KKN, Feed Instagram, dan Dilema Ekspresi: antara Realita dan Representasi
Tulisan dari Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Survei belum selesai, tapi aku sudah memilih present.
Tripod mini masuk ransel, ring light ikut dibawa. Bukan untuk acara resmi, tapi untuk jaga-jaga: siapa tahu ada momen yang “pantas dibagikan”. Aku, seperti banyak mahasiswa lain, sedang bersiap menjalani KKN. Tapi jujur saja —di balik semangat mengabdi, ada dorongan halus untuk juga menampilkan pengabdian itu di media sosial.
Feed Instagram harus rapi, postingan harus konsisten. Bukan semata demi gaya, tapi bagian dari ekspresi diri, bagian dari narasi yang ingin kubangun: "Aku aktif, aku peduli, aku kontribusi."
Lalu aku sadar, aku tidak sendiri. KKN bukan lagi hanya soal kerja lapangan. Ia sudah merambah ke layar-layar kaca, ke caption inspiratif, ke video estetik dengan musik yang pas. Pengabdian kini tak hanya dilakukan—tapi juga ditampilkan.
Dan di titik itulah, aku mulai bertanya: di mana batas antara ekspresi dan performa? Antara realita dan representasi?
Media Sosial sebagai Panggung
Dalam sosiologi, Erving Goffman menyebut konsep dramaturgi: setiap orang adalah aktor sosial yang tampil di “panggung depan” untuk mempertahankan citra diri di mata orang lain. Dalam konteks KKN, media sosial adalah panggung utama —tempat kita membentuk persona sebagai mahasiswa yang turun ke masyarakat, penuh semangat, dan berdampak.
Masalahnya, seperti aktor di teater, tak semua yang ditampilkan mencerminkan apa yang benar-benar terjadi.
Mungkin saja, program belum berjalan lancar, warga belum terlalu akrab, tapi unggahan kita menampilkan seolah semuanya mengalir indah. Kita mengedit, menyusun caption, memilih foto terbaik—bukan untuk memalsukan, tapi untuk menyajikan versi yang layak konsumsi publik.
Ketika Simulasi Menggeser Realita
Sosiolog Prancis, Jean Baudrillard, menyebut fenomena ini sebagai simulakra —di mana representasi (gambar, simbol, narasi) menjadi lebih penting daripada kenyataan itu sendiri. Dalam konteks KKN, bisa jadi foto saat menyapu halaman atau video sedang menanam pohon menjadi lebih dikenal dan diingat publik daripada dampak nyata program itu sendiri.
Baudrillard menyebut bahwa dalam masyarakat posmodern, realitas bisa "terhapus" oleh simbol-simbol yang kita bangun. Kita sibuk mewakili kegiatan sosial, hingga terkadang lupa menghayatinya.
Bukannya tidak boleh membuat konten, tapi ketika konten menjadi tujuan, bukan lagi sarana, maka pengabdian bisa kehilangan ruhnya.
Antara Eksistensi dan Esensi
Di sisi lain, kita juga tak bisa menafikan bahwa ekspresi itu penting. Sebagai generasi digital, kita memang dibentuk untuk hadir—baik secara fisik maupun digital. Mengunggah kegiatan adalah cara kita membangun eksistensi sosial, membagi pengalaman, bahkan menginspirasi.
Dalam konteks ini, media sosial juga bisa menjadi alat dokumentasi, refleksi, dan bahkan advokasi.
Masalahnya bukan pada ekspresinya, tapi pada intensinya.
Apakah kita benar-benar hadir di masyarakat, atau hanya sekadar datang untuk konten? Apakah kita menjalani proses sosial dengan warga, atau sekadar mengumpulkan bahan postingan? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk kita bawa selama masa KKN berlangsung.
Menghidupkan Pengabdian, Bukan Sekadar Memamerkannya
Sebagai mahasiswa yang juga aktif di media sosial, aku tahu dilema ini tidak sederhana. Aku pun masih ingin membagikan prosesku, bukan untuk pamer, tapi sebagai bentuk keterlibatan. Tapi kini, aku ingin lebih jujur. Bahwa ada hari-hari melelahkan. Ada program yang gagal. Ada warga yang tidak langsung terbuka.
Dan semua itu bagian dari pengabdian yang sesungguhnya—bukan hanya yang terlihat cantik di layar, tapi juga yang terasa berat di hati.
KKN harusnya menjadi ruang belajar, bukan panggung pencitraan. Media sosial boleh menjadi cermin, tapi jangan sampai ia menjadi topeng.
Aku ingin tetap mengunggah perjalanan KKN-ku nanti. Tapi dengan satu niat baru: bukan untuk mengesankan orang lain, tapi untuk merekam prosesku memahami realitas sosial. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang paling viral, tapi siapa yang paling benar-benar hadir.

