Konten dari Pengguna

Ketika Zakat Dompet Dhuafa Hadirkan Tebus Ijazah, Jaga Asa Cita-cita Agis

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dompet Dhuafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agis bersama orang tuanya menjadi contoh keteladanan dan ketekunan menjadi tonggak dalam menempuh prestasi, namun ekonomi menjadi penghambat dalam laju cita-cita, akhirnya Dompet Dhuafa dengan program Tebus Ijazah.
zoom-in-whitePerbesar
Agis bersama orang tuanya menjadi contoh keteladanan dan ketekunan menjadi tonggak dalam menempuh prestasi, namun ekonomi menjadi penghambat dalam laju cita-cita, akhirnya Dompet Dhuafa dengan program Tebus Ijazah.

BOGOR, JAWA BARAT (27/10/2026)- Dari sebuah sudut ruang kelas SMK swasta di kawasan Ciomas, Kabupaten Bogor, Agisna Putri Sanjaya merenungi lembar-lembar catatan akuntansinya. Sebagai siswi jurusan Akuntansi kelas 12, pertaruhan terbesarnya sudah di depan mata. Ujian kelulusan yang dijadwalkan pada Maret 2027 membutuhkan kelengkapan berkas administrasi.

Namun, langkah dan mental Agis sempat terhenti di persimpangan jalan, sebab ijazah SMP miliknya masih tertahan di sekolah lama lantaran tunggakan biaya yang belum terlunasi. Dan bagi remaja yang bermimpi menjadi seorang psikolog itu, sepotong kertas ijazah bukan sekadar syarat formal, melainkan kunci pembuka pintu masa depannya.

“Bulan September lalu, pihak SMK sudah menanyakan ijazah SMP sebagai syarat ujian. Tapi aku belum bisa ambil karena belum ada uang. Dan aku belum langsung bilang ke Ibu karena nggak mau membebani mereka. Sempat terpikir untuk berhenti sekolah saja kalau memang kesulitan biaya. Tapi Ibu dan Kakak selalu menguatkan, bilang tugas aku cuma belajar yang rajin, jangan pikirkan biaya karena itu kewajiban mereka. Bagi aku, ijazah itu penting,” tutur Agis perlahan.

Awan mendung mulai menaungi keluarga Agis di tahun 2020. Pandemi Covid-19 menghantam ekonomi keluarga ketika sang ayah yang bekerja sebagai buruh pabrik mendadak terkena badai pemutusan hubungan kerja (PHK) tanpa pesangon.

Agis memamerkan ijazah yang telah diusahakan dan dapatkan dengan Dompet Dhuafa mendorong pemenuhan sekolahnya melalui dana zakat.

“Zaman Covid-19 lalu banyak sekali perencanaan yang berubah. Tiap ada bayaran SPP selalu nunggak, walaupun bayar tapi dicicil. Anak pertama yang baru lulus akhirnya dapat kerja serabutan untuk bantu kami. Saya cari pinjaman sana-sini untuk makan dan sekolah, sampai akhirnya kerja jadi ART. Tapi saya nggak ‘sembunyi’, saya berusaha, saya juga menemui pihak sekolah, nego waktu juga. Alhamdulillah pihak sekolah selalu baik memberi keringanan,” kenang Eti Sang Ibu, menumpahkan air mata.

Titik terang bagi Agis hadir ketika sang ibu mendapatkan informasi mengenai Program Tebus Ijazah oleh Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa. Tim LPM bergerak cepat melakukan verifikasi dan asesmen lapangan ke kediaman Agis di Ciomas.

Tim Program LPM Dompet Dhuafa, Sudita, menjelaskan bahwa bantuan yang disalurkan bukan sekadar menggugurkan tanggung jawab administrasi, melainkan bentuk investasi masa depan bagi anak-anak dhuafa yang memiliki potensi besar.

“Dari hasil asesmen kami, Agis adalah sosok siswi yang memiliki tekad dan semangat belajar yang sangat bagus. Ia anak yang baik, santun, dan berprestasi di sekolah dengan nilai rata-rata 80 sampai 90. Bantuan ini diberikan karena ini bukan sekadar masalah kendala ekonomi, melainkan tentang menjaga harapan seorang anak berprestasi agar tidak terputus,” jelas Sudita.

Kisah Agis sejatinya adalah cermin dari realitas yang dialami oleh banyak anak bangsa. Fenomena penahanan ijazah akibat tunggakan biaya administrasi telah menjadi hambatan struktural yang melestarikan rantai kemiskinan dan pengangguran.

Catatan Ombudsman RI (2020–2024) menunjukkan bahwa Laporan Masyarakat terkait penahanan ijazah di tingkat SMA/SMK swasta secara konsisten masuk dalam tiga besar aduan pelayanan publik di bidang pendidikan, dengan ribuan kasus terkonsentrasi di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta.

Sementara itu, data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) merekam puluhan ribu ijazah milik siswa dari keluarga kurang mampu masih tertahan di sekolah. Rata-rata tunggakan berkisar antara Rp1 juta hingga lebih dari Rp10 juta per siswa. Tanpa ijazah di tangan, para lulusan ini kesulitan melamar pekerjaan formal, yang pada akhirnya memutus akses mereka untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.

Program Tebus Ijazah oleh LPM Dompet Dhuafa bersumber dari penghimpunan dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Dalam syariat, dana zakat diperuntukkan bagi delapan asnaf, termasuk kelompok fukara, masakin, dan anak-anak yatim dhuafa yang terancam masa depannya. Melalui pengelolaan zakat yang tepat sasaran, Dompet Dhuafa memastikan bahwa kendala administrasi tidak lagi menjadi tembok penghalang bagi anak-anak Indonesia untuk meraih cita-cita dan mengangkat derajat keluarganya.

Kini, Agis dapat kembali menatap masa depan dengan dada lapang. Dengan terbebasnya ijazah SMP yang sempat tertahan, ia siap melangkah penuh percaya diri menghadapi ujian kelulusan SMK pada 2027 mendatang, menuju kemandirian, dan perlahan merajut kembali mimpinya yang sempat tertunda. (DD)*