Konten dari Pengguna

Ketika Hidup Biasa Terasa Tidak Lagi Cukup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari devira kikara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi konseptual yang menggambarkan kontras antara kehidupan sehari-hari yang sederhana dengan tekanan untuk selalu terlihat produktif, bahagia, dan memiliki pencapaian di era media sosial. (Sumber: Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi konseptual yang menggambarkan kontras antara kehidupan sehari-hari yang sederhana dengan tekanan untuk selalu terlihat produktif, bahagia, dan memiliki pencapaian di era media sosial. (Sumber: Ilustrasi AI)

Mengapa Kita Mulai Sulit Menikmati Kehidupan yang Sederhana?

Kapan terakhir kali kamu menghabiskan akhir pekan tanpa merasa bersalah?

Bukan pergi ke mana-mana. Bukan mencoba kafe yang sedang viral. Bukan mengejar diskon tiket konser atau membuat daftar tempat yang harus dikunjungi. Hanya tinggal di rumah, tidur lebih lama, membantu orang tua, menonton film, lalu mengakhiri hari tanpa cerita yang "wah".

Kalau dipikir-pikir, tidak ada yang salah dengan itu.

Namun entah sejak kapan, hidup yang berjalan biasa saja mulai terasa seolah-olah belum cukup.

Bukan karena kita benar-benar tidak bahagia, melainkan karena tanpa sadar kita mulai percaya bahwa hidup yang baik seharusnya selalu terlihat menarik.

Hidup yang Baik Harus Selalu Terlihat Sibuk?

Saya mulai menyadari perubahan itu ketika membuka media sosial.

Hampir setiap hari ada saja kabar yang lewat: teman yang membeli kendaraan baru, kenalan yang sedang berlibur, seseorang yang berhasil menyelesaikan maraton pertamanya, atau unggahan tentang rutinitas pagi yang tampak begitu produktif.

Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Yang menarik justru apa yang terjadi setelahnya.

Tanpa sadar saya mulai bertanya kepada diri sendiri.

"Hari ini aku ngapain, ya?"

Padahal, sebelumnya pertanyaan seperti itu tidak pernah terasa penting.

Yang Berubah Bukan Hidup Kita, tetapi Cara Kita Mengukurnya

Menurut saya, persoalannya bukan karena hidup kita tiba-tiba menjadi kurang menarik.

Yang berubah adalah ukuran yang kita gunakan untuk menilai hidup.

Dulu, akhir pekan dianggap berhasil ketika tubuh terasa lebih segar pada hari Senin.

Sekarang, akhir pekan sering kali terasa berhasil ketika ada cerita yang bisa dibagikan.

Dulu, membaca buku adalah cara menikmati waktu luang.

Sekarang, buku yang selesai dibaca sering kali ikut difoto.

Dulu, olahraga dilakukan agar tubuh lebih sehat.

Sekarang, rasanya ada dorongan untuk membagikan hasilnya.

Semuanya tidak salah.

Namun perlahan, pengalaman mulai dinilai bukan hanya dari apa yang kita rasakan, tetapi juga dari bagaimana pengalaman itu terlihat.

Kita Terlalu Sering Melihat Panggung Orang Lain

Menurut laporan Digital 2025 Indonesia dari We Are Social dan Meltwater, masyarakat Indonesia menghabiskan berjam-jam setiap hari di internet, dengan media sosial menjadi salah satu aktivitas utama. Dalam waktu sesingkat itu, kita bisa melihat puluhan bahkan ratusan potongan kehidupan orang lain.

Masalahnya, yang kita lihat hampir selalu adalah bagian terbaiknya.

Jarang ada yang mengunggah hari ketika mereka merasa gagal, bosan, atau hanya rebahan seharian tanpa melakukan apa pun.

Ironisnya, kita tidak benar-benar membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

Kita membandingkan seluruh hidup kita dengan potongan hidup yang mereka pilih untuk ditunjukkan.

Dan mungkin, di situlah rasa "kurang" itu mulai tumbuh.

Hidup Tidak Selalu Harus Menjadi Cerita

Semakin saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa sebagian besar hidup memang terdiri dari hal-hal yang biasa.

Mengobrol dengan keluarga.

Membeli makan malam di warung langganan.

Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Tidur lebih awal.

Berjalan kaki tanpa tujuan.

Tidak ada yang spektakuler.

Namun justru momen-momen seperti itulah yang diam-diam membuat hidup berjalan.

Kalau setiap hari harus luar biasa, mungkin kita akan kelelahan sebelum sempat menikmatinya.

Barangkali kita tidak sedang kehilangan rasa syukur.

Kita hanya terlalu sering melihat kehidupan dari jendela orang lain.

Akibatnya, kehidupan yang sebenarnya sudah cukup terasa selalu kurang.

Mungkin kita memang tidak membutuhkan hidup yang lebih menarik.

Mungkin yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk kembali menikmati hidup tanpa merasa harus membuktikannya kepada siapa pun.

Karena pada akhirnya, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang selalu memiliki cerita untuk dibagikan.

Melainkan kehidupan yang tetap terasa bermakna, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.