LDKM: Langkah Awal Belajar Memimpin

Mahasiswa fakultas hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Dita Nuri Mayangsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi seorang mahasiswa bukan hanya tentang mengikuti perkuliahan dan mendapatkan nilai yang baik. Di lingkungan kampus, mahasiswa juga dituntut untuk memiliki kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, bertanggung jawab, serta mampu mengambil keputusan. Salah satu kegiatan yang menurut saya dapat melatih kemampuan tersebut adalah Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM).
Pada tanggal 4 sampai dengan 6 September 2026, saya berkesempatan mengikuti kegiatan LDKM. Awalnya, saya menganggap kegiatan ini hanya sebagai kegiatan kampus yang berisi materi tentang kepemimpinan dan organisasi. Namun, setelah mengikutinya secara langsung, saya menyadari bahwa LDKM memberikan pengalaman yang jauh lebih luas. Saya tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tetapi juga belajar mengenai kerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, dan bagaimana menghadapi berbagai tantangan bersama orang lain.
Selama mengikuti LDKM, terdapat berbagai materi yang diberikan kepada peserta. Beberapa di antaranya adalah kepemimpinan, keorganisasian, manajemen konflik, etika, moral dan hukum, peluang karier, serta public speaking.
Dari berbagai materi tersebut, materi tentang kepemimpinan menjadi materi yang paling berkesan bagi saya. Sebelumnya, saya belum terlalu memahami apa sebenarnya arti kepemimpinan dan bagaimana seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik.
Melalui materi tersebut, saya mulai memahami bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang memiliki jabatan atau memberikan perintah kepada orang lain. Seorang pemimpin juga harus mampu mengarahkan, bertanggung jawab, berkomunikasi dengan baik, serta memberikan contoh kepada orang-orang yang dipimpinnya.
Saya juga mendapatkan pemahaman mengenai perbedaan antara **kepemimpinan dan pemimpin**. Kepemimpinan lebih berkaitan dengan kemampuan dan proses seseorang dalam memengaruhi, mengarahkan, serta mengajak orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Sementara itu, pemimpin merupakan individu yang memiliki tanggung jawab dan wewenang dalam suatu kelompok atau organisasi.
Dari sini saya menyadari bahwa seseorang yang memiliki jabatan belum tentu mampu menjadi pemimpin yang baik. Kepemimpinan justru dapat terlihat dari bagaimana seseorang bersikap, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan orang lain.
Selain mendapatkan berbagai materi di dalam ruangan, LDKM juga memberikan pengalaman melalui kegiatan penjelajahan. Sebelum mengikuti LDKM, saya tidak mengetahui bagaimana kegiatan penjelajahan akan dilakukan. Saya hanya membayangkan bahwa kegiatan tersebut mungkin berupa perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.
Ternyata, penjelajahan dalam LDKM memiliki beberapa pos yang harus kami selesaikan. Di setiap pos terdapat tugas dan tantangan yang harus dihadapi bersama kelompok.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang cukup berkesan bagi saya. Kami harus berdiskusi, membagi tugas, saling membantu, dan memastikan bahwa setiap anggota kelompok dapat berpartisipasi. Tidak semua tantangan dapat diselesaikan dengan mudah. Ada saatnya kami merasa bingung atau kesulitan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
Namun, justru dari kesulitan tersebut saya belajar bahwa kerja sama sangat penting. Ketika setiap anggota mau memberikan pendapat dan saling membantu, masalah yang awalnya terasa sulit menjadi lebih mudah untuk diselesaikan.
Dari kegiatan penjelajahan tersebut, saya belajar bahwa dalam sebuah kelompok tidak bisa hanya mengandalkan satu orang. Setiap anggota memiliki peran masing-masing. Keberhasilan kelompok merupakan hasil dari kerja sama seluruh anggota, bukan hanya usaha seseorang.
Hal lain yang saya rasakan selama mengikuti LDKM adalah pentingnya kedisiplinan. Selama kegiatan berlangsung, peserta harus mengikuti berbagai aturan dan jadwal yang telah ditentukan.
Pada awalnya, mengikuti jadwal kegiatan yang cukup padat mungkin terasa melelahkan. Namun, dari situ saya belajar bahwa disiplin merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan seorang mahasiswa, terutama ketika nantinya terlibat dalam organisasi maupun dunia kerja.
