Konten dari Pengguna

Pendidikan untuk Semua Gender, Apakah Benar Semua Sudah Diperlakukan Sama?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Nurul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Group of children in school uniforms walking along a rural path in West Java, Indonesia. (Photo by ujangubed hidayat from Pexels: https://www.pexels.com/photo/indonesian-school-children-walking-after-class-32218913/)
zoom-in-whitePerbesar
Group of children in school uniforms walking along a rural path in West Java, Indonesia. (Photo by ujangubed hidayat from Pexels: https://www.pexels.com/photo/indonesian-school-children-walking-after-class-32218913/)

Kalau berbicara tentang pendidikan, kita tentu sepakat bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar. Anak perempuan dan laki-laki sama-sama bisa bersekolah, mengikuti pelajaran, mengikuti kegiatan organisasi, bahkan memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita yang mereka inginkan. Sekilas, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Namun, kalau diperhatikan lebih jauh, apakah selama berada di sekolah mereka benar-benar mendapatkan perlakuan yang sama?

Coba ingat kembali suasana di dalam kelas ketika guru meminta beberapa siswa untuk menjadi ketua kelompok, siapa yang biasanya lebih sering ditunjuk? Atau ketika ada pembagian tugas piket dan kegiatan kelas, apakah tugas yang diberikan selalu berdasarkan kemampuan masing-masing siswa? Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele. Namun, tanpa disadari, masih ada kebiasaan di lingkungan pendidikan yang membedakan siswa berdasarkan gender.

Misalnya, anak perempuan sering dianggap lebih teliti, rapi, dan cocok mengerjakan tugas yang berhubungan dengan mencatat atau menghias kelas. Sebaliknya, anak laki-laki dianggap lebih kuat sehingga sering diminta mengangkat barang atau memimpin kegiatan. Padahal, tidak semua perempuan memiliki kemampuan yang sama, begitu juga dengan laki-laki. Ada anak perempuan yang pandai memimpin dan ada anak laki-laki yang memiliki kemampuan dalam pekerjaan yang selama ini dianggap lebih cocok untuk perempuan.

Masalahnya, anggapan seperti ini sudah cukup sering kita temui sehingga terkadang dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, ketika terus dilakukan, kebiasaan tersebut bisa membuat siswa merasa bahwa ada hal-hal tertentu yang memang bukan untuk mereka. Anak perempuan mungkin menjadi ragu untuk mencoba bidang yang dianggap lebih cocok bagi laki-laki. Begitu juga anak laki-laki yang bisa merasa malu ketika tertarik pada kegiatan yang dianggap lebih dekat dengan perempuan.

Situasi ini menunjukkan bahwa ketidaksetaraan gender dalam pendidikan tidak selalu muncul dalam bentuk larangan untuk bersekolah. Terkadang, perbedaannya justru terlihat dari cara siswa diperlakukan, kesempatan yang diberikan, dan anggapan yang berkembang di lingkungan sekolah.

Hal tersebut menarik jika dikaitkan dengan pemikiran Bell Hooks. Bell Hooks merupakan tokoh feminis yang banyak membicarakan hubungan antara pendidikan dan ketidakadilan sosial. Bagi Hooks, pendidikan seharusnya menjadi ruang yang membuat seseorang lebih bebas untuk berpikir, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan dirinya. Pendidikan bukan sekadar kegiatan guru menjelaskan materi dan siswa mendengarkan, tetapi juga proses belajar yang menghargai pengalaman setiap orang.

Melalui gagasan engaged pedagogy, Hooks menekankan bahwa siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran. Jika dikaitkan dengan persoalan gender, gagasan ini mengingatkan bahwa setiap siswa seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat di kelas. Misalnya, ketika diskusi berlangsung, guru tidak seharusnya hanya memberikan perhatian kepada siswa yang dianggap lebih aktif atau lebih berani berbicara. Siswa perempuan maupun laki-laki perlu diberi ruang untuk menyampaikan pendapatnya tanpa merasa diremehkan.

Seharusnya sekolah bukan hanya tempat untuk belajar berbagai mata pelajaran. Di sekolah, siswa juga belajar bagaimana memperlakukan orang lain. Jika sejak di kelas mereka terbiasa melihat adanya pembagian peran berdasarkan gender, bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut akan terbawa ketika mereka berada di lingkungan masyarakat.

Namun perlu diingat, persoalan ini juga tidak bisa dibebankan hanya kepada guru, lingkungan keluarga dan masyarakat turut mempengaruhi bagaimana seseorang memandang peran laki-laki dan perempuan. Ada anak yang sejak kecil dibiasakan bahwa pekerjaan rumah merupakan tanggung jawab perempuan, sementara laki-laki harus menjadi pihak yang memimpin. Pandangan seperti ini bisa terbawa ke sekolah dan mempengaruhi cara siswa berinteraksi dengan teman-temannya.

Students attentively participating in a diverse classroom lesson. (Photo by Ron Lach from Pexels: https://www.pexels.com/photo/children-sitting-in-the-classroom-10646410/)

Pemikiran Bell Hooks juga mengajak kita melihat bahwa ketidakadilan tidak hanya berkaitan dengan gender. Latar belakang sosial dan ekonomi seseorang juga dapat mempengaruhi pengalaman mereka dalam pendidikan. Artinya, setiap siswa datang ke sekolah dengan kondisi dan pengalaman yang berbeda, karena itu, pendidikan yang adil seharusnya tidak hanya memberikan kesempatan untuk masuk ke sekolah, tetapi juga memastikan bahwa setiap siswa merasa dihargai dan memiliki ruang untuk berkembang.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengubah ini semua? Sebenarnya, perubahan tidak harus selalu dimulai dari kebijakan besar, di sekolah guru bisa mulai dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk menjadi pemimpin kelompok, menyampaikan pendapat, maupun mengikuti kegiatan sekolah. Pembagian tugas juga sebaiknya dilakukan berdasarkan kemampuan dan kesepakatan, bukan karena anggapan bahwa pekerjaan tertentu hanya cocok untuk laki-laki atau perempuan.

Siswa juga memiliki peran untuk tidak ikut melanggengkan stereotip tersebut. Misalnya, tidak meremehkan teman laki-laki yang memilih kegiatan tertentu atau menganggap teman perempuan tidak mampu memimpin hanya karena gendernya, kebiasaan sederhana seperti ini diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman bagi semua orang.

Pemikiran Bell Hooks mengingatkan kita bahwa pendidikan seharusnya membantu seseorang menjadi lebih bebas, bukan justru membuatnya terjebak dalam aturan dan pandangan yang membatasi. Sebab, apa gunanya pendidikan terbuka untuk semua orang jika di dalamnya masih ada siswa yang merasa tidak memiliki kesempatan yang sama? Jadi, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi apakah pendidikan sudah tersedia untuk semua gender, melainkan apakah setiap orang benar-benar diberi ruang yang sama untuk belajar dan menjadi dirinya sendiri?