Ketika Keyakinan, Cinta, dan Penyesalan Bertabrakan dalam Novel Atheis

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 14 menit
Tulisan dari Efrillia Nurul Fadillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah seseorang merasa begitu yakin terhadap sesuatu, tetapi perlahan mulai meragukannya setelah bertemu dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda? Situasi seperti ini tidak selalu mudah dihadapi. Terlebih ketika keyakinan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sejak kecil dan berkaitan erat dengan keluarga. Pergulatan semacam inilah yang dialami Hasan, tokoh utama dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja.
Novel yang diterbitkan kembali oleh Pusat Bahasa pada 2010 ini tidak hanya membicarakan persoalan kepercayaan kepada Tuhan. Melalui kehidupan Hasan, pembaca diajak melihat bagaimana pergaulan, hubungan percintaan, kecemburuan, dan konflik keluarga dapat saling memengaruhi perjalanan seseorang dalam mencari jati diri. Menariknya, Hasan bukanlah tokoh yang sejak awal memiliki pendirian yang jelas. Ia justru digambarkan sebagai manusia yang mudah diliputi keraguan dan berusaha menemukan jawaban melalui orang-orang di sekitarnya.
Hasan, Anak yang Tumbuh dalam Keluarga Religius
Kisah Hasan bermula dari kehidupan masa kecilnya di Panyeredan, sebuah kampung di kawasan pegunungan Priangan. Ia merupakan anak dari Raden Wiradikarta, seorang pensiunan mantri guru yang hidup sederhana bersama istrinya. Meskipun kehidupan keluarga mereka tidak berlebihan, agama menempati posisi penting dalam keseharian mereka.
Ayah dan ibu Hasan dikenal sebagai orang yang sangat taat menjalankan ajaran Islam. Sejak berusia sekitar lima tahun, Hasan telah diajari mengaji, menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, dan melaksanakan salat. Sebelum tidur, ibunya kerap menceritakan kisah mengenai surga dan neraka. Siti, perempuan yang membantu pekerjaan rumah tangga keluarganya, juga sering menceritakan gambaran hukuman bagi orang-orang yang berbuat dosa.
Cerita-cerita tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Hasan kecil. Ia membayangkan neraka sebagai tempat penuh siksaan sehingga tumbuh dengan perasaan takut melakukan sesuatu yang dianggap melanggar ajaran agama. Ketakutan itu kemudian menjadi salah satu alasan yang mendorongnya untuk rajin beribadah dan menaati nasihat orang tuanya.
Hasan bahkan merasa bangga ketika ayahnya memberikan pakaian untuk salat dan menyebutnya sebagai seorang kiyai kecil. Bagi kedua orang tuanya, Hasan merupakan anak yang saleh dan menjadi sumber kebahagiaan keluarga. Mereka berharap anak tunggal mereka tersebut dapat tumbuh menjadi manusia yang memiliki pegangan agama kuat.
Ketika beranjak dewasa, Hasan melanjutkan pendidikan ke Bandung dan kemudian bekerja di kantor gemeente. Di tengah perubahan lingkungan tersebut, ia tetap mempertahankan kehidupan religiusnya. Ia bahkan meminta sendiri kepada orang tuanya agar diperbolehkan mengikuti ajaran tarekat yang mereka anut.
Permintaan itu membuat ayah dan ibunya sangat bahagia. Mereka menganggap Hasan telah menunjukkan kesadaran untuk memperdalam agama, bukan sekadar menjalankan ibadah karena perintah orang tua. Sejak saat itu, Hasan semakin rajin beribadah dan berusaha menjalankan kewajiban-kewajiban yang diajarkan kepadanya.
Namun, di balik ketaatannya, terdapat persoalan yang kelak menjadi penting dalam perjalanan hidupnya. Hasan terbiasa menerima ajaran agama melalui keluarga dan lingkungan terdekatnya. Ketika kemudian berhadapan dengan pemikiran yang berbeda, ia harus menghadapi pertanyaan yang tidak pernah benar-benar ia selesaikan sebelumnya.
Pertemuan dengan Rusli dan Anwar Mengguncang Pandangan Hasan
Perubahan kehidupan Hasan mulai terasa ketika ia kembali berhubungan dengan Rusli, teman lamanya yang memiliki pandangan berbeda mengenai agama dan kehidupan manusia. Melalui Rusli, Hasan mengenal pemikiran yang lebih rasional dan materialistis. Rusli berusaha menjelaskan kehidupan melalui proses alam dan materi, termasuk ketika membicarakan manusia dan persoalan ketuhanan.
