Konten dari Pengguna

Tutor Sebaya Optimalkan Praktik TPTUP di Tengah Keterbatasan Sarana

Anugrah Putra Al-Maarif

Anugrah Putra Al-Maarif

Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektro UNY

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anugrah Putra Al-Maarif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Praktik Kependidikan (PK) dilaksanakan di SMK N 1 Pundong, Menang, Baran, Srihardono, Kec. Pundong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 25 Juli – 23 September 2026 melalui pembelajaran Teknik Pemanasan, Tata Udara, dan Pendinginan (TPTUP). Kegiatan melibatkan siswa kelas XI serta kelas XII A dan XII B. Pada kelas XI, pembelajaran diarahkan pada pengenalan alat dan bahan praktik, sedangkan pada kelas XII dilaksanakan praktik pengelasan TEE dan pengelasan TEE lanjutan. Kegiatan ini berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena berupaya menjaga keberlangsungan pembelajaran praktik yang bermakna di tengah keterbatasan sarana dan bahan yang tersedia di sekolah.

Pelaksanaan pembelajaran menghadapi kendala berupa keterbatasan alat praktik. Set alat untuk pengenalan komponen TPTUP hanya tersedia satu dan merupakan set yang digunakan untuk latihan LKS oleh siswa kelas XII B. Selain itu, alat las untuk praktik pengelasan TEE juga hanya tersedia satu, sehingga siswa harus menggunakan alat secara bergantian. Untuk membantu proses pembelajaran, siswa berpengalaman Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dilibatkan sebagai tutor sebaya. Siswa LKS kelas XII B membantu mahasiswa praktikan ketika memberikan pengenalan alat kepada siswa kelas XI. Pada kelas XII A dan XII B, masing-masing terdapat satu siswa berpengalaman LKS yang membantu teman sekelas selama praktik berlangsung.

Tutor sebaya berperan dalam menjelaskan fungsi dan penggunaan alat, memberi contoh langkah kerja, membantu teman yang mengalami kesulitan, mengecek hasil praktik, serta memberikan masukan terhadap kesalahan yang ditemukan. Dalam proses penilaian, tutor sebaya hanya membantu memberikan masukan, sedangkan keputusan dan nilai akhir tetap ditentukan oleh mahasiswa PK. Keterlibatan siswa LKS membuat proses pembelajaran lebih kolaboratif karena siswa dapat memperoleh bantuan tidak hanya dari pengajar, tetapi juga dari teman yang telah memiliki pengalaman praktik lebih baik. Meskipun keterbatasan alat menyebabkan sebagian siswa harus menunggu giliran dan mengamati praktik temannya, kegiatan pembelajaran tetap dapat berlangsung secara terarah dan partisipatif.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi siswa melalui tutor sebaya dapat menjadi salah satu strategi untuk mengoptimalkan pembelajaran TPTUP ketika sarana dan bahan praktik masih terbatas. Strategi tersebut turut mendukung SDG 4 karena mendorong kesempatan belajar, kolaborasi, dan pengembangan keterampilan dalam pembelajaran kejuruan. Ke depan, ketersediaan alat dan bahan praktik diharapkan dapat ditingkatkan agar kesempatan praktik setiap siswa menjadi lebih merata. Di samping itu, pola pendampingan oleh siswa berpengalaman LKS dapat terus dikembangkan sebagai bentuk pembelajaran kolaboratif yang mendukung kualitas proses belajar di lingkungan SMK.

Gambar 1. Set alat praktik/pengenalan komponen TPTUP yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. sumber: dokumentasi penulis
Gambar 2. Tutor sebaya mendampingi siswa dalam praktik pengelasan TEE di kelas XII. sumber: dokumentasi penulis
Gambar 3. Pendampingan siswa berpengalaman LKS pada kegiatan pengenalan alat di kelas XI. sumber: dokumentasi penulis