Seni Menyampaikan Kritik Tanpa Menyakiti Orang Lain

Mahasiswi di Universitas Pamulang Program Studi Manajemen
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari dian revalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita semua pasti pernah melakukan kesalahan. Dalam situasi tertentu, kesalahan itu perlu di kritik agar dapat di perbaiki, Namun, cara menyampaikan kritik sering kali lebih membekas daripada kesalahannya sendiri. Kritik yang di sampaikan dengan cara yang tepat bisa menjadi dorongan untuk berubah menjadi lebih baik.

Kritik sebenarnya bukan sesuatu yang dihindari, dalam keluarga, pertemanan, sekolah, maupun tempat kerja, kritik dapat membantu seseorang melihat kekurangan yang mungkin tidak disadarinya. Masalahnya, kritik sering disampaikan dengan emosi dan kata-kata yang menyerang pribadi, akibatnya pesan yang seharusnya membantu justru menimbulkan pertengkaran.
Karena itu, menyampaikan kritik membutuhkan keterampilan komunikasi, kita perlu belajar membedakan antara memberikan masukan dan menjatuhkan orang lain.
Kritik Bukan Celaan
Hal pertama yang perlu dipahami adalah perbedaan antara kritik dan celaan. Kritik membahas tindakan, hasil kerja, atau situasi yang perlu diperbaiki. Sementara itu, celaan biasanya menyerang kepribadian seseorang.
Misalnya, kalimat "kamu memang tidak becus" tidak menjelaskan masalah apa yang diperbaiki, kalimat tersebut hanya membuat orang lain merasa rendahkan. Berbeda jika kita mengatakan, "Laporan ini masih perlu di lengkapi dengan data pendukung".
Kalimat kedua terdengar lebih jelas karena berfokus pada hasul pekerjaan, bukan pada pribadi orang yang membuatnya. Penerima kritik juga lebih mudah memahamu apa yang harus dilakukan.
Kritik yang baik seharusnya menjawab tiga hal : apa yang perlu diperbaiki, mengapa hal itu penting dan bagaimana cara memperbaikinya. Jika hanya berisi kemarahan tanpa solusi, kritik akan sulit memberikan manfaat.
Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat
Menyampaikan kritik di depan banyak orang dapat membuat seseorang merasa malu. Oleh karena itu, masalah yang bersifat pribadi sebaiknya dibicarakan secara empat mata, pilih tempat yang cukup tenang agar percakapan dapat berlangsung tanpa tekanan.
Waktu juga tidak kalah penting, jangan menyampaikan kritik ketika seseorang sedang terburu-buru, sangat lelah, atau berada dalam kondisi emosional. Dalam keadaan seperti itu, pesan yang sebenarnya baik akan terdengar seperti serangan.
Kita pun perlu memeriksa kondisi diri sendiri sebelum berbicara, jika masih marah sebaiknya beri waktu untuk menenangkan diri. Kritik yang disampaikan saat emosi biasanya di ikuti kata-kata yang lebih tajam dan sulit di tarik kembali.
Menunggu waktu yang tepat bukan berarti menghindar masalah, justru cara ini menunjukkan bahwa kita ingin menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
Kesimpulan:
Kritik bertujuan untuk memperbaiki kesalahan dan membantu orang lain berkembang, bukan untuk menyerang personal. Agar kritik diterima dengan baik dan tidak menyakiti, fokuslah pada hasil kerja/tindakan (bukan kepribadian), berikan solusi yang jelas, serta sampaikan secara empat mata dalam kondisi emosi yang tenang.
