Karhutla Bukan Hanya Soal Asap: Kenali Derajat Luka Bakar dan Pertolongannya

Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Donny Nurhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada kabut asap, kualitas udara, dan gangguan pernapasan. Padahal, ada ancaman lain yang tidak kalah serius, yaitu luka bakar akibat paparan api, bara, dan benda panas di sekitar lokasi kebakaran.
Warga yang berusaha menyelamatkan barang, petugas yang melakukan pemadaman, maupun relawan yang membantu evakuasi dapat mengalami cedera apabila berada terlalu dekat dengan sumber api. Dalam situasi tertentu, korban juga dapat mengalami luka bakar bersamaan dengan cedera akibat menghirup asap.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pengendalian api dan dampak kabut asap. Masyarakat juga perlu mengetahui cara mengenali luka bakar, memberikan pertolongan pertama, dan menentukan kapan korban harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Sebagai dosen Departemen Keperawatan Gawat Darurat dan Kritis, Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran, Donny Nurhamsyah memandang bahwa pengetahuan pertolongan pertama merupakan bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi bencana. Tindakan yang tepat sejak awal dapat membantu membatasi kerusakan jaringan dan mencegah keterlambatan penanganan.
Mengenali Derajat Luka Bakar Akibat Karhutla
Luka bakar dapat terjadi ketika kulit atau jaringan tubuh terpapar api, panas, atau bara. Tingkat keparahannya bergantung pada kedalaman luka, luas area yang terkena, lokasi cedera, serta kondisi korban.
Secara umum, luka bakar termal dibedakan menjadi tiga derajat utama.
1. Luka bakar derajat satu: kulit kemerahan dan terasa perih
Luka bakar derajat satu hanya mengenai lapisan terluar kulit atau epidermis. Gejalanya dapat berupa kemerahan, rasa panas, nyeri, dan sedikit pembengkakan tanpa lepuhan.
Dalam konteks karhutla, cedera ringan dapat terjadi akibat kontak singkat dengan benda panas atau paparan panas yang menyebabkan kulit mengalami luka superfisial.
Meskipun demikian, luka bakar yang tampak ringan tetap perlu dipantau. Jika keluhan memburuk, area yang terkena luas, atau terdapat kondisi khusus pada korban, pemeriksaan medis mungkin diperlukan.
2. Luka bakar derajat dua: muncul lepuhan dan nyeri
Luka bakar derajat dua mengenai epidermis dan sebagian dermis. Tanda yang dapat ditemukan antara lain kulit kemerahan, lembap, nyeri, bengkak, dan muncul lepuhan berisi cairan.
Luka bakar ini dapat terjadi akibat kontak dengan api, bara, atau benda panas di sekitar area kebakaran.
Jangan memecahkan lepuhan secara sengaja. Luka bakar yang mengenai wajah, tangan, kaki, alat kelamin, atau persendian utama perlu mendapat evaluasi medis, terutama jika luka cukup dalam atau luas.
3. Luka bakar derajat tiga: kerusakan kulit yang dalam
Luka bakar derajat tiga merusak seluruh ketebalan kulit dan dapat meluas ke jaringan di bawahnya. Kulit bisa terlihat putih, kecokelatan, kehitaman, kering, atau menyerupai kulit keras.
Hal yang perlu diwaspadai adalah luka bakar yang dalam tidak selalu terasa sangat sakit. Kerusakan saraf dapat menyebabkan sensasi pada bagian tertentu berkurang.
Pada kejadian karhutla, luka bakar berat dapat terjadi akibat kontak langsung dengan api atau paparan panas yang intens. Korban dengan dugaan luka bakar derajat tiga harus segera mendapatkan pertolongan medis.
Derajat luka bakar tidak selalu dapat dipastikan hanya melalui pengamatan awal. Penilaian tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan kedalaman luka, luas permukaan tubuh yang terkena, dan kebutuhan penanganan lanjutan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Api Saat Karhutla?
Pertolongan pertama harus dimulai dengan memastikan keselamatan korban dan penolong. Jangan memasuki area kebakaran aktif tanpa pelatihan, perlengkapan, dan koordinasi dengan petugas yang berwenang.
Pertama, menjauh dari sumber api.
Segera pindahkan korban dari area berbahaya jika aman dilakukan. Jangan menerobos api atau asap pekat untuk menyelamatkan barang. Hubungi petugas pemadam kebakaran atau tim tanggap darurat apabila situasi tidak dapat dikendalikan.
