Konten dari Pengguna

Fear of Missing Out (FOMO) dan Keputusan Belanja Online Generasi Z

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dita Nurapriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Cuma Lihat-Lihat”, Ujung-Ujungnya Checkout

Generasi muda menggunakan smartphone dalam aktivitas sehari-hari dan berbelanja. Sumber: Vitaly Gariev/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Generasi muda menggunakan smartphone dalam aktivitas sehari-hari dan berbelanja. Sumber: Vitaly Gariev/Unsplash

Pernah nggak, awalnya cuma berniat scrolling TikTok atau Instagram, tetapi tiba-tiba menemukan produk yang sedang viral? Tadinya tidak ada niat membeli, tetapi setelah melihat banyak orang menggunakan produk tersebut, ditambah tulisan “flash sale”, “stok terbatas”, atau “promo hanya hari ini”, tangan justru mulai gatal untuk checkout. Bahkan muncul pikiran, “Kalau sekarang nggak beli, nanti kehabisan nggak ya?”

Situasi seperti ini mungkin terlihat sederhana dan sering dianggap sebagai bagian dari kebiasaan belanja online. Namun, di balik keputusan tersebut terdapat faktor psikologis yang menarik untuk diperhatikan, yaitu Fear of Missing Out (FOMO). FOMO merupakan perasaan takut atau khawatir ketika seseorang merasa tertinggal dari tren, pengalaman, aktivitas, atau sesuatu yang sedang dimiliki maupun dilakukan oleh orang lain.

Fenomena ini semakin mudah ditemukan di era media sosial. Setiap hari, pengguna dapat melihat berbagai konten mengenai kehidupan, tren, produk, dan aktivitas orang lain. Ketika suatu produk terus muncul di media sosial dan digunakan oleh banyak orang, konsumen dapat merasa bahwa produk tersebut sedang menjadi sesuatu yang penting untuk dimiliki.

Generasi Z: Generasi yang Dekat dengan Dunia Digital

Generasi Z merupakan salah satu kelompok yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi digital. Internet dan media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, termasuk ketika mencari informasi mengenai produk dan melakukan pembelian.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221,56 juta orang, dengan tingkat penetrasi sebesar 79,50 persen. Besarnya jumlah pengguna internet tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin terhubung dengan lingkungan digital. (Data APJII mengenai pengguna internet Indonesia)

Bagi Generasi Z, media sosial tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dan mencari hiburan. Platform seperti TikTok dan Instagram juga dapat menjadi tempat untuk mencari rekomendasi, melihat review, mengikuti tren, hingga menemukan produk yang akhirnya dibeli.

Dari Produk Biasa Menjadi Produk yang “Harus Punya”

Pernah melihat satu produk muncul berkali-kali di media sosial sampai akhirnya penasaran ingin membelinya? Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana paparan terhadap suatu produk dapat membentuk ketertarikan konsumen.

Produk yang awalnya tidak terlalu dikenal dapat menjadi viral setelah banyak orang membuat konten mengenainya. Ketika semakin banyak pengguna membicarakan, merekomendasikan, dan menggunakan produk tersebut, muncul persepsi bahwa produk itu sedang populer.

Pada kondisi tertentu, konsumen akhirnya tidak hanya membeli karena membutuhkan produk. Ada keinginan untuk mengikuti tren dan menjadi bagian dari kelompok yang sedang menggunakan produk tersebut. Perasaan tidak ingin tertinggal inilah yang dapat berkaitan dengan FOMO.

“Stok Tinggal Sedikit!” dan Efek Terburu-Buru Membeli

FOMO dalam belanja online sering kali diperkuat oleh strategi pemasaran yang menciptakan rasa urgensi. Konsumen dapat menemukan berbagai pesan seperti “stok terbatas”, “promo berakhir dalam satu jam”, “flash sale”, atau “harga kembali normal setelah live selesai”.

