Siapa yang Mengajarkan Anak Hari Ini: Orang Tua, Gawai, atau Agama

Berikut biography yang bisa dipakai: Mahasiswa Hukum Keluarga di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tertarik menulis isu seputar hukum Islam, keluarga, sosial, dan kehidupan di masyarakat.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Duwi Pajar Ningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak rumah, pemandangan anak yang sibuk menatap layar gawai bukan lagi sesuatu yang asing. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang memberikan telepon pintar kepada anak sejak usia dini dengan berbagai alasan, mulai dari sarana belajar hingga cara praktis untuk membuat anak tetap tenang. Di satu sisi, teknologi memang menawarkan kemudahan. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: siapa yang sebenarnya mengajarkan anak-anak kita hari ini?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena masa kanak-kanak merupakan periode pembentukan karakter yang akan memengaruhi kehidupan seseorang pada masa mendatang. Apa yang dilihat, didengar, dan ditiru oleh anak akan menjadi bagian dari cara mereka memahami dunia. Jika dahulu keluarga menjadi sumber utama pendidikan, kini peran tersebut mulai berbagi ruang dengan gawai dan berbagai platform digital.
Ketika Layar Menjadi Teman Sehari-hari
Perkembangan teknologi telah mengubah cara anak belajar dan berinteraksi. Melalui internet, anak dapat mengakses berbagai informasi hanya dalam hitungan detik. Mereka dapat menonton video edukatif, mengikuti pembelajaran daring, hingga mengenal berbagai budaya dari seluruh dunia.
Namun, teknologi tidak hanya menghadirkan manfaat. Bersamaan dengan itu, anak juga berhadapan dengan konten yang tidak selalu sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka. Tidak semua informasi di dunia digital mengandung nilai pendidikan yang baik. Sebagian justru memperlihatkan perilaku yang bertentangan dengan norma sosial maupun ajaran agama.
Dalam kondisi seperti ini, anak sering kali belajar bukan dari nasihat orang tua atau guru, melainkan dari apa yang mereka konsumsi setiap hari melalui layar. Tanpa disadari, algoritma media sosial perlahan ikut membentuk pola pikir, cara berbicara, hingga kebiasaan generasi muda.
Peran Orang Tua yang Tidak Tergantikan
Kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat orang tua menyerahkan tugas pendidikan kepada gawai. Dalam Islam, keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak. Orang tualah yang memiliki tanggung jawab utama dalam menanamkan nilai, akhlak, dan keimanan sejak dini.
Sayangnya, kesibukan pekerjaan dan tuntutan kehidupan modern sering kali mengurangi waktu interaksi antara orang tua dan anak. Tidak sedikit keluarga yang tinggal dalam satu rumah, tetapi jarang memiliki kesempatan untuk berbincang secara mendalam. Akibatnya, hubungan emosional menjadi renggang, sementara anak mencari ruang belajar dan hiburan di dunia digital.
Padahal, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui nasihat. Anak belajar dari keteladanan yang mereka lihat setiap hari. Cara orang tua berbicara, bersikap, dan menyelesaikan masalah akan menjadi pelajaran yang jauh lebih berpengaruh daripada sekadar kata-kata.
Agama sebagai Kompas Moral
Di tengah derasnya arus informasi, agama memiliki peran penting sebagai kompas moral. Islam mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter. Rasulullah saw. bahkan menegaskan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Karena itu, pendidikan agama tidak boleh dipahami hanya sebagai kemampuan membaca Al-Qur'an atau menghafal materi keislaman. Pendidikan agama harus hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui pembiasaan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan rasa hormat kepada sesama.
Ketika agama hadir dalam keluarga, anak akan memiliki pegangan untuk menyaring berbagai informasi yang mereka temui di dunia digital. Mereka tidak hanya mengetahui apa yang menarik, tetapi juga memahami apa yang benar dan bermanfaat.
Menjaga Keseimbangan di Era Digital
Teknologi bukan musuh yang harus dijauhi. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana yang bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Tantangan terbesar saat ini bukanlah keberadaan gawai itu sendiri, melainkan bagaimana keluarga mengelola penggunaannya.
Orang tua perlu membangun komunikasi yang hangat dengan anak, mendampingi aktivitas digital mereka, serta memberikan pemahaman tentang penggunaan teknologi yang sehat. Di saat yang sama, pendidikan agama harus tetap menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter.
Pada akhirnya, anak-anak akan belajar dari apa yang paling sering hadir dalam hidup mereka. Jika keluarga hadir dengan kasih sayang, keteladanan, dan pendidikan agama yang kuat, maka teknologi akan menjadi alat yang membantu proses tumbuh kembang mereka. Namun, jika peran tersebut dibiarkan kosong, bukan tidak mungkin gawai dan algoritma digital akan mengambil posisi yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua dan keluarga.
