Konten dari Pengguna

Ketika Istrahat Dianggap Malas: Mengapa Kita Sulit Memberi Waktu Diri Sendiri?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dewi Verawati Tambunan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, saat sedang tidak melakukan apa-apa, kita malah merasa bersalah? Padahal sebelumnya sudah menjalani berbagai aktivitas, tetap ketika memilih untuk rebahan sebentar, muncul pikiran seperti, "Harusnya gue melakukan sesuatu".

Di zaman sekarang, kita sering melihat orang-orang berlomba untuk menjadi produktif. Ada yang sibuk kuliah, berkerja, mengikuti kegiatan, atau bahkan membuat jadwal agar setiap waktunya tidak terbuang sia-sia. Tanpa sadar, kesibukan tersebut membuat kita menganggap bahwa diam atau beristrahat berarti sedang malas.

Padahal, tidak semua waktu harus diisi dengan aktivitas. Ada kalanya tubuh dan pikiran memang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Istirahat bukan berati seseorang tidak memiliki tujuan atau tidak mau berusaha. Justru, memberikan waktu untuk diri sendiri juga merupakan bagian dari menjaga keseimbangan dalam menjalanin aktivitas sehari-hari.

Ketika Produktif Menjadi Sebuah Keharusan

Sekarang ini, kata "produktif" sering sekali kita dengar. Seolah-olah setiap hari harus ada sesuatu yang dikerjakan agar hari tersebut dianggap berguna. Melihat orang lain yang terlihat sibuk juga terkadang membuat kita merasa tertinggal.

Dan media sosial ikut membuat hal ini semakin terasa. Kita bisa melihat orang lain belajar, belajar, berolahraga, mengikuti kegiatan, atau mencapai sesuatu. Akhirnya, tanpa sadar kita membandingkan diri dengan mereka. Ketika sedang beristrahat, muncul perasaan bahwa kita sedang membuang waktu.

Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik kehidupan orang lain yang terlihat produktif tersebut. Setiap orang memiliki kesibukan dan batas tenaga yang berbeda. Jadi, rasanya kurang tepat jika produktivitas seseorang hanya dilihat dari seberapa banyak kegiatan yang bisa dilakukan dalam satu hari.

Istrahat Bukan Berarti Malas

Menurut saya, istirahat sering kali disalahartikan sebagai kemalasan. Ketika seseorang memilih untuk tidur lebih awal, menonton sesuatu, mendengarkan musik, atau sekadar duduk tanpa melakukan perkerjaan, belum tentu orang tersebut malas.

Hal ini juga didukung oleh penelitian tentang micro-breaks. Sebuah tinjauan dan meta-analis yang menggabungkan 19 penelitian dengan lebih dari 2.300 partisipan menemukan bahwa jeda singkat dapat memberikan efek positif terhadap rasa bugar dan membantu mengurangi kelelahan, meskipun pengaruhnya terhadap performa secara keselurahan tidak selalu besar.

Artinya, mengambil jeda bukan berarti kita berhenti berusaha. Justru, ada kondisi ketika tubuh dan pikiran memang membutuhkan waktu untuk berhenti sebentar waktu berhenti sebentar sebelum kembali melakukan aktivitas.

Kalau Terus Memaksakan Diri

Masalahnya bukan ketika seseorang beristirahat, tetap ketika kita merasa harus terus melakukan sesuatu meskipun sudah lelah. Kelelahan dapat memengaruhi perhatian, konsentrasi, daya ingat jangka pendek, bahkan kemampuan mengambil keputusan. Hal tersebut juga dijelaskan oleh CDC melalui National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH).

Dalam kondisi tertentu, terus memaksakan diri juga dapat membuat kita semakin jauh dari tujuan awal. Kita memang terlihat sibuk, tetapi belum tentu perkerjaan yang dilakukan menjadi lebih baik.

WHO sendiri menjelaskan bahwa burnout berkaitan dengan stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola dan dapat ditandai dengan kelelahan serta menurunya efektivitas. Walaupun isitilah burnout dari WHO digunakan khusus dalam konteks pekerjaan, hal ini tetap menunjukkan bahwa kelelahan yang terus dibiarkan bukan sesuatu yang sebaiknya dianggap sepele.

Belajar Memberi Waktu Untuk Diri Sendiri

Menurut saya, yang paling penting bukan seberapa lama kita beristrahat, tetapi bagaimana kita mengatur waktu antara tanggung jawab dan waktu untuk diri sendiri. Istrahat tentu tidak berarti mengabaikan tugas atau kewajiban yang harus dilakukan.

Kita tetap perlu menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Namun, setelah itu tidak ada salahnya memberikan sedikit waktu untuk melakukan hal yang kita sukai atau sekedar beristirahat.

Tidak semua waktu kosong harus diisi dengan sesuatu. Terkadang, tidak melakukan apa-apa selama beberapa saat juga diperlukan. Kita tidak harus selalu merasa bersalah hanya karena sedang beristirahat.

Pada akhirnya, menjadi produktif memang penting, tetapi beristirahat juga tidak kalah penting. Kita bukan mesin yang harus terus bekerja tanpa berhenti. Ada waktunya kita bergerak, ada waktunya kita berhenti, dan keduanya sama-sama memiliki manfaat.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap bahwa setiap waktu yang digunakan untuk beristirahat adalah waktu yang terbuang. Karena terkadang, memberikan waktu untuk diri sendiri bukan tanda bahwa kita malas, tetapi tanda bahwa kita tahu kapan harus berhenti dan menjaga diri sebelum kembali melangkah.

Referensi

Albulescu, P., et al. (2022). “Give me a break!” A systematic review and meta-analysis on the efficacy of micro-breaks for increasing well-being and performance. PLOS ONE.

World Health Organization. (2019). Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC/NIOSH). (2026). Fatigue and Work.

Kredit: Gambar dibuat dengan bantuan AI