Konten dari Pengguna

Perubahan Teknologi Mengubah Dunia Kerja, Perencanaan SDM Harus Bersiap

Dwi Artika

Dwi Artika

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi Artika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: Dibuat menggunakan AI. Ilustrasi SDM dalam menghadapi perubahan teknologi dan AI melalui peningkatan keterampilan serta kemampuan beradaptasi.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: Dibuat menggunakan AI. Ilustrasi SDM dalam menghadapi perubahan teknologi dan AI melalui peningkatan keterampilan serta kemampuan beradaptasi.

Perencanaan SDM mulai berubah seiring perkembangan teknologi. Banyak hal yang dulu harus dilakukan satu per satu, sekarang sudah bisa dibantu teknologi. Mengolah data, mencari informasi, membuat laporan, sampai pekerjaan administratif bisa dilakukan lebih cepat menggunakan sistem digital dan kecerdasan buatan atau AI.

Perubahan seperti ini tentu membuat pekerjaan menjadi lebih praktis. Perusahaan juga bisa menghemat waktu karena beberapa pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual sekarang dapat dibantu teknologi.

Tapi, ada satu hal yang kadang terlupakan. Ketika teknologinya semakin maju, bagaimana dengan orang yang menggunakannya?

Teknologi yang canggih tetap membutuhkan manusia yang bisa mengoperasikannya. Percuma saja perusahaan memiliki sistem baru kalau karyawannya malah bingung ketika menggunakannya. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya memikirkan teknologi apa yang akan digunakan, tetapi juga perlu memikirkan apakah karyawannya sudah siap.

Di sinilah perencanaan SDM mulai punya peran yang lebih besar. Perencanaan SDM bukan hanya tentang menentukan jumlah karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Kemampuan karyawan juga perlu dipikirkan, apalagi kebutuhan pekerjaan sekarang bisa berubah cukup cepat.

SDM Juga Harus Terus Belajar

Dulu, mungkin seseorang bisa bekerja bertahun-tahun dengan mengandalkan keterampilan yang sama. Sekarang kondisinya mulai berbeda. Teknologi baru terus muncul dan cara kerja ikut berubah.

Perubahan tersebut juga terlihat dalam Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum. Laporan tersebut memperkirakan sekitar 39% keterampilan utama pekerja akan berubah hingga 2030. Keterampilan teknologi semakin dibutuhkan, tetapi kemampuan seperti berpikir kreatif, fleksibilitas, ketahanan, dan kepemimpinan juga tetap dianggap penting. World Economic Forum – Future of Jobs Report 2025

Bukan berarti semua orang harus menjadi ahli teknologi. Kemampuan menggunakan teknologi memang dibutuhkan, tetapi kemampuan lain seperti berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan juga tetap penting.

Salah satu perubahan yang paling terasa sekarang adalah munculnya AI. Kita bisa melihat penggunaannya dalam berbagai pekerjaan, mulai dari mencari informasi, mengolah data, membuat tulisan, sampai membantu pekerjaan administratif.

Tidak heran kalau kehadiran AI juga membuat sebagian orang merasa khawatir. Ada pekerjaan yang mungkin menjadi lebih sedikit karena bisa dilakukan secara otomatis. Tapi kalau dipikir lagi, AI sebenarnya tidak selalu harus dilihat sebagai pengganti manusia.

Penelitian International Labour Organization (ILO) pada 2025 memperkirakan sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap Generative AI. Meski begitu, penelitian tersebut menunjukkan bahwa dampak yang paling mungkin terjadi adalah perubahan terhadap pekerjaan, bukan penggantian manusia secara keseluruhan.

Pekerjaan yang berulang dan memakan banyak waktu bisa dibantu oleh AI. Sementara itu, manusia bisa menggunakan waktunya untuk hal-hal yang membutuhkan ide, pertimbangan, komunikasi, dan kreativitas.

Jangan Sampai Teknologi Siap, SDM Belum

Masalahnya bisa muncul ketika perusahaan terlalu fokus pada teknologinya, tetapi lupa menyiapkan karyawannya.

Misalnya, perusahaan mulai menggunakan sistem kerja baru. Sistemnya sudah bagus, tetapi karyawan tidak mendapat pelatihan yang cukup. Akhirnya, pekerjaan yang seharusnya menjadi lebih mudah justru membuat karyawan harus beradaptasi sendiri.

Karena itu, perkembangan teknologi sebaiknya diikuti dengan pengembangan SDM. Pelatihan bisa diberikan agar karyawan lebih terbiasa dengan sistem yang baru. Perusahaan juga bisa melakukan upskilling untuk meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki karyawan dan reskilling bagi mereka yang perlu mempelajari kemampuan baru.

Hal tersebut juga sejalan dengan laporan World Economic Forum yang menunjukkan bahwa banyak perusahaan mulai memprioritaskan pengembangan keterampilan pekerja untuk menghadapi perubahan dunia kerja. Pembelajaran berkelanjutan, upskilling, dan reskilling menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan agar karyawan tetap mampu mengikuti perubahan kebutuhan pekerjaan.

Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang. Kita mungkin tidak bisa menebak teknologi apa yang akan digunakan beberapa tahun lagi. Tetapi satu hal yang bisa dipersiapkan dari sekarang adalah manusianya.

Perusahaan boleh terus memperbarui teknologi, tetapi SDM juga harus diberi kesempatan untuk ikut berkembang. Sebab secanggih apa pun teknologinya, tetap ada manusia yang menggunakannya.