Informasi tersebut membuat konsumen merasa memiliki waktu yang terbatas untuk mengambil keputusan. Akibatnya, konsumen dapat terdorong untuk membeli lebih cepat karena khawatir kesempatan tersebut akan hilang.

Flash sale menjadi salah satu contoh yang paling mudah ditemukan. Potongan harga yang hanya berlaku dalam waktu tertentu dapat membuat konsumen merasa harus segera melakukan pembelian. Padahal, sebelum melihat promo tersebut, konsumen mungkin sebenarnya tidak memiliki rencana untuk membeli produk.

Live Shopping Bikin Susah Berhenti di Keranjang

Selain flash sale, live shopping juga menjadi bagian dari perkembangan belanja online yang dapat memperkuat dorongan membeli. Dalam live shopping, konsumen tidak hanya melihat foto produk, tetapi dapat menyaksikan penjual atau host menjelaskan produk secara langsung.

Situasi menjadi semakin menarik ketika host memberikan promo khusus selama siaran berlangsung, menunjukkan jumlah stok yang tersisa, atau mengatakan bahwa banyak orang sedang melakukan pembelian. Kolom komentar yang ramai dan konsumen lain yang ikut checkout juga dapat memberikan kesan bahwa produk tersebut memang sedang diminati.

Bagi konsumen yang mudah terpengaruh oleh suasana dan tren, kondisi tersebut dapat meningkatkan rasa takut kehilangan kesempatan. Keputusan pembelian akhirnya dapat dilakukan secara spontan tanpa melalui pertimbangan yang panjang.

Ketika Influencer Ikut “Meracuni” Konsumen

Media sosial juga membuat influencer memiliki peran dalam membentuk persepsi konsumen terhadap suatu produk. Ketika seorang influencer menggunakan dan merekomendasikan produk tertentu, pengikutnya dapat menjadi penasaran dan tertarik untuk mencoba.

Jika produk tersebut kemudian digunakan oleh banyak influencer lainnya, rasa bahwa produk tersebut sedang populer dapat semakin kuat. Konsumen dapat merasa bahwa dirinya juga perlu memiliki produk tersebut agar tidak tertinggal dari tren.

Fenomena yang sering disebut sebagai “racun TikTok” sebenarnya menunjukkan bagaimana konten media sosial dapat memengaruhi proses pencarian informasi dan keputusan pembelian. Konsumen yang awalnya hanya melihat konten hiburan dapat berakhir mencari produk, membandingkan harga, hingga melakukan pembelian.

Penelitian Juga Menunjukkan Adanya Hubungan FOMO dengan Pembelian

Fenomena tersebut tidak hanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga telah dibahas dalam berbagai penelitian. Penelitian Wartono, Darmun, dan Nurauliah pada 2025 mengenai Generasi Z dalam konteks TikTok menemukan bahwa FOMO memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.

Penelitian Sofiana dan Hayu pada 2025 juga menemukan adanya pengaruh FOMO terhadap perilaku pembelian impulsif Generasi Z. Hal tersebut memperlihatkan bahwa perasaan takut tertinggal dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong konsumen melakukan pembelian secara lebih spontan.

Namun, menariknya, tidak semua penelitian menghasilkan kesimpulan yang sama. Penelitian mengenai konsumen Generasi Z di TikTok Shop oleh Chairunnisa dan Saragih menemukan bahwa kualitas produk dan live streaming berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian, sedangkan FOMO tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.

Perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa FOMO tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab seseorang melakukan pembelian. Karakteristik konsumen, jenis produk, kondisi pembelian, serta faktor lain dapat membuat pengaruh FOMO berbeda pada setiap konsumen.

FOMO Bukan Berarti Semua yang Viral Harus Dibeli

Meskipun FOMO dapat mendorong pembelian, konsumen tetap memiliki pertimbangan lain sebelum mengambil keputusan. Harga, kualitas, kebutuhan, manfaat produk, review konsumen, reputasi merek, dan kondisi keuangan juga menjadi faktor yang penting.

