AI di Industri Kreatif: Peluang Baru atau Ancaman bagi Pekerja?

Saya Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Manajemen S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Manajemen Digital Marketing.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dwika Syahputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini jadi bagian keseharian pekerja kreatif. Di satu sisi, teknologi ini mempercepat kerja. Di sisi lain, ilustrator, desainer, dan penulis konten khawatir peran mereka tergeser.
Sejumlah profesi, seperti ilustrator, desainer grafis level pemula, penulis konten, hingga pengisi suara, mulai bersaing dengan sistem AI yang menghasilkan karya serupa dengan biaya lebih murah dan waktu lebih singkat. Persaingan itu sudah dirasakan di lapangan. Banyak pekerja lepas dilaporkan mulai merasakan dampak AI yang mengambil alih sebagian pekerjaan mereka.

Dua Sisi Teknologi
Kekhawatiran muncul bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga nilai berkarya. Seniman yang mengandalkan kecerdasan emosional dan latar belakang personal dalam berkarya merasa AI mengancam nilai dasar seni itu sendiri.
Namun, tidak semua pihak melihatnya sebagai ancaman. Dalam pandangan lain, AI justru bisa membantu memecah kebuntuan kreatif dan mendorong karya yang lebih inovatif. Penelitian di kalangan ilustrator Bandung juga mencatat pandangan serupa, yakni AI dipandang sebagai alat yang mempermudah pembuatan karya kreatif, bukan ancaman. Meski begitu, tidak semua ilustrator mudah menerima Generative AI atau siap beradaptasi dengan arus perubahannya.
Pimpinan perusahaan teknologi pun mengakui dampak ini. Mantan CTO OpenAI, Mira Murati, pernah menyebut teknologi ini memang dapat menyebabkan penggantian pekerjaan di industri kreatif, tetapi ia melihat AI sebagai sarana memperluas kreativitas.
Kasus yang Memantik Perdebatan
Perdebatan soal orisinalitas mencuat sejak karya buatan AI mulai memenangi kompetisi. Salah satunya di ajang seni tahunan Colorado State Fair, yang pemenangnya memakai aplikasi AI bernama Midjourney.
Peran Manusia Tetap Dibutuhkan
Pengamat menilai kendali kreatif masih berada di tangan manusia. Visi kreatif, penilaian artistik, dan kemampuan bercerita untuk menyempurnakan hasil AI tetap menjadi kewenangan ilustrator. Karena itu, pelaku industri kreatif disarankan memandang AI sebagai alat bantu yang memperkuat proses kreatif, bukan ancaman.
