Keunikan Arsitektur Thailand Selatan: Pengaruh Melayu di Tanah Siam

Mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Dimas Farras Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bangunan sering kali dianggap sebagai tempat tinggal, tempat beribadah, atau sekadar bagian dari pemandangan suatu kota. Hal tersebut menarik apabila membahas kawasan Thailand Selatan. Di wilayah ini, bangunan tidak hanya sebagai bagian dari lingkungan tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, melainkan juga representasi warisan Melayu yang berkembang melalui interaksi perdagangan, agama, dan kebudayaan selama berabad-abad.
Lantas apa yang sebenarnya membuat wilayah yang berada di Thailand ini, memiliki keunikan arsitektur dengan ciri khas Melayu? simak pembahasannya berikut ini.
Thailand Selatan: Sejarah Kerajaan Patani hingga Dikenal sebagai “Kota Melayu”
Agar mampu memahami arsitektur Melayu di wilayah Thailand Selatan, sekiranya diperlukan pemahaman singkat tentang sejarah dari kawasan tersebut secara lebih luas. Pada masa lalu, kawasan ini terhubung dengan jalur perdagangan maritim yang mempertemukan berbagai masyarakat dan kebudayaan di Asia Tenggara.
Wayne A. L. Bougas (1990), dalam artikelnya Patani in the Beginning of the XVII Century, merekonstruksi lanskap Pattani pada awal abad ke-17 dengan menelusuri sumber-sumber sejarah. Kajian tersebut menggambarkan jika dahulu kala, Thailand Selatan memiliki pusat aktivitas politik, kawasan permukiman, dan hubungan dengan kegiatan perdagangan regional.
Latar sejarah ini membantu menjelaskan bahwa perkembangan arsitektur di Thailand Selatan, khususnya di Patani, Narathiwat dan Yala berlangsung. Hal ini dikarenakan ketiga daerah tersebut merupakan bagian langsung dari Thailand Selatan yang berbatasan dengan wilayah Malaysia kini, yang dahulu kala merupakan wilayah yang dikuasai oleh Kesultanan Melayu.
Dalam sejarahnya, Thailand Selatan mengalami masa kemakmuran pada abad ke-17, di mana Kerajaan Patani yang saat itu berkuasa di Thailand Selatan secara bertahap memperkuat kemandiriannya, setelah kejatuhan kerajaan Ayutthaya pada 1767. Tetapi, terjadi kejadian nahas pada 1785–1786, di mana Kerajaan Siam yang merupakan kesinambungan dari Ayutthaya, melancarkan serangan yang mengakibatkan kehancuran pusat kerajaan Pattani.
Memasuki awal abad ke-20, kekuasaan Siam atas kawasan tersebut semakin menguat melalui perubahan administrasi. Pada 1909, Perjanjian Anglo-Siam antara Inggris dan Siam menetapkan batas pengaruh kedua kekuatan di Semenanjung Melayu.
Menurut, Nizamuddin Alias dan Haniff Ahamat (2023), dalam artikel Sejarah Persempadanan Kelantan-Patani: Kesannya kepada Evolusi Ketamadunan Islam dan Politi Melayu Semenanjung, perjanjian ini memperkuat kedudukan Siam atas Pattani yang nantinya akan diambil alih seutuhnya oleh Siam, sementara sejumlah negeri Melayu lainnya berada di bawah pengaruh Inggris.
Perubahan tersebut menjadi titik penting dalam pembentukan batas politik kawasan yang kemudian berkembang menjadi Thailand Selatan modern. Akibatnya, wilayah bekas Kerajaan Pattani dijadikan daerah penyangga untuk memisahkan kekuasaan Inggris di selatan dan Siam di Utara semenanjung, sehingga banyak masyarakat di daerah penyangga yang pada akhirnya berakulturasi dengan pengaruh Melayu begitu pun sebaliknya, bahkan di daerah seperti Narathiwat dan Yala, terkadang lebih sering ditemukan budaya Melayu dibanding budaya Thailand itu sendiri.
Oleh karena itu, kemiripan antara budaya tradisional Patani dan Melayu di wilayah sekitarnya harus dipahami sebagai bagian dari hubungan sejarah yang lebih luas, bukan sekadar kesamaan bentuk. Hubungan tersebut nantinya akan tercermin dalam bahasa, agama, tradisi sosial, hingga pengetahuan lokal, yang salah satunya adalah arsitektur. Dengan demikian, arsitektur di Thailand Selatan dapat dipahami sebagai hasil interaksi historis yang panjang antara kebudayaan lokal dan pengaruh dari wilayah sekitarnya.