Seseorang mungkin tertarik membeli produk karena sedang viral. Namun, setelah melihat harganya terlalu mahal atau mengetahui bahwa produk tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, konsumen dapat memutuskan untuk tidak membeli.

Artinya, FOMO dapat menjadi pemicu munculnya keinginan membeli, tetapi keputusan akhir tetap dapat dipengaruhi oleh pertimbangan rasional.

Masalahnya: Jangan Sampai FOMO Berujung Impulsive Buying

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya pembelian impulsif. Pembelian impulsif terjadi ketika konsumen membeli sesuatu secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.

Dalam belanja online, kondisi tersebut semakin mudah terjadi karena proses transaksi sangat sederhana. Konsumen cukup menemukan produk, memasukkannya ke keranjang, kemudian melakukan pembayaran. Jika ditambah dengan promo terbatas, influencer, produk viral, dan informasi stok yang sedikit, keputusan pembelian dapat dilakukan hanya dalam waktu singkat.

Akibatnya, konsumen bisa saja membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Setelah rasa FOMO tersebut hilang, konsumen baru menyadari bahwa produk yang dibeli ternyata bukan kebutuhan utama.

Jadi, Sebelum Checkout Coba Tanya Diri Sendiri

Mengikuti tren sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Membeli produk yang sedang viral juga tidak selalu berarti buruk. Yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik keputusan tersebut.

Sebelum membeli, konsumen dapat bertanya kepada diri sendiri, “Aku benar-benar membutuhkan produk ini atau hanya takut ketinggalan tren?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu konsumen membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Konsumen juga dapat membandingkan harga, membaca review, mempertimbangkan kualitas produk, serta menyesuaikan pembelian dengan kemampuan finansial. Dengan begitu, keputusan pembelian tidak hanya didasarkan pada emosi sesaat.

FOMO Bisa Jadi Strategi Marketing, Tapi Harus Tetap Etis

Dari sisi pelaku usaha, FOMO dapat dimanfaatkan sebagai salah satu strategi pemasaran untuk menarik perhatian konsumen. Flash sale, live shopping, promo terbatas, influencer marketing, dan konten mengenai produk yang sedang tren dapat digunakan untuk meningkatkan ketertarikan konsumen.

Namun, strategi tersebut sebaiknya tetap dilakukan secara jujur, transparan, dan etis. Informasi mengenai harga, jumlah stok, batas waktu promo, dan manfaat produk harus disampaikan sesuai kondisi sebenarnya.

Jangan sampai strategi menciptakan rasa takut kehilangan kesempatan justru berubah menjadi cara untuk memanipulasi konsumen. Pemasaran yang baik bukan hanya tentang membuat konsumen melakukan pembelian, tetapi juga membangun kepercayaan agar konsumen tetap merasa aman dan puas setelah melakukan transaksi.

Pada Akhirnya, Bukan Semua yang Viral Harus Masuk Keranjang

FOMO menjadi fenomena yang semakin relevan dalam perilaku konsumen di era digital. Media sosial dan e-commerce memberikan kemudahan bagi Generasi Z untuk mendapatkan informasi dan melakukan pembelian, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan berbagai stimulus yang dapat memengaruhi keputusan konsumsi.

FOMO dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong Generasi Z melakukan pembelian, terutama ketika dipadukan dengan produk viral, influencer, flash sale, live shopping, dan promosi dengan waktu terbatas. Namun, FOMO bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan pembelian karena konsumen tetap mempertimbangkan harga, kualitas, kebutuhan, manfaat, dan kemampuan finansial.

Pada akhirnya, mengikuti tren boleh saja, tetapi jangan sampai takut ketinggalan membuat kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Karena terkadang, keputusan terbaik bukanlah menekan tombol checkout, tetapi menutup aplikasi dan bertanya kepada diri sendiri: “Ini kebutuhan, atau cuma FOMO?”