Konten dari Pengguna

Banjir Informasi & Miskin Kontrol Diri: Dilema Gen Z Masa Kini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dhesta Andy Sugara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu mendapati diri terus-menerus scrolling layar ponsel hingga pukul dua pagi, padahal esok hari ada jadwal kuliah atau pekerjaan penting yang menuntut fokus penuh? Atau mungkin, secara sadar kamu tahu bahwa menghabiskan uang untuk hal-hal impulsif akan menguras dompet di pertengahan bulan, tetapi jari ini tetap saja menekan tombol checkout.

Fenomena semacam ini bukanlah hal baru di kalangan Gen Z. Ironisnya, kita hidup di era di mana nasihat tentang manajemen waktu, literasi keuangan, hingga kesehatan mental bisa diakses dengan sangat mudah hanya dalam hitungan detik lewat berbagai platform digital.

seseorang menatap layar ponsel di dalam kamar yang gelap gulita pada malam hari, merepresentasikan kebiasaan overstimulated dan doomscrolling. Sumber : Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
seseorang menatap layar ponsel di dalam kamar yang gelap gulita pada malam hari, merepresentasikan kebiasaan overstimulated dan doomscrolling. Sumber : Gemini AI

Namun, di sinilah paradoks terbesarnya muncul. Alih-alih membuat hidup lebih teratur, gempuran informasi dan edukasi yang melimpah ini justru sering kali berujung pada apa yang disebut sebagai information overload. Otak kita dipaksa memproses ribuan stimulus setiap harinya, mulai dari berita global hingga konten-konten media sosial tanpa henti.

Akibatnya, kemampuan kognitif kita mengalami kelelahan kronis atau decision fatigue. Rem mental yang bertugas mengontrol diri perlahan-lahan aus, membuat kita lebih rentan menyerah pada insting pencari kepuasan instan.

Ilustrasi visual minimalis yang menggambarkan gelombang informasi digital atau notifikasi bertumpuk di layar handphone. Sumber : Gemini AI

Secara psikologis, kondisi ini mencerminkan fenomena cognitive dissonance—sebuah jurang pemisah yang lebar antara apa yang kita yakini benar di dalam kepala dan apa yang benar-benar kita lakukan di dunia nyata. Kita sadar betul bahwa tindakan tersebut merugikan, namun dorongan dopamine loop dari aplikasi modern terlalu kuat untuk dilawan dengan sekadar "niat baik". Mengandalkan self-awareness saja ternyata tidak lagi cukup ketika sistem di sekitar kita dirancang untuk terus mendistraksi perhatian dan melemahkan daya tahan mental.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti menghakimi generasi muda sebagai kelompok yang sekadar "malas" atau "kurang disiplin". Krisis kontrol diri ini adalah masalah sistemik di era digital yang membutuhkan strategi baru yang lebih membumi, seperti menciptakan batasan fisik ketimbang terus-menerus menyiksa diri dengan rasa bersalah. Sebab pada akhirnya, di tengah dunia yang bergerak serba cepat ini, keberhasilan terbesar bukan lagi tentang seberapa banyak hal yang kita ketahui, melainkan seberapa mampu kita melindungi kewarasan dari diri kita sendiri.