Dalam salah satu percakapan mereka, Rusli mengemukakan gagasan bahwa manusia tersusun atas berbagai unsur dan mengalami proses perubahan. Ia juga membicarakan kemungkinan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan suatu hari dapat membantu manusia memahami hal-hal yang sebelumnya dianggap belum terjangkau.
Hasan tidak selalu mampu mengikuti penjelasan tersebut. Bahkan, ketika Rusli berbicara mengenai kemungkinan manusia menciptakan nyawa melalui pengetahuan ilmiah, Hasan justru tertawa karena menganggap gagasan itu sulit diterima. Reaksi tersebut memperlihatkan bahwa Hasan masih memiliki keyakinan yang kuat terhadap batas-batas pemahaman manusia, meskipun ia mulai tertarik mendengarkan pandangan yang berbeda.
Perkenalannya dengan Rusli kemudian membawanya kepada Anwar, seorang tokoh yang memiliki pandangan hidup lebih bebas dan cenderung menentang aturan yang dianggap membatasi kebebasan individu. Anwar tidak hanya berbeda dalam persoalan agama, tetapi juga dalam cara memandang norma sosial dan hubungan antarmanusia.
Kehadiran kedua tokoh tersebut membuat Hasan semakin sering berhadapan dengan pertanyaan mengenai keyakinannya. Ia mulai mendengarkan berbagai argumen yang mempertanyakan pandangan hidup yang selama ini diterimanya. Akan tetapi, persoalan Hasan bukan semata-mata karena ia mengenal pemikiran baru. Ia juga belum memiliki kemampuan untuk menimbang seluruh pemikiran itu secara mandiri dan mendalam.
Hal tersebut terlihat dari caranya mencari jawaban melalui orang lain. Hasan cenderung meminta pendapat orang-orang yang dianggap lebih memahami persoalan daripada dirinya. Akibatnya, ia mudah terombang-ambing ketika berhadapan dengan argumen yang berbeda.
Menurut saya, bagian ini memperlihatkan bahwa pencarian jati diri tidak cukup dilakukan dengan mendengarkan banyak pendapat. Seseorang juga perlu memahami dasar pemikiran yang diterimanya dan berani memeriksanya secara kritis. Tanpa proses tersebut, seseorang dapat merasa telah memiliki pendirian, padahal ia masih bergantung pada pendapat orang lain.
Kedekatan dengan Kartini dan Munculnya Kecemburuan
Selain mengalami pergulatan mengenai keyakinan, Hasan juga menghadapi persoalan dalam kehidupan percintaannya. Ia semakin dekat dengan Kartini, seorang perempuan yang memiliki cara hidup berbeda dari lingkungan keluarga Hasan. Kartini tidak digambarkan sebagai perempuan yang sepenuhnya mengikuti pola kehidupan religius sebagaimana yang dikenal Hasan sejak kecil.
Kedekatan mereka berkembang melalui sejumlah pertemuan dan percakapan. Dalam salah satu adegan, Hasan dan Kartini pergi menonton film di bioskop. Setelah pertunjukan selesai, mereka memilih berjalan kaki menikmati udara malam. Kartini mengajak Hasan melanjutkan perjalanan dan duduk di sebuah bangku taman. Dalam suasana tersebut, kedekatan mereka semakin terasa.
Namun, hubungan itu juga memperlihatkan sifat Hasan yang mudah merasa tidak aman. Ia mengetahui bahwa Kartini memiliki hubungan dekat dengan Rusli, yang dianggapnya sebagai kakak oleh Kartini. Hasan sulit menerima kedekatan tersebut sepenuhnya. Ia bahkan menyampaikan sindiran yang memperlihatkan kecurigaannya terhadap hubungan mereka.
Kartini mencoba menjelaskan bahwa Rusli adalah sosok yang melindunginya, terutama karena pengalaman hidup yang pernah membuatnya membutuhkan pertolongan. Meskipun demikian, Hasan masih merasa curiga. Perasaan cemburu tersebut membuatnya memandang hubungan Kartini dengan orang lain melalui prasangka yang terus berkembang dalam pikirannya.