Rumah Tradisional dan Pengetahuan yang Diwariskan
Rumah tradisional sering kali menjadi gambaran paling dekat tentang hubungan antara manusia dan lingkungan di sekitarnya. Khet Ratanajarana, Temduang Sawetjinda, Rawiwan Cha-umpruk, dan Kuson Nakhachart (1994), dalam laporan penelitian Muslim Homes in the Southern Border Provinces, dikarenakan konteks sejarah yang panjang dengan pertukaran kebudayaan, maka rumah di kawasan Thailand Selatan, seringkali menyerupai bentuk rumah tradisional Melayu, yaitu dengan bentuk yang ditinggikan atau biasa disebut sebagai rumah panggung, lalu penggunaan dengan material kayu alam yang kokoh dan ringan, serta atap yang curam dan mengerucut untuk mempermudah sirkulasi udara. Oleh sebab itu, setiap unsur memiliki fungsi yang berkaitan dengan kondisi alam sekaligus cara masyarakat mengatur kehidupan sehari-hari.
Salah satu keunikan rumah tradisional Thailand Selatan juga terletak pada tata letaknya yang membedakan ruang untuk menerima tamu, beraktivitas bersama keluarga, dan melakukan pekerjaan domestik. Pada sejumlah rumah tradisional, bagian depan seperti anjung atau serambi berfungsi sebagai area penerimaan tamu, sedangkan rumah ibu menjadi ruang utama bagi kehidupan keluarga.
Adapun dapur biasanya ditempatkan di bagian belakang atau dihubungkan melalui ruang peralihan seperti selang. Menurut Jantararat Hemvej (2005), dalam artikelnya Traditional Thai Muslim Houses in Four Southern Provinces of Thailand, susunan ini menciptakan tingkatan privasi, di mana orang luar dapat diterima di bagian depan tanpa harus memasuki seluruh ruang pribadi penghuni rumah.
Pemisahan tersebut juga berkaitan dengan norma sosial dan keagamaan masyarakat Melayu yang kemudian di adopsi di Thailand Selatan. Di mana, dalam sejumlah tradisi, serambi di dalam rumah memungkinkan sang tuan rumah menerima tamu, termasuk tamu laki-laki, sementara aktivitas keluarga tetap berlangsung di bagian dalam.
Ketika ada hajatan atau pertemuan sosial, susunan ruang ini dapat membantu menjaga batas interaksi antara penghuni dan tamu tanpa harus mengisolasi keluarga dari kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, privasi tidak selalu diwujudkan melalui dinding tertutup atau kamar yang terpisah, tetapi juga melalui pengaturan akses dan fungsi setiap ruang. Praktik ini dapat berbeda menurut adat, wilayah, dan kebiasaan masing-masing keluarga.
Hal yang menarik, pertimbangan fungsional dan sosial tersebut tidak berdiri sendiri. Rumah tradisional Thailand Selatan juga ikut memperlihatkan bagaimana kebutuhan menghadapi iklim tropis, menjaga privasi keluarga, menerima tamu, dan mempertahankan hubungan sosial dapat diterjemahkan menjadi bentuk arsitektur.
Masjid Lokal, Islam, dan Pengaruh Arsitektur Melayu
Sebagai daerah dengan pemeluk agama Islam terbesar di Thailand, maka Masjid di Thailand Selatan ikut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat, arsitektur Melayu ikut memengaruhi arsitektur bangunan masjid melalui penggunaan material, struktur atap, dan teknik pertukangan. Bougas (1992), dalam Surau Aur: Patani's Oldest Mosque, membahas sejarah masjid di Pattani yang membantu menjelaskan perkembangan tradisi arsitektur Islam setempat.
Salah satu contohnya adalah Masjid Telok Manok atau Wadi al-Hussein di Narathiwat, yang menggunakan konstruksi kayu, atap bertingkat, dan teknik pertukangan tradisional. Unsur-unsur tersebut memiliki kemiripan dengan tradisi arsitektur Melayu yang berkembang di Semenanjung Melayu. Namun, bentuk bangunannya juga memperlihatkan perpaduan dengan unsur Thai dan tradisi regional lainnya.
Sebaliknya, Masjid Krue Se di Pattani dikenal dengan penggunaan bata merah, dinding kokoh, dan lengkungan runcing yang memberikan karakter berbeda dari masjid kayu tradisional Melayu. Perbedaan ini menunjukkan bahwa arsitektur masjid di Thailand Selatan tidak berkembang dalam satu bentuk yang seragam.
Perbandingan kedua masjid tersebut memperlihatkan bahwa pengaruh Melayu hadir melalui cara yang berbeda, mulai dari pemilihan material hingga struktur dan bentuk bangunan. Kajian Tapparut (2022), Architectural Development of Mosques in Pattani Province, turut membahas perkembangan arsitektur masjid di Pattani serta beragam pengaruh yang membentuknya dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perubahan arsitektur masjid dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu adaptasi terhadap gaya arsitektur lokal dan pengaruh luar, terutama tradisi Persia di Iran serta arsitektur Mughal di India.
