Menemukan Makna Kepedulian melalui Kegiatan CSR di Panti Asuhan

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dwi Luna Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tawa dan sorak anak-anak terdengar memenuhi suasana di Panti Asuhan Misi Nusantara, Surakarta pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Satu per satu anak di panti asuhan tersebut mengikuti sesi permainan dengan penuh rasa semangat. Tidak hanya mereka, para panitia kegiatan CSR FiestA Radio 2026 juga turut larut dalam keseruan kegiatan tersebut. Mereka bermain bersama, bercanda, dan menikmati kebersamaan tanpa adanya sekat antara panitia dan peserta.
Bagi Maria, salah satu panitia kegiatan CSR FiestA Radio, momen tersebut menjadi salah satu bagian yang paling berkesan dalam kegiatan di hari itu. Sebagai Koordinator Acara, ia terlibat mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan. Ia bertanggung jawab dalam menyusun konsep, mengatur rangkaian kegiatan, hingga memastikan acara berjalan sesuai rencana. Namun, di balik tanggung jawab tersebut, ada pengalaman yang lebih dari sekadar keberhasilan dalam penyelenggaraan kegiatan. Pertemuannya dengan anak-anak di Panti Asuhan justru memberinya pemahaman baru tentang arti berbagi dan peduli.
Ketertarikan Maria dalam mengikuti kegiatan sosial berawal dari keinginannya untuk bisa bertemu dan berinteraksi dengan orang baru. Baginya, kegiatan sosial tidak harus diwujudkan melalui bantuan berupa materi saja, tetapi waktu, perhatian, dan berbagi kebahagiaan juga merupakan bentuk dari kepedulian.
“Menurut saya, kegiatan sosial bukan hanya memberikan sesuatu secara materi saja. Kita juga bisa berbagi kebahagiaan, pengalaman, waktu, dan perhatian kepada orang lain” ungkapnya
Sebagai Koordinator Acara, ia mempunyai harapan untuk dapat menciptakan suasana kegiatan yang menyenangkan dan berkesan. Ia membayangkan tentang konsep acara yang dipenuhi dengan interaksi dan permainan agar anak-anak bisa menikmati waktu kebersamaan. Meski demikian, pelaksanaan kegiatan ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana awal yang sudah ia buat.
Salah satu hal yang cukup terlihat adalah saat sesi permainan. Ia awalnya ingin menghadirkan lebih banyak permainan agar suasana dapat terasa lebih meriah. Namun, pada kenyataannya satu permainan saja ternyata sudah cukup kuat untuk membangun antusiasme anak-anak. Mereka mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Antusiasme tersebut juga dapat dilihat dari panitia yang juga turut serta bermain bersama mereka. Suasana yang awalnya mungkin terasa canggung perlahan mulai berubah menjadi lebih akrab.
“Anak-anak di Panti cukup ramah, aktif, dan mudah diajak berinteraksi. Awalnya mungkin masih ada sedikit rasa canggung, tetapi lama-lama suasananya jadi hangat dan menyenangkan” jelasnya.
Bagi Maria, sesi permainan ini menjadi salah satu momen yang paling berkesan. Melihat anak-anak menikmati kegiatan dan tertawa bersama para panitia membuatnya merasa bahwa persiapan yang dilakukan terbayarkan dan tidak sia-sia. Ia tidak hanya melihat anak-anak sebagai peserta dalam sebuah acara, tetapi juga sebagai teman untuk berbagi kebahagiaan bersama-sama.
Di sisi lain, pengalamannya menjadi Koordinator Acara juga mengajarkan dirinya dalam menghadapi situasi yang tidak selalu sesuai dengan rencana. Hal itu terlihat dalam sesi Pohon Harapan, kegiatan yang menonjolkan tentang kreativitas anak-anaknya. Semula, kegiatan tersebut dirancang agar anak-anak dapat menuliskan harapan-harapan mereka ke cat tangan yang telah mereka buat. Namun, pelaksanaannya ternyata lebih banyak diisi dengan kegiatan cap tangan. Perubahan tersebut membuat Maria menyadari bahwa sebuah kegiatan tidak selalu berjalan persis sesuai dengan konsep awal yang dibuat.
Baginya, kemampuan dalam menyesuaikan diri menjadi hal penting ketika harus berhadapan langsung dengan kondisi yang ada di lapangan. Ia perlu memahami kondisi yang ada dan memastikan kegiatan tersebut tetap berjalan dengan baik. Ia menganggap, pengalaman tersebut menjadi pelajaran tersendiri bagi dirinya, baik dalam menjalankan tugas maupun dalam berinteraksi dengan orang lain.
Tidak hanya pengalaman dalam menjalankan tugas, ia juga menyebutkan bahwa kebersamaan dengan anak-anak juga mampu membuatnya kembali memikirkan hal-hal sederhana yang mungkin selama ini ia anggap biasa. Semangat dan kebahagiaan yang dirasakan anak-anak Panti membuat ia merasa perlu untuk lebih bisa menghargai apa yang dimiliki dan tidak mudah mengeluhkan suatu keadaan.
“Saya jadi lebih memahami bahwa kepedulian itu tidak harus selalu berupa bantuan besar. Meluangkan waktu, memberikan perhatian, dan kehadiran untuk orang lain juga merupakan bentuk kepeduliaan” tuturnya.
Pemahaman tentang hal tersebut membuat ia ingin menjadi pribadi yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita dan kondisi kehidupan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kepedulian tidak cukup hanya ditunjukkan melalui rasa iba, tetapi juga perlu diwujudkan dalam suatu tindakan nyata. Sekecil apapun tindakan yang dilakukan jika disertai ketulusan, hal tersebut tetap dapat memberikan arti bagi orang lain.
Setelah kegiatan ini selesai, ia menyatakan bahwa ia semakin tertarik untuk mengikuti kegiatan sosial lainnya. Baginya, kegiatan seperti ini bukan hanya menjadi kesempatan untuk berbagi kebahagiaan saja, tetapi juga menjadi ruang untuk bisa mengenal orang lain dan belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Ketika diminta menggambarkan pengalaman mengikuti CSR FiestA Radio dalam satu kata, ia memilih kata “Bahagia”. Kebahagiaan yang tidak hanya berasal dari kesempatan berbagi, tetapi juga dari pengalaman bertemu orang baru dan memperoleh pelajaran tentang arti rasa syukur serta kepedulian.
Dari kebersamaan sederhana di Panti Asuhan Misi Nusantara, Maria menemukan bahwa arti kebahagiaan tidak hanya berasal dari keberhasilan membuat orang lain merasa senang. Ada juga pelajaran yang tumbuh di dalamnya, yaitu belajar bersyukur, memahami keadaan orang lain, dan menyadari bahwa hal kecil pun dapat memiliki arti besar bagi seseorang.
