Kita Membayar Kepedulian Politik dengan Kesehatan Mental
Tulisan dari Diana Mayasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita membuka berita untuk tahu apa yang terjadi. Kita membaca berita tentang kebijakan baru, melihat video demonstrasi, mengikuti perdebatan politik, atau sekadar membaca percakapan di grup keluarga. Beberapa menit kemudian, tanpa disadari kita sudah tergerak untuk mengkalkulasi harga rumah yang semakin mahal, memikirkan sempitnya lapangan kerja, memproyeksikan jaminan hari tua, bahkan membayangkan nasib hidup orang yang kita sayang. Tak lupa, meratapi hasil pemilu yang terjadi dua tahun lalu ternyata masih bisa mengubah nuansa hari itu.
Politik berhenti terasa seperti sesuatu yang berlangsung jauh di gedung parlemen. Ia masuk ke ruang yang lebih personal: rasa aman, hubungan sosial, nilai yang kita pegang, dan terutama bayangan tentang hari-hari yang akan datang.
Kita menjadi paham bahwa selain takdir Tuhan, ada politik yang mengatur hidup kita. Politik adalah wilayah praktis. Ia menjadi cara manusia mendistribusikan keadilan di bumi dan memberikan bayangan tentang kehidupan seperti apa yang mungkin kita jalani setelah satu keputusan dibuat. Dan kita semua hidup di dalam konsekuensinya dengan perasaan was-was.
Fenomena psikologis ini kemudian memicu lahirnya istilah political anxiety.
Istilah ini mungkin terdengar seperti label baru untuk rasa cemas yang sebenarnya sudah kita kenal. Namun, penelitian psikologi politik beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa persoalannya lebih menarik dari itu. Political anxiety memang berkaitan dengan kecemasan secara umum, tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama. Politik dapat menjadi sumber kecemasan yang khas dan dampaknya tidak berhenti pada perasaan tidak nyaman. Ia terhubung dengan kesejahteraan psikologis, relasi sosial, dan cara kita menata kembali gambaran tentang masa depan.
Apakah political anxiety itu nyata?
Perbedaan antara kecemasan politik dan kecemasan secara umum dijelaskan secara gamblang dalam riset Weinschenk dan Smith (2023). Melalui perbandingan antara political anxiety dan generalized anxiety, mereka menemukan korelasi yang tergolong kecil (r = 0,24). Angka ini mengindikasikan bahwa kedua instrumen tersebut mengukur hal yang berbeda. Indikasi ini diperkuat oleh analisis faktor yang menghasilkan dua dimensi terpisah: item political anxiety mengelompok pada satu faktor, sedangkan general anxiety berada di faktor lain. Artinya, seseorang bisa saja sangat cemas terhadap situasi politik tanpa harus mengidap gangguan kecemasan umum.
Tentu saja, keduanya tidak sepenuhnya terpisah. Orang dengan predisposisi emosi negatif bawaan tetap lebih rentan mengalami kecemasan politik. Meski demikian, stimulus politik terbukti memiliki daya picu yang spesifik, sehingga political anxiety sebaiknya dipandang sebagai konstruk mandiri yang saling berkaitan — bukan terisolasi — dengan kecemasan umum.
Smith, Weinschenk, dan Panagopoulos (2024) lalu mengembangkan ukuran political anxiety melalui survei panel dua gelombang sebelum dan sesudah Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 yang terdiri dari 8 aspek lingkungan politik: (1) terpilihnya kandidat atau partai yang tidak disukai, (2) polarisasi dan konflik, (3) masyarakat yang dianggap kurang terinformasi, (4) rasa bahwa diri sendiri terlalu peduli pada politik, (5) perasaan kurang terinformasi, (6) buruknya kualitas kandidat atau pemimpin, (7) sifat politik modern yang tidak beradab, serta (8) ketidakpedulian masyarakat terhadap politik. Skala tersebut menunjukkan reliabilitas yang tinggi untuk menangkap kecemasan yang secara spesifik dikaitkan dengan lingkungan politik.
