Ngepit Trisna: Kolaborasi Budaya dan UMKM yang Menghidupkan Ruang Publik Desa Branjang

Matematika - Universitas Diponegoro
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nadhifa Pasha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SEMARANG - Kolaborasi antara Komunitas Terasara di bawah naungan M. Hamdan Mukafi, S.S., M.A., bersama mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Diponegoro (Undip) sukses mengadakan acara Ngepit Trisna. Kegiatan ini digelar pada Sabtu (31/10/2026) di Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan ruang publik desa sebagai tempat belajar budaya sekaligus memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga setempat.
Kemeriahan di lapangan tentunya tidak luput dari kerja keras para panitia, antusiasme peserta, juga sambutan hangat dari warga lokal Desa Branjang. Menyusuri setiap sudut Desa Branjang dimulai dengan ngepit mengelilingi desa dengan rute yang tersedia, menyaksikan berbagai penampilan budaya yang menakjubkan, mengunjungi setiap lapak UMKM, dan diselingi juga dengan pembagian doorprize.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah Tari Angguk Jos. Gerakan yang energik dan lincah ditampilkan dengan penuh semangat sehingga menambah kemeriahan acara. Penampilan ini sekaligus menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kesenian budaya kepada para peserta yang hadir.
Setelah menikmati berbagai rangkaian kegiatan tersebut, yuk, kita dengarkan langsung cerita dan pengalaman masyarakat yang hadir dalam Ngepit Trisna.
Muhammad Agung Nugroho, salah satu mahasiswa Universitas Diponegoro yang mengikuti kegiatan gowes kali ini, memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi fisik, terutama bagi mahasiswa yang disibukkan dengan aktivitas perkuliahan. “Rutenya itu naik-turun tetapi juga sedikit biasa sih buat saya, soalnya saya juga sering olahraga lah. Selain sangat bermanfaat juga buat saya sendiri, ini bermanfaat juga untuk anak kos yang jarang olahraga juga,” ujar Agung.
Selain bersepeda, para peserta juga diberikan kesempatan untuk mengunjungi berbagai UMKM yang ada di Desa Branjang mulai dari sapi perah, kopi, keripik, sapu ijuk, gula aren, hingga kerajinan resin. Agung mengungkapkan bahwa UMKM kopi menjadi salah satu yang menarik perhatiannya karena ia bisa melihat proses pengolahannya secara manual. Ia juga berkesempatan untuk mencicipi kopi hasil produksi lokal tersebut. “UMKM yang menurut saya menarik itu UMKM kopi, karena UMKM kopi itu diracik secara manual mulai dari pengeringan, penyangraian, penggilingan dan juga sampai jadi kopi itu bisa dinikmati oleh kita juga. Kita juga disediakan untuk mencicipi kopi yang telah dibuat di sana. Rasa dari kopi tersebut tidak jauh berbeda dengan kopi biasanya, tetapi menurut saya kopinya sedikit lebih harum saat dihirup dan juga sedikit berbeda dengan kopi yang lainnya, begitu,” ujar Agung
Acara ini juga memberikan dampak ekonomi positif secara langsung bagi warga desa. Pengelola UMKM sapi perah juga menyampaikan rasa syukurnya atas respon para peserta dan mahasiswa Undip.
"Alhamdulillah, respons saya bagus, ya. Saya terima kasih sekali untuk Desa Wisata Branjang dan adik-adik dari Undip. Saya berterima kasih dan berharap UMKM dari peternakan (sapi perah) bapak saya bisa lebih dikenal masyarakat, bisa lebih laris manis lah” ungkapnya.
Hajar Sabrani Yudi Yuda, selaku pengelola Desa Wisata Branjang, menyampaikan bahwa acara Ngepit Trisna memberikan dampak nyata bagi warga Desa Branjang, khususnya UMKM. "Kalau dampak nyatanya tentunya ke UMKM karena banyak UMKM desa yang dapat membuka bazar di acara ini dan langsung mendapatkan penjualan yang cukup banyak.” jelasnya.
Selain memberikan manfaat ekonomi, ia berharap setelah event ini semakin banyak universitas yang dapat berkunjung dan berkolaborasi bersama dengan Desa Wisata Branjang. "Harapannya nanti semakin banyak universitas yang datang dan bekerja sama dengan Desa Wisata Branjang untuk mengadakan acara-acara di desa," pungkasnya.
Pada akhirnya, Ngepit Trisna tidak hanya sekadar menjadi acara yang berlalu begitu saja, melainkan dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan pada masa mendatang. Acara ini telah menyatukan esensi ngepit (bersepeda) dan trisna (rasa cinta) menjadi sebuah kegiatan yang dapat memperkenalkan Desa Branjang kepada masyarakat luas, menggerakkan roda ekonomi UMKM, serta melestarikan budaya yang ada di Desa Branjang.
