Konten dari Pengguna

Luka yang Tidak Benar-Benar Hilang: Sejarah yang Terus Dibungkam

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Deviana Puspitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://images.pexels.com/photos/19208445/pexels-photo-19208445.jpeg ilusi buku sejarah 65
zoom-in-whitePerbesar
https://images.pexels.com/photos/19208445/pexels-photo-19208445.jpeg ilusi buku sejarah 65

Sejarah Indonesia yang saat ini atau yang sudah kalian pelajari di sekolah ternyata tidak semuanya benar, karena sistem yang disajikan dalam sejarah di sekolah hanya melihat dari pandangan tunggal tanpa melihat orang yang benar-benar menderita pada saat itu. Mungkin kita pernah bertanya-tanya mengapa sistem kapilitasme masih berlaku pada masa yang dibilang modern ini seharusnya masa modern itu sudah lepas dari sistem kapilitasme. Ternyata banyak dari kita yang tertipu oleh sejarah yang di buat oleh bangsa ini, walau begitu ternyata trauma dan luka kolektif yang di rasa kan oleh banyak orang pada masa itu tidak pernah benar-benar lenyap hanya karena dibungkam dari kurikulum resmi. Ia tetap bersemayam dalam ingatan mereka yang tersingkirkan.

mungkin bagi kalian pencinta sejarah tidak asing dengan novel pulang karya Leila S. Chudori, dalam novel ini pembaca diajak menembus dinding pembungkaman tersebut. Novel ini membingkai tragedi politik Indonesia bukan sekadar sebagai deretan angka dalam lembar dokumen sejarah, melainkan sebagai tragedi kemanusiaan yang nyata dan personal.

"Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998."

Mungkin kisah ini tidak dapat kita temukan, Melalui sosok Dimas Suryo, seorang wartawan yang terdampar di Paris tanpa kewarganegaraan akibat peristiwa 1965, terlihat betapa dahsyatnya dampak keputusan politik terhadap kehidupan seseorang. Pencabutan paspor dan penolakan hak menjadi salah satu gambaran bagai mana keadaan Indonesia pada saat itu di mana rakyat yang di tuduh sebagai PKI kebingungan ingin tanggal di mana karena sebagai statusnya ingin yang menjadi buronan pada masa itu dan di satu isi iya masih cinta terhadap tanah airnya.

Di tengah dinginnya kota Paris, ingatan Dimas tetap tertuju pada aroma sate kambing Pak Heri dan siulan gerobak kue putu di gang-gang Jakarta. Ia dipaksa hidup sebagai eksil terasing di negeri orang dan dicap cela di negeri sendiri.

Dua puluh tiga tahun kemudian, benang merah itu dilanjutkan oleh anaknya, Lintang Utara. Perjalanan Lintang ke Jakarta pada Mei 1998 untuk menyusun tugas akhir justru membawanya menyaksikan langsung peristiwa runtuhnya rezim Orde Baru. Di sinilah dua generasi bertaut: luka pengasingan tahun 1965 bertemu dengan gejolak perjuangan mahasiswa tahun 1998 yang menuntut keterbukaan.

Refleksi dalam Pulang memberikan cermin bagi kondisi hari ini. Kebiasaan untuk mengabaikan sisi kelam demi menjaga citra sering kali berulang, baik dalam narasi sejarah maupun dalam penanganan berbagai krisis sosial dan lingkungan di daerah. Ketika suara rakyat kecil terpinggirkan dari narasi utama, sastra mengambil peran penting untuk menyuarakan apa yang selama ini disembunyikan.

Menatap masa lalu secara jujur memang tidak pernah mudah. Namun, membaca karya seperti Pulang mengingatkan bahwa memulihkan luka bangsa tidak bisa dilakukan dengan berpura-pura bahwa keretakan itu tidak pernah ada. Hanya dengan berani mendengarkan kisah mereka yang sempat dibungkam, sebuah bangsa dapat benar-benar belajar dan bertumbuh.