Konten dari Pengguna

Pengalaman Melihat Masalah Gizi dari Dekat

Diena Paramita

Diena Paramita

Ibu rumah tangga dan Pengamat isu sosial

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diena Paramita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak susah makan. Foto: all_about_people/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Anak susah makan. Foto: all_about_people/Shutterstock

“Bu, ini masuk garis kuning.”

Kalimat sederhana itu pernah membuat saya terdiam cukup lama.

Beberapa tahun lalu, saya membawa anak pertama saya yang masih balita ke Posyandu untuk memeriksa tumbuh kembangnya. Awalnya saya datang seperti biasa. Menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, mencatat hasilnya, lalu pulang.

Namun, hasil pengukuran hari itu membuat saya mulai khawatir. Pertumbuhan anak saya berada di garis kuning pada kurva pertumbuhan. Berat dan tingginya perlu mendapat perhatian karena belum sesuai dengan pola pertumbuhan yang diharapkan untuk anak seusianya.

Saya langsung teringat kebiasaan makannya.

Saat itu anak saya memang sedang sulit makan. Dalam sekali makan, terkadang hanya sekitar empat suap yang berhasil masuk.

Sebagai ibu, saya tentu panik. Saya mencoba melakukan apa yang saya pikir bisa membantu. Saya menambah vitamin, memberikan biskuit, dan menyediakan buah sebagai camilan di antara waktu makan.

Saya merasa sudah melakukan yang terbaik.

Namun, pengalaman tersebut justru membuat saya bertanya: apakah anak yang sulit makan sebenarnya sedang menunjukkan persoalan yang lebih besar?

Pertanyaan itu kemudian membuat saya melihat persoalan gizi dengan cara yang berbeda.

Saya mulai memperhatikan bahwa masalah gizi tidak selalu terlihat jelas. Ada anak yang tampak sehat, ceria, dan aktif bermain, tetapi pola makannya kurang beragam. Ada yang mudah makan, tetapi makanan yang dikonsumsi lebih banyak berupa jajanan tinggi gula dan lemak. Ada pula anak yang makan tiga kali sehari, tetapi belum tentu mendapatkan zat gizi yang cukup.

Dari sana saya memahami bahwa persoalan gizi bukan hanya tentang kenyang.

Gizi Dimulai dari Apa yang Ada di Piring

com-Ilustrasi gizi lengkap dan seimbang. Foto: Shutterstock

Anak membutuhkan makanan yang beragam dan bergizi seimbang, termasuk sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa tidak ada satu jenis makanan yang mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, keberagaman makanan menjadi penting dalam memenuhi kebutuhan gizi.

Namun, dalam praktik sehari-hari, memenuhi kebutuhan tersebut tidak selalu mudah.

Anak bisa saja menolak sayur. Tidak suka ikan. Hanya mau makan makanan tertentu. Atau lebih memilih jajanan daripada makanan yang disiapkan di rumah.

Sebagai orang tua, kita sering kali lebih sibuk mencari cara agar anak mau makan.

Saya pun pernah berada dalam posisi itu.

Tetapi pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa banyak makanan yang masuk, melainkan juga apa yang masuk ke tubuh anak.

Pertumbuhan anak juga perlu dipantau secara berkala. Berat dan tinggi badan bukan sekadar angka, tetapi menjadi bagian penting untuk melihat pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.

Penjelasan Yustina Ani Indriastuti, Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) sekaligus dokter spesialis gizi, yang dimuat di kanal Kementerian Kesehatan, juga menekankan pentingnya melihat kesesuaian berat dan tinggi badan anak dengan umurnya melalui kurva pertumbuhan.

Pengalaman tersebut membuat saya semakin menghargai keberadaan Posyandu.

Posyandu bukan sekadar tempat menimbang anak. Di sana, orang tua dapat memantau pertumbuhan secara berkala sekaligus mendapatkan informasi mengenai kesehatan dan gizi anak.

Namun, saya kemudian menyadari bahwa upaya memenuhi kebutuhan gizi anak juga membutuhkan dukungan yang lebih luas.

Tidak semua keluarga memiliki pengetahuan yang sama. Tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Dan tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan yang memiliki akses pangan bergizi dengan mudah.

Di sinilah menurut saya kehadiran pemerintah menjadi penting.

BGN dan Upaya Memperluas Akses Gizi

Siswa SMP Kemala Bhayangkari 3 mengikuti uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan saat jam istirahat, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ketika berbicara mengenai persoalan gizi, saya melihat kehadiran Badan Gizi Nasional (BGN) melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu upaya yang penting.

Program yang mulai dijalankan pada Januari 2025 ini menyasar sejumlah kelompok, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak sekolah.

Bagi saya, gagasan dasarnya sederhana tetapi penting: anak-anak tidak seharusnya bergantung sepenuhnya pada kondisi ekonomi keluarganya untuk mendapatkan makanan bergizi.

