Mengapa Fenomena Self-Diagnosis Semakin Marak?

Mahasiswa - Akuntansi - universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dian Nastiti Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Internet Menjadi "Dokter" Pertama
Di era digital, mencari informasi kesehatan tidak lagi menjadi hal yang sulit. Hanya dengan mengetik beberapa kata di mesin pencari atau membuka media sosial, seseorang dapat menemukan ribuan artikel, video, hingga pengalaman orang lain yang membahas berbagai penyakit. Kemudahan tersebut memang membawa manfaat karena masyarakat menjadi lebih mudah memperoleh pengetahuan tentang kesehatan. Namun, di balik manfaat itu muncul fenomena yang semakin sering terjadi, yaitu self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri tanpa pemeriksaan dari tenaga kesehatan.
Fenomena ini semakin banyak ditemukan, terutama di kalangan generasi muda. Tidak sedikit orang yang merasa dirinya mengalami gangguan kesehatan tertentu hanya karena memiliki gejala yang mirip dengan informasi yang ditemukan di internet. Misalnya, seseorang menganggap dirinya mengalami gangguan kecemasan, depresi, ADHD, atau penyakit tertentu setelah menonton video singkat di media sosial. Padahal, diagnosis suatu penyakit tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala.
Salah satu penyebab maraknya self-diagnosis adalah mudahnya akses terhadap informasi. Berbagai platform digital menghadirkan konten kesehatan yang dikemas secara sederhana sehingga mudah dipahami. Sayangnya, tidak semua informasi tersebut dibuat oleh tenaga profesional. Sebagian konten bahkan disusun hanya untuk menarik perhatian, meningkatkan jumlah penonton, atau mengejar popularitas. Akibatnya, informasi yang kurang akurat dapat dengan mudah dipercaya oleh masyarakat.
Selain itu, algoritma media sosial juga berperan dalam memperkuat fenomena ini. Ketika seseorang mencari informasi mengenai suatu gejala, platform digital akan terus menampilkan konten serupa. Semakin sering seseorang melihat konten tersebut, semakin besar pula keyakinannya bahwa dirinya benar-benar mengalami kondisi yang dibahas. Tanpa disadari, algoritma dapat menciptakan ruang informasi yang memperkuat dugaan awal, meskipun belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Faktor lain yang mendorong self-diagnosis adalah keinginan untuk mendapatkan jawaban secara cepat. Di tengah kesibukan sehari-hari, sebagian orang merasa lebih praktis mencari informasi melalui internet daripada berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Ada pula yang khawatir terhadap biaya pemeriksaan atau merasa takut menerima hasil diagnosis dari dokter. Akibatnya, mereka memilih menyimpulkan sendiri kondisi kesehatannya.
Padahal, self-diagnosis memiliki berbagai risiko. Kesalahan memahami gejala dapat membuat seseorang menganggap penyakit ringan sebagai penyakit serius sehingga memicu kecemasan berlebihan. Sebaliknya, penyakit yang sebenarnya membutuhkan penanganan medis bisa dianggap sepele sehingga terlambat mendapatkan pengobatan. Dalam beberapa kasus, self-diagnosis juga mendorong seseorang mengonsumsi obat tanpa resep atau mengikuti metode pengobatan yang belum terbukti aman.
Meski demikian, bukan berarti mencari informasi kesehatan di internet adalah hal yang salah. Justru, informasi tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengenali gejala dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Namun, informasi dari internet seharusnya dijadikan bahan edukasi, bukan sebagai dasar untuk menetapkan diagnosis. Diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan, wawancara, dan pertimbangan profesional dari tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi.
Fenomena self-diagnosis menunjukkan bahwa literasi kesehatan dan literasi digital masih perlu ditingkatkan. Masyarakat harus terbiasa memeriksa sumber informasi, membedakan konten edukasi dengan opini pribadi, serta memahami bahwa pengalaman seseorang tidak selalu dapat disamakan dengan kondisi orang lain. Di sisi lain, tenaga kesehatan juga perlu lebih aktif memanfaatkan media digital agar informasi yang akurat lebih mudah dijangkau masyarakat.
Pada akhirnya, internet memang dapat memberikan pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis. Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan peran tenaga profesional. Kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak terjebak pada kesimpulan yang keliru. Dengan demikian, fenomena self-diagnosis dapat disikapi secara bijak, sehingga teknologi benar-benar menjadi alat yang mendukung kesehatan, bukan justru menimbulkan risiko baru.