Masjid Raya Pattani menjadi contoh penting karena penggunaan kubah berbentuk bawang dan gaya Mughal turut memengaruhi desain masjid lain di Pattani dan provinsi sekitarnya. Meski bentuk luarnya mengalami perubahan, orientasi dasar tata ruang masjid tetap dipertahankan untuk mendukung pelaksanaan ibadah.
Istana Yaring: Perpaduan Arsitektur Melayu dan Thai
Istana Yaring atau Wang Yaring di Provinsi Patani merupakan salah satu contoh perpaduan arsitektur Melayu dan Thai di Thailand Selatan. Dibangun pada 1895, istana ini memperlihatkan karakter arsitektur yang terbentuk melalui pertemuan tradisi Melayu, Siam, dan Tionghoa. Dalam artikel yang diterbitkan oleh Mohd Jaki Mamat, Puteri Shireen Jahn Kassim, dan Noor Hanita Abdul Majid (2019), Pattani’s Architectural Epitome of the Yaring Palace: Journeying the Historical Phases of a Regional Design Language, yang mengkaji istana ini sebagai representasi perkembangan bahasa desain regional Patani yang mencerminkan interaksi antarkebudayaan.
Keunikan istana terlihat dari fasad atau tampak depan bangunan, yang memiliki komposisi relatif simetris dengan bagian tengah sebagai titik perhatian dan tangga melengkung menuju lantai atas. Atapnya tersusun bertingkat dengan bentuk dasar pelana, sementara bagian tepi dan puncaknya dihiasi elemen dekoratif yang memperlihatkan pengaruh arsitektur Thai.
Susunan atap serta penggunaan kayu juga memiliki kemiripan dengan tradisi bangunan Melayu di Semenanjung Melayu. Perpaduan unsur tersebut memperlihatkan bagaimana berbagai tradisi arsitektur dapat disatukan dalam satu bangunan tanpa sepenuhnya menghilangkan karakter lokal Pattani.
Selain bentuk atap, ornamen kayu menjadi bagian penting dari karakter visual Istana Yaring. Penggunaan motif tumbuhan atau vegetal motifs pada elemen dekoratif, seperti kisi-kisi kayu atau kerawang, dan panel berukir. Motif berupa daun dan sulur tumbuhan disusun menjadi pola hias yang sekaligus memperlihatkan keterampilan pertukangan lokal.
Dari segi tata ruang, istana ini juga memiliki denah menyerupai huruf U dengan halaman terbuka di bagian tengah. Penelitian tersebut mengaitkan susunan halaman ini dengan pengaruh tata ruang Tionghoa, sehingga karakter istana tidak hanya memperlihatkan perpaduan Melayu dan Thai, tetapi juga unsur budaya lainnya.
Istana Yaring menunjukkan bahwa identitas arsitektur Thailand Selatan tidak terbentuk dari satu tradisi tunggal. Bentuk atap, ornamen kayu, komposisi fasad, dan susunan ruang memperlihatkan bagaimana pengaruh Melayu, Thai, dan Tionghoa diolah menjadi karakter bangunan yang khas.
Berbeda dari rumah tradisional yang merekam kehidupan domestik atau masjid yang memperlihatkan perkembangan arsitektur keagamaan, istana ini juga menunjukkan hubungan antara desain bangunan, identitas budaya, dan kekuasaan. Dengan demikian, Istana Yaring menjadi contoh konkret bahwa sejarah pertemuan budaya di Pattani dapat ditelusuri melalui bentuk fisik dan detail arsitekturnya.
Pada akhirnya, arsitektur Thailand Selatan mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya ditemukan di dalam buku, arsip, atau museum. Sejarah juga dapat dibaca melalui rumah yang menyesuaikan diri dengan iklim, masjid yang dibangun menggunakan keterampilan lokal, dan istana yang merekam hubungan antarkebudayaan.
Karena itu, menjaga warisan arsitektur Melayu-Patani bukan hanya persoalan mempertahankan kayu dan bata agar tidak lapuk. Lebih dari itu, pelestarian merupakan upaya menjaga sumber pengetahuan yang memungkinkan masyarakat memahami perjalanan sejarahnya sendiri. Sebab, ketika bangunan bersejarah hilang tanpa dokumentasi dan pemahaman yang memadai, kita tidak hanya kehilangan bentuk fisik, tetapi juga salah satu cara untuk membaca kehidupan manusia yang pernah membangunnya.
