Konten dari Pengguna

Healing atau Hanya Ingin Terlihat Baik-Baik Saja?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari devira kikara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi yang menggambarkan kontras antara kebahagiaan yang ditampilkan di media sosial dan perasaan yang mungkin dirasakan seseorang di balik layar. (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi yang menggambarkan kontras antara kebahagiaan yang ditampilkan di media sosial dan perasaan yang mungkin dirasakan seseorang di balik layar. (Sumber: Ilustrasi AI)

Ketika Istirahat Berubah Menjadi Konten dan Validasi di Era Media Sosial

"Healing dulu ya."

Ungkapan itu kini begitu akrab di media sosial. Akhir pekan di kafe, perjalanan singkat ke pantai, atau sekadar menikmati secangkir kopi sering kali diberi label healing. Bahkan, rasanya ada dorongan untuk membagikan momen tersebut agar orang lain tahu bahwa kita sedang beristirahat.

Fenomena ini membuat saya bertanya-tanya: apakah kita benar-benar sedang mencari ketenangan, atau sebenarnya kita ingin menunjukkan bahwa hidup kita juga baik-baik saja?

Menurut saya, yang berubah bukan hanya cara kita beristirahat, tetapi juga makna di balik kata healing. Di era media sosial, healing tidak lagi sekadar proses memulihkan diri, melainkan perlahan menjadi simbol gaya hidup dan cara memperoleh pengakuan sosial.

Dari Proses Pemulihan Menjadi Simbol Gaya Hidup

Pada dasarnya, healing berarti proses memulihkan kondisi emosional maupun mental setelah menghadapi tekanan. Bentuknya bisa sangat sederhana: tidur yang cukup, berbincang dengan keluarga, membaca buku, atau berjalan santai di sekitar rumah.

Namun, media sosial menghadirkan gambaran yang berbeda. Kata healing kini lebih sering dikaitkan dengan perjalanan wisata, penginapan estetik, kopi di pegunungan, atau pemandangan matahari terbenam.

Tanpa disadari, makna healing bergeser. Yang semula merupakan proses pribadi kini menjadi sesuatu yang identik dengan visual dan layak dibagikan.

Ketika Media Sosial Mengubah Cara Kita Memaknai Istirahat

Media sosial tidak hanya menjadi tempat berbagi pengalaman, tetapi juga ruang yang membentuk standar baru mengenai bagaimana seseorang "seharusnya" beristirahat.

Linimasa dipenuhi foto-foto liburan, video perjalanan, dan unggahan bertagar #healing. Lambat laun, muncul kesan bahwa istirahat yang bermakna adalah istirahat yang menarik untuk dilihat orang lain.

Padahal, setiap orang memiliki kebutuhan pemulihan yang berbeda. Tidak semua bentuk istirahat harus mahal, jauh, atau estetis agar memberikan manfaat bagi kesehatan mental.

Yang Dicari Bukan Sekadar Healing, tetapi Validasi

Di sinilah letak persoalan yang menurut saya menarik.

Tidak semua orang mengunggah karena mereka benar-benar merasa bahagia. Terkadang, unggahan itu menjadi cara untuk menunjukkan bahwa mereka juga memiliki kehidupan yang menyenangkan.

Dalam psikologi sosial, manusia memang memiliki kebutuhan untuk diterima dan diakui oleh kelompoknya. Media sosial memperbesar kebutuhan tersebut melalui jumlah suka, komentar, dan berbagai bentuk respons lainnya.

Akibatnya, healing tidak lagi hanya menjadi kebutuhan pribadi, tetapi juga menjadi simbol bahwa seseorang memiliki kehidupan yang "seimbang" dan layak diapresiasi.

Ketika Algoritma Ikut Menentukan Makna Healing

Algoritma media sosial bekerja dengan memperlihatkan konten yang paling banyak menarik perhatian.

Semakin sering konten bertema healing muncul di linimasa, semakin kuat pula persepsi bahwa itulah bentuk istirahat yang ideal. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan cara beristirahat kita dengan orang lain.

Di titik ini, media sosial tidak lagi sekadar mencerminkan realitas, tetapi juga ikut membentuk standar baru mengenai kebahagiaan dan ketenangan.

Healing Tidak Selalu Harus Dipertontonkan

Menurut saya, inilah yang perlu kita renungkan.

Istirahat seharusnya membantu seseorang merasa lebih tenang, bukan justru menambah tekanan karena merasa harus mengikuti standar yang beredar di media sosial.

Tidak ada yang salah dengan membagikan momen liburan atau perjalanan. Namun, ketenangan sejati tidak selalu membutuhkan kamera, unggahan, atau pengakuan dari orang lain.

Kadang-kadang, bentuk healing yang paling bermakna justru terjadi ketika tidak ada siapa pun yang mengetahuinya.

Barangkali yang melelahkan bukan hanya pekerjaan atau rutinitas kita.

Yang lebih melelahkan adalah dorongan untuk terus terlihat baik-baik saja.

Ketika healing berubah menjadi sesuatu yang harus dipamerkan, kita berisiko melupakan tujuan utamanya, yaitu memberi ruang bagi diri sendiri untuk benar-benar pulih.

Mungkin, sesekali kita perlu berhenti bertanya, "Apakah momen ini layak diunggah?" dan mulai bertanya, "Apakah momen ini benar-benar membuatku merasa lebih baik?"

Sebab, pada akhirnya, ketenangan bukanlah sesuatu yang harus dibuktikan kepada orang lain. Ia cukup dirasakan oleh diri sendiri.