Di rumah, orang tua tentu tetap menjadi pihak utama yang menentukan pola makan anak. Tetapi dukungan pemerintah dapat membantu memperluas akses dan memastikan lebih banyak anak mendapatkan makanan yang bergizi.

Saya melihat salah satu pelaksanaan MBG di Posyandu Jeruk, RW 05, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Di sana, makanan yang akan dibagikan tidak sekadar datang lalu diberikan kepada anak. Ada proses pemeriksaan terlebih dahulu melalui uji organoleptik oleh ahli gizi SPPG bersama pihak sekolah atau Posyandu.

Bau, warna, rasa, tekstur, dan bentuk makanan diperiksa sebelum makanan dibagikan.

Bagi saya, proses seperti ini penting karena program makanan bergizi tidak cukup hanya berbicara tentang jumlah penerima. Kualitas makanan dan keamanan pangan juga harus menjadi perhatian.

Hal lain yang menarik adalah bagaimana MBG dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan makanan yang lebih beragam kepada anak.

Ada anak yang awalnya tidak menyukai sayur, ikan, tahu, atau tempe. Tetapi ketika makanan tersebut disantap bersama teman-temannya dalam suasana yang menyenangkan, mereka menjadi lebih berani mencoba.

Pada titik ini, saya melihat MBG bukan hanya soal memberikan makanan.

Ada proses memperkenalkan kebiasaan makan.

Ada proses mengenalkan berbagai jenis pangan.

Dan ada kesempatan bagi anak untuk belajar bahwa makanan yang bergizi tidak harus selalu berupa makanan yang mereka sukai sejak awal.

Keluarga Tetap Punya Peran

Dukungan terhadap program pemerintah bukan berarti tanggung jawab keluarga menjadi hilang.

Justru sebaliknya.

Menurut saya, MBG akan semakin bermakna ketika berjalan berdampingan dengan kebiasaan baik di rumah.

Orang tua tetap perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak, mengajarkan pola makan yang baik, mengenalkan sayur dan buah, serta memantau tumbuh kembangnya.

Dalam banyak keluarga Indonesia, ibu masih memiliki peran besar dalam menentukan menu makanan. Karena itu, pengetahuan ibu tentang gizi sangat penting.

Tetapi ayah juga memiliki peran yang sama pentingnya. Kemampuan keluarga menyediakan makanan bergizi memang dipengaruhi kondisi ekonomi, tetapi makanan bergizi tidak selalu harus mahal. Banyak bahan pangan lokal yang relatif terjangkau dan dapat menjadi sumber protein serta zat gizi lainnya.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah kombinasi antara pengetahuan, kemampuan keluarga, dan dukungan lingkungan.

Di sinilah saya melihat program BGN dapat menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.

Tidak Bisa Dikerjakan Sendiri

Persoalan gizi tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak.

Keluarga membutuhkan pengetahuan.

Anak membutuhkan lingkungan yang mendukung.

Masyarakat membutuhkan akses terhadap pangan yang baik.

Dan pemerintah memiliki peran untuk memastikan dukungan tersebut dapat menjangkau masyarakat secara luas.

Posyandu sudah lama menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Kehadiran BGN melalui program MBG kemudian memberikan bentuk dukungan lain, terutama dalam memperluas akses anak-anak dan kelompok sasaran terhadap makanan bergizi.

Bagi saya, ini adalah hal yang patut didukung dan terus diperbaiki.

Sebab program sebesar MBG tentu tidak akan luput dari tantangan dalam pelaksanaannya. Yang penting adalah memastikan evaluasi terus dilakukan, kualitas makanan dijaga, keamanan pangan diperhatikan, dan masukan dari masyarakat menjadi bagian dari perbaikan program.

Saya sendiri belajar dari pengalaman sederhana sebagai seorang ibu.

Dulu, ketika anak saya sulit makan, saya hanya berpikir bagaimana membuatnya mau membuka mulut. Setelah melihat hasil pertumbuhannya di Posyandu, saya sadar bahwa persoalannya jauh lebih luas.

Kini saya melihat bahwa memastikan anak mendapatkan gizi yang cukup membutuhkan kerja bersama.

Orang tua tidak bisa sendirian.

Posyandu tidak bisa sendirian.

Dan pemerintah juga tidak bisa sendirian.

Karena itu, kehadiran BGN melalui program Makan Bergizi Gratis menurut saya merupakan langkah yang penting untuk membantu menjawab persoalan tersebut. Bukan sebagai pengganti peran keluarga, tetapi sebagai dukungan agar semakin banyak anak memiliki kesempatan mendapatkan makanan bergizi.

Pada akhirnya, persoalan gizi memang bermula dari hal yang sangat sederhana: makanan di atas piring.

Tetapi dari piring itulah masa depan seorang anak ikut dibentuk.

Dan ketika keluarga, masyarakat, serta pemerintah bergerak bersama untuk memastikan makanan bergizi tersedia dan dapat diakses, kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar memberi makan.

Kita sedang membantu anak-anak tumbuh.