Konten dari Pengguna

Bukan Sekedar Bekerja,Generasi Muda Juga Ingin Berkembang

Dinda Saputri

Dinda Saputri

Mahasiswa Manajemen universitas pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dinda Saputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi generasi muda bekerja. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generasi muda bekerja. Foto: Dok. Pribadi

Stigma "generasi stroberi", "malas", dan "kebanyakan memilih-milih" sering dialamatkan kepada anak muda. Padahal masalahnya jarang soal mau atau tidak mau bekerja. Banyak dari mereka ingin bekerja, tetapi pintunya sempit.

Datanya bicara. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 9,9 juta dari 44,47 juta anak muda usia 15-24 tahun, atau 22,25%, berstatus NEET (tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan) pada 2023. Angka itu memang turun menjadi 19,44% pada 2025, tetapi masih hampir satu dari lima anak muda. Perlu diingat, NEET tidak sama dengan pengangguran. Sebagian dari mereka bahkan tidak sedang mencari kerja. Penyebabnya beragam, mulai dari putus asa, keterbatasan finansial, sulitnya akses transportasi dan pendidikan, hingga kewajiban rumah tangga. Alasan-alasan itu bukan tanda kemalasan.

Di sinilah "bukan sekadar bekerja" menjadi penting. Generasi muda tidak menolak kerja keras. Yang mereka cari adalah pekerjaan yang layak: upah yang cukup untuk hidup, jam kerja yang manusiawi, ruang untuk belajar, dan kepastian bahwa tenaga mereka tidak habis tanpa arah. Ketika lowongan menuntut pengalaman bertahun-tahun untuk posisi pemula, dan kontrak kerja terasa rapuh, wajar kalau mereka bertanya apakah pekerjaan itu sepadan.

Di sisi lain, banyak anak muda yang sudah bekerja sambil kuliah, merawat keluarga, atau membangun usaha kecil. Mereka mengerjakan banyak hal sekaligus, tetapi sering tidak dianggap sebagai "pekerja" dalam bayangan orang. Keinginan untuk bekerja itu nyata, hanya saja wadahnya belum memadai.

Karena itu, yang perlu dibenahi bukan semangat anak muda, melainkan ekosistemnya. Dunia usaha perlu membuka lebih banyak pintu bagi lulusan baru lewat magang berbayar dan pelatihan yang jelas. Lembaga pendidikan perlu menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan lapangan. Pemerintah perlu memastikan program pelatihan benar-benar berujung pada pekerjaan. Dan kita semua perlu berhenti menilai generasi muda dari stereotipnya.

Pada akhirnya, anak muda tidak meminta dimanjakan. Mereka hanya meminta kesempatan yang adil, agar bekerja bukan sekadar bertahan hidup, tetapi juga jalan untuk bertumbuh.

Sumber:

• BPS, data NEET Agustus 2023 (dikutip Pajakku)

• BPS, angka youth NEET 2025 (dikutip GoodStats)

penulis : Dinda Saputri