Konten dari Pengguna

Hampir 275 Tahun Berdiri, Vihara Toasebio Tetap Jadi Pusat Ibadah dan Penggerak

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dian Permana Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana di Vihara Toasebio (Sumber: Dian Permana Putra)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Vihara Toasebio (Sumber: Dian Permana Putra)

JAKARTA – Di balik gang-gang sempit kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, Vihara Dharma Jaya Toasebio telah bertahan selama hampir tiga abad. Rangkaian data publik menunjukkan vihara ini bukan hanya tempat ibadah. Ia juga menjadi bagian dari peninggalan sejarah, pusat keramaian saat Imlek, dan penggerak ekonomi kawasan sekitarnya.

Metode dan Sumber Data

Artikel ini disusun dari data sekunder berupa pemberitaan dan dokumen publik yang diterbitkan antara 2018 dan 2026, yaitu Merahputih.com, Koran Jakarta, Metrotvnews, Medcom.id, dan informasi pariwisata resmi Indonesia.Travel. Data primer dari pengurus yayasan belum dimasukkan dan ditandai dalam catatan di akhir artikel.

Temuan 1: Usia dan Status Sejarah

Menurut pemberitaan, kelenteng Toasebio sudah berdiri sejak dibangun kembali pada 1751. Pada 2022, usianya tercatat 271 tahun. Dengan hitungan yang sama, per 2026 usianya sekitar 275 tahun. Kementerian Agama menetapkan vihara ini sebagai bagian peninggalan sejarah setelah pemasangan dan penandatanganan prasasti di dalam bangunan.

Dari sisi kelembagaan, Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio didirikan oleh sembilan orang pada 1983. Posisinya juga menonjol karena Jakarta memiliki sekitar 140 kelenteng. Toasebio termasuk dalam kelompok kelenteng tua di kawasan Petak Sembilan, bersama Vihara Dharma Bhakti dan Vihara Tanda Bhakti yang berjarak jalan kaki.

Temuan 2: Lonjakan Pengunjung Saat Imlek

Data pemberitaan menunjukkan pola yang konsisten, yaitu keramaian memuncak setiap Imlek. Pada Imlek 17 Februari 2026, Koran Jakarta melaporkan ratusan pengunjung memadati Vihara Toasebio, sementara Vihara Dharma Bhakti didatangi ribuan umat hingga pengurusnya memberlakukan sistem masuk bergantian. Pantauan tahun-tahun sebelumnya serupa. Pada 2019, kunjungan warga yang beribadah di Toasebio tidak berhenti sejak pagi hingga menjelang siang.

Catatan penting: angka di atas masih berupa estimasi dari laporan lapangan ("ratusan", "ribuan"), bukan hitungan resmi. Untuk perbandingan tahun ke tahun yang valid, diperlukan data hitung dari pengurus atau petugas pengamanan.

Temuan 3: Dampak Ekonomi Musiman

Perayaan Imlek juga menggerakkan ekonomi sekitar vihara. Metrotvnews pada 17 Februari 2026 melaporkan toko-toko di samping kelenteng dipenuhi pembeli dupa, lilin, dan kertas persembahan. Seorang pedagang menyebut peningkatan pembeli terasa sejak dua minggu sebelum Imlek, dengan puncak pada pekan terakhir. Artinya, efek ekonomi vihara tidak hanya terjadi pada hari H, tetapi berlangsung sekitar dua pekan.

Temuan 4: Tarikan bagi Wisatawan dan Kegiatan Sosial

Kawasan Petak Sembilan juga menarik wisatawan. Pada Imlek 2025, pemberitaan mencatat wisatawan lokal dan mancanegara datang berlibur ke kawasan ini, dan aparat gabungan TNI-Polri berjaga untuk mengatur lalu lintas. Di sisi sosial, Medcom pada 2019 mencatat setidaknya 500 pengemis musiman menanti di pelataran vihara dan panitia membagikan angpau secara berkala. Angka ini mengacu pada Vihara Dharma Bhakti di kawasan yang sama, bukan Toasebio.

Ringkasan Data

• Tahun pembangunan kembali: 1751 (usia sekitar 275 tahun per 2026)

• Pendirian yayasan: 1983 oleh sembilan orang

• Status: ditetapkan Kemenag sebagai peninggalan sejarah (2022)

• Jumlah kelenteng di Jakarta: sekitar 140

• Pengunjung Imlek 2026 di Toasebio: ratusan (estimasi laporan)

• Masa lonjakan transaksi pedagang sekitar: sekitar dua pekan sebelum Imlek.

ringkaskan menjadi minimal 50 karakter dan maksimal 200 karakter. karna akan digunakan untuk kebutuhan sosial media