Namun, kecemasan politik bukan sesuatu yang menetap begitu saja dalam diri seseorang. Di sinilah perbedaan antara trait dan state menjadi penting. Sebagian orang memang memiliki kecenderungan psikologis yang membuat mereka lebih mudah mengalami emosi negatif. Negative emotionality merupakan prediktor kuat political anxiety. Pada saat yang sama, political anxiety juga dipahami sebagai bentuk kecemasan yang berkaitan dengan keadaan politik tertentu, sehingga kadarnya dapat berubah ketika lingkungan politik berubah. Kendati skor political anxiety memiliki stabilitas yang cukup tinggi dari waktu ke waktu, tingkatnya juga mengalami perubahan pada individu yang sama setelah peristiwa politik yang sangat intens.
Simpulannya, political anxiety bukan sepenuhnya sifat bawaan lahir yang pencemas, tetapi juga bukan sekadar reaksi sesaat terhadap satu berita. Kondisi ini muncul ketika kecemasan pribadi seseorang bertemu dengan situasi politik di sekitarnya.
Ironisnya, menjadi warga negara yang peduli justru merugikan kesehatan mental kita
Kita menyadari bahwa mengikuti perkembangan politik secara intens membuat kita lebih sadar akan risiko yang ada. Dengan realita bernegara yang tidak selalu ideal, keterlibatan memungkinkan kita memiliki ‘keberpihakan’ (political stance) yang menempatkan kita pada posisi yang tidak nyaman. Dengan posisi, pandangan, atau sikap yang kita ambil atas isu, kebijakan, dan ideologi politik, kita dapat berhadapan dengan lebih banyak ketidakpastian, konflik, dan berbagai hasil keputusan politis yang tidak sesuai harapan. Hasil riset yang sama memperlihatkan bahwa hal yang membuat orang cemas secara konsisten adalah seberapa besar ketertarikan mereka pada politik dan seberapa aktif mereka berpartisipasi.
Pemilu tidak hanya memengaruhi emosi kita pada saat hasil diumumkan. Ia dapat mengguncang keyakinan manusia untuk memahami diri, sesama, dan dunia, seperti sejauh mana hidup bisa diprediksi, apakah orang lain dapat dipahami, dan bagaimana masa depan akan berjalan. Dalam penelitian Zhu dan Neupert terhadap Pemilu Sela Amerika Serikat 2018, core beliefs disruption paling kuat terjadi pada (1) ekspektasi seseorang tentang masa depan dan (2) keyakinannya mengenai bagaimana orang lain berpikir dan bertindak. Individu yang mengalami ‘guncangan’ (disruption) lebih besar juga menunjukkan perubahan emosi yang lebih kuat di sekitar hari pemilu dan pemulihan yang lebih lambat setelahnya.
Untuk itu, dapat dikaitkan bahwa kecemasan kita sebenarnya bukan dipicu oleh berita politik itu sendiri, melainkan oleh ketidakpastian tentang dunia seperti apa yang akan kita tinggali besok. Saat kebijakan politis berubah, kita turut memikirkan cara untuk mencapai rasa aman di masa depan.
Apakah masa depan masih bisa kita dapatkan?
Apakah pemerintah akan bekerja sebagaimana mestinya?
Apakah nilai yang kita anggap penting masih mempunyai tempat?
Jika kecemasan kita difasilitasi oleh negara, lantas seperti apa penawarnya?
Perbedaan konteks politik mungkin menghasilkan manifestasi kecemasan yang berbeda. Temuan dari Amerika Serikat memberi kita kerangka awal, tetapi bukan cetak biru yang sepenuhnya akurat merepresentasikan situasi Indonesia. Dalam pemaparan hasil penelitian di Amerika Serikat di atas, polarisasi dan konflik politik merupakan salah satu aspek utama yang diasosiasikan dengan political anxiety, sementara media turut membentuk lingkungan tempat polarisasi tersebut dialami dan dipersepsikan.
Indonesia juga mengalami dinamika serupa, terutama di ruang digital, meskipun intensitas relatifnya dibandingkan Amerika Serikat masih memerlukan bukti komparatif. Perbedaannya, struktur politik Indonesia tidak identik dengan Amerika Serikat. Amerika Serikat didominasi dua partai besar yang jelas secara ideologis, sementara Indonesia memiliki sistem multipartai yang terfragmentasi dan koalisi pemerintahan yang besar. Karena itu, objek kecemasan politik di Indonesia tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa kandidat yang menang atau kalah. Atau kekhawatiran mengenai kandidat tertentu akan menang. Ia juga dapat muncul dari ketidakpastian mengenai konfigurasi koalisi, distribusi kekuasaan, dan arah pemerintahan setelah pemilu.
