Konten dari Pengguna

Apakah Adat Madura Masih Kental?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dita Nuri Mayangsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

                                        orang madura(sumber: unair.ac.id)
zoom-in-whitePerbesar
orang madura(sumber: unair.ac.id)

Tidak sedikit opini yang menggaungkan bahwa orang Madura dapat ditemui di berbagai wilayah, baik di dalam maupun di luar Indonesia. Anggapan tersebut memang tidak keliru, sebab masyarakat Madura dikenal sebagai pekerja keras yang berani merantau demi memperbaiki nasib. Namun, bersamaan dengan itu, muncul pula stereotipe bahwa orang Madura memiliki watak keras dan identik dengan tindakan carok. Stereotipe semacam ini kerap melekat dalam imajinasi masyarakat luar Madura, meskipun tidak selalu merefleksikan realitas yang sesungguhnya.

Stereotipe tersebut memang tidak sepenuhnya keliru jika melihat sejumlah peristiwa di masa lalu, baik yang terjadi secara individual maupun komunal. Namun, akan menjadi keliru apabila kemudian muncul anggapan bahwa semua orang Madura memiliki sifat yang sama, yakni keras dan mudah terlibat konflik. Pada kenyataannya, karakter masyarakat Madura sangat beragam, dan tak seluruhnya berwatak demikian.

Pulau Madura terdiri atas empat kabupaten. Ketika seorang pendatang menyeberang melalui Jembatan Suramadu, wilayah pertama yang akan menyambutnya adalah Kabupaten Bangkalan, terletak di bagian paling barat Madura. Di sana, pengunjung akan melihat ciri khas masyarakat Madura yang mudah dikenali: bersarung dan mengenakan peci. Namun, yang tampak di permukaan itu hanya sebagian kecil dari identitas mereka. Di balik penampilan yang sederhana tersebut, terdapat nilai-nilai dan kebiasaan yang tidak banyak diketahui oleh para pendatang.

Setelah Bangkalan, pendatang akan memasuki Kabupaten Sampang, kemudian Pamekasan, dan akhirnya sampai di ujung timur Madura, yakni Sumenep. Keempat kabupaten yang membentuk wilayah Madura tersebut memiliki keberagaman karakter, mulai dari logat, dialek, hingga wataknya. Dengan adanya perbedaan tersebut, tentu tidak bijak jika semua orang Madura dianggap memiliki pola perilaku yang sama.

Jika ingin menghakimi Madura, atau lebih khsusus manusia Madura, alangkah lebih baiknya tentukan terlebih dahulu: Mau ngomonging Madura yang mana?

Yang perlu ditelusuri terlebih dahulu adalah muara munculnya anggapan tersebut dalam benak masyarakat Indonesia. Apakah hal itu disebabkan oleh budaya merantau masyarakat Madura? Atau mungkin ada sebagian orang Madura yang secara tidak langsung meromantisasi citra keras tersebut? Bisa juga stereotipe itu terbentuk karena media sosial maupun media cetak yang kerap menyoroti kasus carok dan memberitakannya secara berulang, seolah tidak ada yang menarik dari Madura kecuali carok.

Masyarakat Madura telah lama mengenal perjalanan jauh sebagai bagian dari hidup mereka. Tanah tandus nan sempit membuat warga Madura memilih meninggalkan kampung halaman. Mereka merajut asa di kota-kota besar, bahkan lintas negeri. Karena itu, perantau Madura mudah ditemukan di mana pun. Di pelabuhan. Di pasar. Di sudut-sudut kota yang tak banyak diperhatikan orang.

Dalam perjalanan panjang itu, mereka membawa watak yang ditempa oleh kehidupan yang tidak selalu ramah: kerja keras, bermartabat, dan tak ingin ditindas. Nilai-nilai itu disemai sejak kanak, diwarisi orang tua, dari kisah para leluhur yang menjunjung kehormatan. Namun, kehidupan perantauan tidak melulu mulus. Persaingan dan tekanan kadang membuat mereka harus berdiri tegak, bersuara lebih nyaring, atau mempertahankan harga dirinya dengan tegas. Pada titik inilah kerap muncul salah paham. Watak menjaga kehormatan dianggap sebagai ancaman. Keteguhan hati dibaca sebagai amarah.

