penggunaan komunikasi augmentatif dan alternatif( AAC), seperti gambar, simbol, atau isyarat, dapat meningkatkan frekuensi komunikasi dan memperbaiki interaksi sosial anak- anak dengan autisme.

Begitu pula, bahasa isyarat menjadi alat vital bagi komunitas tunarungu dalam membangun komunikasi setara dan efektif( Lucas & Valli, 1992).

Menurut Mehrabian( 1971), dalam situasi komunikasi emosional, 93 dari makna pesan ditentukan oleh isyarat nonverbal dari ekspresi wajah dan gerak tubuh, 38 dari nada suara, dan hanya 7 dari kata- kata itu sendiri.

Dalam konteks profesional, Knapp & Hall( 2010) menekankan pentingnya komunikasi verbal dalam wawancara kerja, presentasi bisnis, dan kepemimpinan. Bahasa tubuh, kontak mata, dan ekspresi wajah memainkan peran penting dalam membentuk persepsi audiens.

Dalam penelitian oleh Burgoon, Guerrero, dan Floyd( 2016), ditemukan bahwa pegawai dengan kemampuan komunikasi verbal yang baik lebih efektif dalam membangun hubungan interpersonal dan menyampaikan maksud secara persuasif.

Contoh kasus terjadi pada seorang manajer pemasaran yang berhasil meningkatkan tingkat keberhasilan presentasinya melalui pelatihan ekspresi wajah dan penggunaan gestur tangan. Di dunia pendidikan, practitioner yang mampu mengatur kontak mata, postur tubuh, dan intonasi suara terbukti lebih mampu mengendalikan kelas dan menarik perhatian siswa( Marzano, 2003).

Kesimpulan

Komunikasi nonverbal bukan dikhususkan untuk individu berkebutuhan khusus. Justru ia merupakan komunikasi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia, baik kehidupan sehari- hari, interaksi profesional, maupun dalam konteks pendidikan dan kesehatan. Pemahaman yang lebih luas tentang komunikasi nonverbal dapat meningkatkan efektivitas komunikasi, memperdalam empati sosial, serta membangun pengertian yang lebih kuat terlepas dari adanya hambatan verbal atau tidak.

Daftar Pustaka

Birdwhistell, R. L.( 1970). Kinesics and Context Essays on Body stir Communication. University of Pennsylvania Press.

Bondy, A., & Frost, L.( 1994). The Picture Exchang

e Communication System. Focus on Autistic geste, 9( 3), 1 – 19.

Ganz, J. B., Earles- Vollrath, T. L., Heath, A. K., Parker, R. I., Rispoli, M. J., & Duran, J. B. 2012). A meta- analysis of single- case exploration on backed AAC interventions for individualities with autism diapason diseases. Journal of Autism and Developmental diseases, 42( 1), 60 – 74.

Knapp, M. L., & Hall, J. A.( 2010). Nonverbal Communication in Human Interaction( 7th ed.). Cengage Learning.

Lucas, C., & Valli, C.( 1992). Language Contact in the American Deaf Community. Academic Press.

Mehrabian, A.( 1971). Silent dispatches. Wadsworth.

Marzano, R. J.( 2003). Classroom Management That Works. ASCD.

Burgoon, J. K., Guerrero, L. K., & Floyd, K.( 2016). Nonverbal Communication. Routledge.