Teman Banyak Belum Tentu Tidak Kesepian

Saya adalah seorang mahasiswa dari universitas pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dika Pasya Putra Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah enggak, sih, kamu membuka media sosial, melihat teman-teman sedang nongkrong atau liburan, lalu tiba-tiba merasa hidupmu biasa-biasa saja? Padahal, kamu juga punya teman, sering mengobrol di grup WhatsApp, dan sesekali ikut nongkrong. Namun, entah kenapa, ada kalanya kamu tetap merasa kesepian. Menurut saya, hal seperti ini cukup dekat dengan kehidupan kita, terutama sebagai Gen Z yang hampir setiap hari berhubungan dengan media sosial.
Sekarang, punya banyak teman di media sosial memang terasa biasa. Kita bisa mengikuti ratusan akun, membalas pesan, atau memberi komentar pada unggahan teman. Semua itu membuat kita seolah-olah selalu terhubung dengan orang lain. Akan tetapi, apakah sering berkomunikasi berarti kita benar-benar dekat dengan mereka? Menurut saya, belum tentu. Kita bisa saja ramai saat bercanda bersama teman, tetapi tetap bingung harus bercerita kepada siapa ketika sedang punya masalah.
Media sosial juga sering membuat kita membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Misalnya, saat melihat teman mengunggah foto sedang makan di tempat yang bagus atau pergi berlibur bersama kelompoknya, mungkin kita ikut senang. Namun, kadang muncul juga pikiran, “Kok hidup mereka seru banget, sedangkan aku begini-begini saja?” Kalau terus-menerus membandingkan diri, kita bisa merasa tertinggal dan kurang puas dengan kehidupan sendiri.
Padahal, apa yang kita lihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Foto yang terlihat bahagia tidak selalu menunjukkan bahwa orang tersebut tidak pernah punya masalah. Begitu juga dengan orang yang jarang mengunggah kegiatan bersama teman; bukan berarti dia tidak punya kehidupan sosial yang menyenangkan. Karena itu, menurut saya, kita tidak seharusnya menilai kedekatan atau kebahagiaan seseorang hanya dari unggahan di layar.
Saya juga merasa bahwa punya banyak teman tidak selalu berarti kita punya tempat untuk bercerita. Bayangkan seorang mahasiswa yang setiap hari bercanda dengan teman-temannya di kampus. Dari luar, dia terlihat ceria dan tidak punya beban. Namun, sebenarnya dia sedang menghadapi masalah pribadi. Ketika ditanya kabar, dia hanya menjawab, “Aku baik-baik saja,” karena takut dianggap berlebihan atau khawatir ceritanya tidak ditanggapi dengan serius. Akhirnya, dia memilih menyimpan semuanya sendiri, meskipun sebenarnya hanya ingin didengarkan.
Dari situ, saya berpendapat bahwa kualitas pertemanan lebih penting daripada jumlah teman. Memiliki satu atau dua teman yang mau mendengarkan tanpa menghakimi terkadang terasa lebih berharga daripada mengenal banyak orang, tetapi tidak punya hubungan yang cukup dekat untuk saling berbagi cerita. Kita tidak harus selalu punya kelompok besar agar merasa diterima. Yang penting, ada hubungan yang membuat kita nyaman menjadi diri sendiri.
Meski begitu, bukan berarti pertemanan melalui internet selalu buruk. Justru, teknologi bisa membantu kita menemukan orang-orang yang punya minat serupa. Contohnya, seseorang yang menyukai desain grafis dapat bergabung dengan komunitas daring untuk bertukar ide, meminta saran, dan belajar bersama. Walaupun belum pernah bertemu langsung, pertemanan itu tetap bisa terasa dekat jika dibangun dengan komunikasi yang baik, rasa saling menghargai, dan kepercayaan.
Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada media sosial atau banyaknya teman, melainkan pada cara kita menjaga hubungan. Sesekali, kita bisa mengajak teman bertemu langsung, mengobrol tanpa terus melihat ponsel, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus. Hal sederhana seperti mendengarkan cerita teman sampai selesai juga bisa membuat mereka merasa dihargai. Kita pun tidak perlu memaksakan diri mengikuti semua kegiatan hanya karena takut ketinggalan atau khawatir tidak dianggap sebagai bagian dari kelompok.
Kita juga perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan sosial yang berbeda. Ada orang yang senang berada di tengah keramaian, sedangkan orang lain lebih nyaman menghabiskan waktu bersama beberapa teman dekat. Keduanya tidak masalah selama hubungan yang dijalani sehat dan saling menghargai. Jadi, kita tidak perlu mengukur kehidupan sosial sendiri berdasarkan jumlah pengikut, banyaknya teman nongkrong, atau seberapa sering nama kita muncul dalam unggahan orang lain.
Pada akhirnya, menurut saya, punya banyak teman bukanlah hal yang buruk, tetapi jumlah teman juga bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan. Kita tetap membutuhkan hubungan yang membuat kita merasa didengar, dihargai, dan diterima apa adanya. Jadi, kalau suatu saat kamu merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Cobalah mencari hubungan yang terasa tulus dan mulai dari hal sederhana, seperti menghubungi teman atau berani bercerita kepada orang yang dipercaya. Sebab, yang paling penting bukan seberapa banyak orang di sekitar kita, melainkan seberapa berarti hubungan yang kita miliki dengan mereka.