Kedisiplinan bukan hanya tentang datang tepat waktu, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu menjalankan tanggung jawab yang telah diberikan. Ketika kita berada dalam sebuah kelompok, keterlambatan atau kelalaian dari satu orang dapat memengaruhi anggota kelompok lainnya.
Hal tersebut membuat saya semakin memahami bahwa menjadi pribadi yang bertanggung jawab tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.
Salah satu hal yang tidak saya duga dari kegiatan LDKM adalah saya menjadi lebih mengenal dan akrab dengan teman-teman saya.
Sebelum mengikuti kegiatan ini, mungkin saya hanya mengenal beberapa teman sebatas teman kuliah. Kami bertemu ketika ada kegiatan perkuliahan, tetapi belum tentu sering berkomunikasi atau bekerja sama.
Namun, selama LDKM, kami harus mengikuti berbagai kegiatan secara bersama-sama. Mulai dari mengikuti materi, mengerjakan tugas kelompok, mengikuti penjelajahan, hingga menghadapi berbagai tantangan.
Dari kegiatan tersebut, kami menjadi lebih sering berkomunikasi. Kami juga belajar mengetahui karakter masing-masing. Ada teman yang lebih aktif memberikan pendapat, ada yang lebih banyak membantu dalam menyelesaikan tugas, dan ada juga yang mampu memberikan semangat ketika anggota kelompok mulai merasa lelah.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa kegiatan seperti LDKM bukan hanya tentang mendapatkan materi kepemimpinan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan teman-teman.
Setelah mengikuti LDKM, pandangan saya mengenai kepemimpinan menjadi sedikit berbeda. Sebelumnya, saya mungkin menganggap pemimpin sebagai seseorang yang berada di posisi paling atas dan memiliki wewenang untuk memberikan arahan kepada orang lain.
Namun, setelah mendapatkan materi dan mengikuti berbagai kegiatan secara langsung, saya memahami bahwa kepemimpinan memiliki makna yang lebih luas.
Menurut saya, menjadi pemimpin berarti mampu bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil, mampu bekerja sama dengan orang lain, mau mendengarkan pendapat, dan mampu memberikan contoh yang baik.
Seorang pemimpin juga tidak harus selalu menjadi orang yang paling pintar atau paling banyak berbicara. Terkadang, pemimpin adalah orang yang mampu mendengarkan anggota kelompoknya, memahami permasalahan yang ada, kemudian mencari solusi bersama.
Hal tersebut menjadi salah satu pelajaran yang paling saya ingat dari LDKM.
Tiga hari mengikuti LDKM, yaitu dari tanggal 4 sampai dengan 6 September 2026, memberikan saya banyak pengalaman baru. Saya mendapatkan ilmu mengenai kepemimpinan, organisasi, manajemen konflik, etika, moral dan hukum, peluang karier, serta public speaking.
Namun, yang paling penting bagi saya bukan hanya materi yang disampaikan, melainkan pengalaman yang saya dapatkan selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Saya belajar bahwa kerja sama dapat membuat sebuah kelompok menjadi lebih kuat. Saya belajar bahwa kedisiplinan dan tanggung jawab merupakan hal yang harus dibiasakan. Saya juga belajar bahwa komunikasi menjadi salah satu kunci penting dalam menyelesaikan masalah.
LDKM juga membuat saya lebih berani untuk berinteraksi dengan orang lain dan lebih memahami arti kepemimpinan. Saya menyadari bahwa kemampuan memimpin tidak hanya dibutuhkan ketika menjadi ketua organisasi atau memiliki jabatan tertentu. Kemampuan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika bekerja dalam kelompok, mengikuti organisasi, maupun ketika menghadapi berbagai masalah.
Pada akhirnya, LDKM bukan sekadar kegiatan yang berlangsung selama tiga hari. Bagi saya, kegiatan ini menjadi pengalaman yang memberikan banyak pelajaran dan membuka pandangan baru mengenai kepemimpinan.
Saya berharap ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama LDKM dapat terus saya terapkan dalam kehidupan perkuliahan maupun kehidupan sehari-hari. Karena menjadi seorang pemimpin bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari hanya dalam satu kegiatan, melainkan sebuah proses yang harus terus dilakukan dan dikembangkan.
