Dompet Dhuafa Gelar Ruang Cerita Daring Untuk Aksi Kemanusiaan

Dompet Dhuafa Republika adalah lembaga nirlaba milik masyarakat indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dompet Dhuafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

JAKATA - Upaya peningkatan atas kesiapsiagaan bencana Dan ketahanan komunitas perlu dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dar pemimpin, pelaksanaan lapangan, masyarakat hingga pemuda. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan “Ruang Cerita Daring - Berangkat Bareng, Bangkit Bersama Untuk Kemanusiaan” yang menghadirkan Ahmad Lukman bagian dari DMC Dompet Dhuafa, Dimas Dwi Pangestu CEO Youth Ranger Indonesia dan Slamet Widodo Relawan Ambulance Dompet Dhuafa Yogyakarta, yang membahas mitigasi bencana dan pemberdayaan pemuda berbasis komunitas pada Kamis (7/1/2026).
Narasumber pertama disampaikan kepada Lukman yang menegaskan bahwa penentuan jalur evakuasi Dan titik kumpul tidak boleh dilakukan secara sepihak. Seluruh pihak terkait perlu menyepakati keputusan secara kolektif agar langkah yang diambil dapat dijalankan oleh semua unsur di lapangan. “Penentuan titik kumpul dan jalur evakuasi harus disepakati bersama. Tidak boleh hanya satu pihak, sementara masukan Dari unsur lain seperti petugas keamanan diabaikan” ujar Lukman
Selain perencanaan, Lukman menekankan pentingnya langkah praktis melalui latihan rutin, seperti simulasi evakuasi dan pelatihan pertolongan pertama. menurutnya, kesiapsiagaan lebih efektif jika dibangun secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
Dalam kesempatan yang sama, Dimas Dwi Pangestu memaparkan peran strategis pemuda dalam membangun ketahanan sosial dan keberlanjutan komunitas. Dimas memperkenalkan komunitas Youth Ranger Indonesia, sebuah wadah pengembangan potensi pemuda yang hadir di 34 provinsi dan berfokus pada pelatihan, pendampingan, serta penciptaan pemuda penggerak di daerah. “Anak muda Indonesia tidak pernah kekurangan potensi dan kreativitas. Yang masih kurang adalah akses dan sosok pendamping yang mampu mengarahkan potensi tersebut agar berkembang dan berdampak,” ujar Dimas
Dimas menekankan bahwa keberhasilan sebuah program sosial tidak diukur dari besarnya acara atau jumlah peserta, melainkan dari keberlanjutan program dan partisipasi aktif masyarakat setelah kegiatan dilaksanakan. Dimas juga mendorong penerapan konsep pentahelix framework, yang melibatkan lima sektor di Pemerintahan, akademisi, masyarakat, media, dan sektor swasta, agar program yang dijalankan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Dimas membagikan pengalamannya saat terjun langsung bersama Dompet Dhuafa dalam penyaluran bantuan dan pelaksanaan pendidikan darurat di Aceh. Selain distribusi logistik, tim juga melakukan trauma healing, layanan kesehatan gratis, penyediaan air bersih, serta pendampingan psikososial bagi anak-anak dan warga terdampak. Menurutnya, bantuan kebencanaan perlu dirancang berdasarkan asesmen kebutuhan agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari. (DOMPET DHUAFA)*