Orang luar melihat sebagian peristiwa dan menjadikannya dasar untuk menilai keseluruhan. Maka lahirlah anggapan bahwa orang Madura adalah sosok-sosok keras yang mudah bertikai. Padahal, karakter itu muncul bukan untuk menakuti siapapun, tapi sebagai upaya bertahan.

Jika budaya merantau memang ikut membentuk stereotipe tersebut, itu terjadi bukan karena watak bawaan. Melainkan karena perjuangan panjang untuk sekadar tetap tegak di tengah dunia yang tidak memberi mereka ruang.

Kadang kala, suatu anggapan hidup bukan hanya karena pandangan orang luar. Ia tumbuh karena orang dalam secara sadar turut meromantisasinya. Begitu pula yang kerap saya temui pada sebagian warga Madura.

Dalam kisah yang diwariskan turun-temurun, keberanian dan kehormatan menempati tempat yang tinggi. Seseorang dihargai bukan karena banyak bicara, melainkan karena keberaniannya menjaga harga diri dan nama keluarga. Nilai itu membentuk kebanggaan tersendiri. Maka tidak sedikit yang merasa, dicap keras bukanlah cacian, melainkan bentuk pengakuan bahwa mereka tidak mudah dipijak. Kadang, dalam obrolan santai di warung kopi, terdengar ungkapan yang menegaskan bahwa orang Madura tidak pernah mundur menghadapi ancaman. Ungkapan itu diceritakan berulang, hingga mengakar dan tersebar. Dalam beberapa kasus, sikap menjaga martabat ini bahkan ditampilkan secara berlebihan hanya agar orang lain tahu bahwa mereka tidak bisa diremehkan.

Namun, tidak semua orang menyadari bahwa kebanggaan tersebut dapat menjadi pedang bermata dua. Ketegasan yang lahir dari nilai luhur bisa dibaca sebagai kekerasan oleh mata yang tidak mengenal konteks. Maka stereotipe itu pun menjadi semakin kuat: bahwa orang Madura keras karena sebagian dari mereka mendaku demikian.

Padahal, di balik watak tegas yang sering dibicarakan orang, ada kerendahan hati dan kehangatan yang jarang tersorot. Ada keramahan yang hadir ketika seseorang datang dengan niat baik. Ada kesetiaan yang tidak tergoyahkan ketika persaudaraan terjalin.

Kita hanya perlu lebih lama melihatnya, tidak sekadar sampling dari kejadian-kejadian yang paling bising.

Stereotipe tidak hanya hidup di jalanan atau dalam percakapan sehari-hari. Media turut membentuk dan memperkuat gambaran yang tersimpan di benak banyak orang. Ketika sebuah peristiwa kekerasan melibatkan orang Madura, berita itu menyebar cepat, ditulis dengan judul yang mencolok dan nada yang menguatkan sensasi. Kata carok selalu muncul di halaman depan, seakan menjadi penanda yang mewakili seluruh watak masyarakat Madura.

Akan tetapi, media jarang menuturkan kisah tentang mereka yang bekerja sejak fajar untuk menghidupi keluarga. Jarang bercerita tentang anak-anak Madura yang menimba ilmu hingga jauh dari kampung halaman. Jarang menampilkan keramahan warga desa yang selalu siap menawarkan segelas air kepada tamu yang datang. Semua itu tenggelam di balik narasi konflik yang dianggap lebih menarik perhatian publik.

Ketika suatu citra ditayangkan berulang-ulang, ia berubah menjadi kebenaran yang diyakini banyak orang, meski tak pernah benar-benar menggambarkan keseluruhan realitas. Orang luar lalu menilai orang Madura hanya dari peristiwa yang paling keras dan paling mencolok. Sementara sisi kemanusiaan mereka—yang lembut, setia, bersahaja—nyaris tak diberi tempat.

Kita mungkin tak sepenuhnya dapat menyalahkan media. Media mungkin tidak bermaksud membangun prasangka. Tetapi sorotan yang tidak seimbang menciptakan bayangan yang membesar, menutup cahaya yang seharusnya juga terlihat. Dan akhirnya, orang-orang mengenal Madura hanya melalui berita, bukan melalui kehidupan yang sebenarnya.

Apakah Madura masih ada jika stereotipe tersebut sudah dicabut?