Apakah Semua Anak Memulai Pendidikan dari Garis yang Sama?

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dian Nurul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan sering dianggap sebagai salah satu cara untuk mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Banyak orang tua berharap anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak agar kelak memiliki masa depan yang lebih cerah. Sekolah pun menjadi tempat yang diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk belajar dan mengembangkan kemampuan dirinya. Namun, jika kita melihat kehidupan sehari-hari, ternyata tidak semua anak memiliki pengalaman pendidikan yang sama, meskipun sama-sama duduk di bangku sekolah, kondisi yang mereka hadapi sebelum dan selama belajar bisa sangat berbeda.
Coba bayangkan dua anak yang mendapatkan tugas sekolah yang sama. Anak pertama memiliki laptop sendiri, jaringan internet lancar, dan orang tua yang bisa membantu ketika ia mengalami kesulitan, sementara itu, anak kedua harus bergantian menggunakan ponsel dengan anggota keluarganya dan terkadang kesulitan mendapatkan akses internet. Keduanya memang mendapatkan tugas yang sama, tetapi cara mereka menyelesaikannya tentu tidak semudah itu untuk disamakan.
Perbedaan seperti ini mungkin sering kita temui, tetapi terkadang luput dari perhatian. Ada anak yang bisa belajar dengan nyaman karena memiliki ruang belajar sendiri, buku yang lengkap, bahkan mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Namun, ada juga anak yang harus belajar di tengah kondisi rumah yang ramai atau menggunakan fasilitas seadanya. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan belajar tidak selalu hanya bergantung pada seberapa rajin seorang anak belajar, tetapi juga dipengaruhi oleh keadaan yang mendukungnya.
Masalahnya, sekolah seringkali memberikan tuntutan yang sama kepada semua siswa tanpa benar-benar melihat kondisi mereka. Misalnya, ketika guru memberikan tugas yang membutuhkan akses internet, semua siswa diharapkan bisa mengerjakannya dengan baik. Padahal, tidak semua memiliki fasilitas yang memadai. Anak yang memiliki perangkat dan jaringan internet tentu bisa mengerjakan tugas dengan lebih mudah, sedangkan anak yang memiliki keterbatasan harus mencari cara lain sehingga pada akhirnya, mereka memang belajar di sekolah yang sama, tetapi tidak memulai dari kondisi yang sama.
Jika dilihat lebih jauh, perbedaan tersebut berkaitan erat dengan latar belakang sosial ekonomi keluarga. Kondisi ekonomi orang tua dapat mempengaruhi fasilitas belajar yang dimiliki anak, kesempatan mengikuti bimbingan belajar, hingga dukungan yang mereka dapatkan di rumah. Anak yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih baik mungkin memiliki lebih banyak pilihan untuk mengembangkan kemampuannya sementara itu, anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi terkadang harus menghadapi persoalan lain, seperti membantu pekerjaan orang tua atau membagi waktu antara belajar dan tanggung jawab di rumah.
Hal ini menarik jika dikaitkan dengan pemikiran Jean Anyon tentang hubungan antara kelas sosial dan pendidikan. Dalam penelitiannya yang terkenal, Anyon menemukan bahwa pengalaman belajar siswa dapat berbeda berdasarkan latar belakang kelas sosial di lingkungan sekolahnya. Ia melihat bahwa sekolah-sekolah dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berbeda juga memiliki cara pembelajaran, jenis tugas, dan tuntutan yang berbeda, dengan kata lain, pendidikan ternyata tidak sepenuhnya berjalan terpisah dari keadaan sosial masyarakat.
Pemikiran Anyon membuat kita melihat bahwa sekolah bukan sekedar tempat untuk menyampaikan materi pelajaran. Didalamnya, ada kondisi sosial yang ikut mempengaruhi bagaimana siswa belajar dan mendapatkan kesempatan. Jika dikaitkan dengan Indonesia, kita bisa melihatnya dari perbedaan fasilitas antarsekolah, kondisi keluarga siswa, hingga lingkungan tempat tinggal mereka. Memang, penelitian Anyon dilakukan di Amerika Serikat sehingga situasinya tidak bisa langsung disamakan dengan Indonesia. Namun, gagasannya tetap membantu kita memahami bahwa latar belakang sosial dapat ikut menentukan pengalaman seorang anak dalam memperoleh pendidikan.
Selain fasilitas belajar, kondisi ekonomi keluarga juga bisa mempengaruhi kesempatan anak untuk melanjutkan pendidikan. Bagi sebagian keluarga, biaya pendidikan bukan hanya soal membayar uang sekolah, ada biaya transportasi, buku, seragam, perlengkapan belajar, dan kebutuhan lainnya. Ketika kondisi ekonomi sedang sulit, kebutuhan tersebut bisa menjadi beban tersendiri. Bahkan, beberapa anak harus membantu orang tua atau melakukan pekerjaan tertentu sehingga waktu untuk belajar menjadi lebih terbatas. Situasi ini tentu berbeda dengan anak yang memiliki dukungan keluarga dan ekonomi lebih stabil.
Karena itu, rasanya kurang tepat jika keberhasilan siswa hanya dilihat dari nilai yang mereka peroleh, anak yang mendapatkan nilai tinggi belum tentu selalu memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dibandingkan teman yang nilainya lebih rendah. Bisa jadi, ia memiliki fasilitas dan dukungan belajar yang lebih lengkap. Begitu juga dengan siswa yang mengalami kesulitan memahami pelajaran. Bukan berarti mereka tidak mau berusaha, karena mungkin ada keadaan di luar sekolah yang membuat proses belajarnya menjadi lebih sulit.
Di sinilah pendidikan perlu melihat siswa bukan hanya dari hasil akhirnya, tetapi juga dari keadaan yang mereka hadapi. Sebab, jika semua anak terus-menerus dinilai dengan ukuran yang sama tanpa memperhatikan perbedaan kondisi mereka, ketimpangan yang sudah ada justru bisa semakin terasa. Anak yang sejak awal memiliki banyak dukungan akan lebih mudah memenuhi tuntutan sekolah, sedangkan anak yang memiliki keterbatasan harus berusaha lebih keras untuk mencapai hal yang sama.
Lalu, apakah artinya sekolah harus memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap siswa? Bukan berarti harus membeda-bedakan, tetapi sekolah perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan kondisi yang tidak selalu sama. Pemerataan pendidikan seharusnya tidak hanya tentang memastikan semua anak bisa masuk sekolah, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan dukungan yang cukup untuk mengikuti pembelajaran, memiliki fasilitas belajar, akses internet, bantuan pendidikan, serta perhatian terutama untuk keluarga kurang mampu. Jadi sekolah seharusnya bukan hanya menjadi tempat bagi anak-anak yang sudah memiliki banyak kesempatan saja, tetapi juga menjadi ruang yang membantu mereka yang memulai dari keadaan berbeda agar tetap bisa berkembang