Jika pakaian korban terbakar, bantu padamkan api dengan aman. Korban dapat berhenti bergerak, menjatuhkan diri, menutup wajah, dan berguling untuk memadamkan api pada pakaian. Penolong harus memastikan tindakannya tidak membuat dirinya ikut terbakar.
Kedua, dinginkan luka menggunakan air bersih yang sejuk.
Untuk luka bakar termal, alirkan air bersih yang sejuk pada area luka selama sekitar 20 menit. Pendinginan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.
Hindari penggunaan es secara langsung karena dapat memperburuk kerusakan jaringan. Pada luka bakar yang luas, cegah korban kehilangan panas tubuh. Jangan menunda evakuasi atau bantuan darurat hanya demi menyelesaikan pendinginan.
Ketiga, lepaskan benda yang berpotensi menekan area luka.
Lepaskan cincin, jam tangan, atau benda ketat di sekitar area yang terbakar sebelum terjadi pembengkakan, apabila dapat dilakukan dengan mudah. Jangan menarik pakaian yang sudah melekat pada kulit.
Keempat, tutup luka dengan balutan bersih.
Setelah pendinginan, tutup luka secara longgar menggunakan balutan steril yang tidak melekat atau bahan bersih yang sesuai. Jangan mengoleskan pasta gigi, minyak, mentega, kopi, atau ramuan tradisional pada area yang terbakar.
Kelima, segera cari pertolongan medis bila terdapat tanda bahaya.
Luka bakar yang luas atau dalam, luka pada wajah dan leher, serta luka bakar akibat listrik atau bahan kimia membutuhkan evaluasi medis segera. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk.
Waspadai Cedera Akibat Menghirup Asap
Dalam kejadian karhutla, luka bakar pada kulit dapat terjadi bersamaan dengan cedera akibat menghirup asap. Keduanya membutuhkan perhatian yang berbeda.
Paparan asap dapat menyebabkan batuk, iritasi tenggorokan, mengi, dan sesak napas. Sementara itu, menghirup udara yang sangat panas atau gas berbahaya dalam kebakaran dapat menimbulkan cedera inhalasi yang serius.
Waspadai korban yang mengalami suara serak setelah kebakaran, kesulitan bernapas, jelaga di sekitar mulut atau hidung, kebingungan, maupun penurunan kesadaran.
Segera pindahkan korban ke udara bersih apabila aman dilakukan dan hubungi layanan kegawatdaruratan. Jangan menganggap korban bebas dari cedera serius hanya karena luka bakar pada kulit tampak kecil.
Jika korban tidak sadar dan tidak bernapas normal, panggil bantuan darurat dan lakukan resusitasi jantung paru apabila penolong terlatih serta lokasi aman.
Jangan Menjadi Korban Berikutnya
Niat membantu korban karhutla merupakan hal yang baik, tetapi keselamatan penolong tidak boleh diabaikan. Api dapat menyebar, bara dapat berpindah, dan arah asap dapat berubah mengikuti kondisi angin.
Masyarakat sebaiknya membantu melalui tindakan yang aman, seperti memberikan informasi lokasi kejadian, mengikuti arahan evakuasi, menjauhkan warga dari area berbahaya, dan menghubungi petugas.
Pemadaman serta penyelamatan di area kebakaran aktif harus dilakukan oleh petugas terlatih dengan perlindungan yang sesuai.
Dalam perspektif keperawatan gawat darurat dan kritis, pertolongan pertama yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kecepatan bertindak, tetapi juga oleh ketepatan tindakan, pengenalan tanda bahaya, dan kemampuan menjaga keselamatan semua pihak.
Karhutla perlu dipahami sebagai ancaman yang dapat menimbulkan berbagai jenis cedera, mulai dari gangguan pernapasan akibat asap hingga luka bakar yang membutuhkan penanganan intensif.
Karena itu, masyarakat perlu mengingat tiga prinsip utama: selamatkan diri dari sumber bahaya, berikan pertolongan pertama sesuai kondisi, dan segera cari bantuan medis ketika terdapat tanda cedera serius.
Mencegah kebakaran tetap menjadi langkah paling mendasar. Namun, ketika kebakaran terjadi, pengetahuan dan kesiapsiagaan dapat membantu masyarakat merespons dengan lebih aman dan tepat.