Studi observasional tentang kesehatan jiwa dan pemilu oleh Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa menunjukkan bahwa pasca-Pemilu 2024, prevalensi kecemasan mencapai 16% dan depresi 17,1%. Angka ini menunjukkan kenaikan dari data sebelum pemilu yang mencatat angka gangguan emosi termasuk anxiety sebanyak 9,8% dan depresi 6%. Melalui uji regresi logistik yang sudah dijalani memperlihatkan relasi kuat antara proses pemilu dan kecemasan serta depresi pada masyarakat. Angka ini semakin tinggi terjadi pada perempuan, usia muda, dan masyarakat berpendidikan rendah.
Terlebih, saat ini, kita semua tengah menghadapi krisis kehidupan bernegara yang begitu multidimensional. Membangun harapan dan kepastian nyaris terasa mustahil bagi sebagian orang. Kita dikecewakan oleh berbagai kebijakan yang menodai keadilan. Kita seolah kehilangan suara untuk mengartikulasikan aspirasi. Kita kehilangan optimisme. Sejak Prabowo Subianto dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktober 2024, telah terjadi beberapa gelombang aksi unjuk rasa besar dan rangkaian demonstrasi lanjutan yang digerakkan oleh berbagai isu, mulai dari kebijakan ekonomi, kenaikan beban hidup, respons terhadap bencana, hingga penolakan terhadap sejumlah produk undang-undang. Sejarah mungkin akan mencatat bahwa era Prabowo-Gibran merupakan masa pemerintahan yang paling banyak diwarnai demonstrasi.
Namun, kita tidak boleh terburu-buru memahami disrupsi ini sebagai sesuatu yang sepenuhnya destruktif. Tentu saja ini bukan berarti kita perlu meromantisasi kecemasan. Kecemasan itu valid. Tetapi menjaga kepedulian politik itu juga penting. Sebab, memilih untuk apatis atas situasi politik juga bukanlah bentuk kesadaran yang efektif menjaga kewarasan. Alih-alih, ia bisa jadi justru menjebak kita pada guilt complex karena tidak mengambil kesempatan untuk ‘bersuara’ tatkala ada pihak yang ditindas akibat suatu kebijakan.
Kita dapat merawat ketenangan dalam diri, sembari tetap merawat kepedulian terhadap situasi politik yang sedang terjadi dan memikirkan upaya apa yang bisa kita lakukan terhadapnya. Justru, hadirnya terma political anxiety menuntut kita untuk membaca ulang peran kita sebagai warga negara. Karenanya, berikanlah ruang untuk menata ulang apa yang kita yakini berdasarkan nilai kemanusiaan, mencerna situasi dengan komprehensif dan membatasi paparan disinformatif, serta mengubah rasa tidak berdaya menjadi tindakan yang masih berada dalam kendali dan kapasitas kita.
Oleh sebab itu, political anxiety tidak sepatutnya dipandang sebagai musuh yang harus dikalahkan secepat mungkin. Rasa cemas hadir sebagai alarm yang mengingatkan bahwa ada sesuatu yang sangat berharga bagi hidup kita dan milik orang lain yang sedang dipertaruhkan. Bahaya yang sebenarnya baru akan mengintai ketika lingkaran kecemasan itu tidak pernah selesai, yaitu saat kita membiarkan diri terus-menerus larut dalam reaksi emosional, tanpa pernah meluangkan waktu untuk memulihkan kendali diri dan menemukan kembali makna hidup. Di sisi lain, dukungan sosial menjadi penawar yang kuat. Saat polarisasi politik mulai berubah menjadi kebencian antarkelompok, dampaknya ikut merusak kesehatan mental kita. Menghadapi tekanan ini, tameng terbaik yang kita miliki sebenarnya adalah modal sosial yang dapat dimaknai sebagai rasa percaya pada lingkungan sekitar. Untuk itu, carilah dan bangunlah hubungan sosial yang mampu memberikan rasa saling percaya, penerimaan, dan kepastian bahwa kita tidak sendirian menghadapi masa depan.