Kehadiran Anwar kemudian memperbesar persoalan itu. Berbeda dengan Hasan yang mudah terbawa perasaan, Anwar menunjukkan sikap yang lebih bebas dalam berhubungan dengan perempuan. Sikap tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi Hasan, terutama ketika ia melihat bagaimana Anwar memandang dan memperlakukan Kartini.
Di sini, persoalan pribadi Hasan mulai berjalan beriringan dengan pergulatan keyakinannya. Ia tidak hanya berusaha memahami pandangan Rusli dan Anwar, tetapi juga berhadapan dengan kecemburuan serta ketakutan kehilangan orang yang dicintainya. Akibatnya, pikirannya semakin dipenuhi oleh persoalan yang tidak mudah diselesaikan.
Pada akhirnya, Hasan menikahi Kartini. Akan tetapi, pernikahan itu tidak serta-merta menghilangkan kecemasan yang telah tumbuh sebelumnya. Hubungan mereka justru semakin rumit karena Hasan terus dibayangi kecurigaan terhadap Kartini dan Anwar.
Menurut saya, konflik ini penting karena memperlihatkan sisi manusiawi Hasan. Ia bukan tokoh yang hanya berjuang dalam ranah pemikiran, melainkan juga seseorang yang memiliki kelemahan emosional. Kecemburuan membuatnya sulit memisahkan kenyataan dari prasangka, sementara keraguan dalam keyakinannya membuat keadaan batinnya semakin tidak stabil.
Pertentangan dengan Ayah dan Keinginan Menentukan Pendirian Sendiri
Perbedaan pandangan Hasan dengan keluarganya mencapai titik penting ketika ia kembali berhadapan dengan ayahnya. Sang ayah tetap meyakini bahwa ajaran agama merupakan pedoman yang harus dijaga. Ia berharap Hasan tetap berada di jalan yang selama ini diajarkan kepadanya.
Namun, Hasan mulai menolak desakan tersebut. Ia merasa sudah dewasa dan berhak menentukan pendiriannya sendiri, termasuk dalam persoalan agama. Dalam perdebatan dengan ayahnya, Hasan mengungkapkan bahwa ia tidak ingin lagi dipaksa mengikuti pendirian orang tuanya. Ia berkata,
“Ayah tidak boleh memaksa-maksa lagi kepada saya dalam hal pendirian saya. Juga dalam pendirian saya terhadap agama” (Mihardja, 2010, hlm. 167).
Jika dibaca secara terpisah, pernyataan itu dapat dipahami sebagai bentuk keinginan seseorang untuk memperoleh kebebasan berpikir. Hasan tidak ingin terus-menerus dianggap sebagai anak kecil yang harus menerima semua keputusan orang tuanya. Ia ingin menentukan jalan hidup berdasarkan pendiriannya sendiri.
Namun, konteks perdebatan tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih rumit. Hasan sebenarnya mengakui bahwa ia masih meragukan teori Rusli dan Anwar mengenai ketuhanan. Akan tetapi, ketika merasa didesak oleh ayahnya, ia justru mengeluarkan berbagai argumen dari kedua temannya seolah-olah seluruhnya merupakan pemikirannya sendiri.
Sikap itu membuat pertentangan mereka semakin tajam. Hasan seakan-akan berusaha memenangkan perdebatan, bukan mencari pemahaman yang benar-benar dapat menenangkan pikirannya. Ia juga menyadari bahwa perkataannya telah melukai ayah dan ibunya, yang selama ini bangga terhadap dirinya sebagai anak yang saleh.
Bagian ini menjadi salah satu titik penting dalam novel karena memperlihatkan jarak antara pendirian yang diucapkan Hasan dan keyakinan yang sebenarnya ia miliki. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya telah menentukan pilihan, tetapi di dalam hatinya masih terdapat keraguan.
Menurut saya, persoalan tersebut membuat konflik Hasan terasa lebih kompleks. Ia memang berhak menentukan pendiriannya sendiri, tetapi kebebasan berpikir seharusnya disertai kejujuran terhadap diri sendiri. Ketika seseorang menggunakan pendapat orang lain hanya untuk memenangkan perdebatan, ia justru dapat semakin jauh dari pemahaman yang sedang dicari.
Keretakan Rumah Tangga dan Perpisahan dengan Kartini
Setelah konflik dengan ayahnya, kehidupan Hasan tidak menjadi lebih tenang. Persoalan rumah tangganya terus berkembang, terutama karena kecurigaannya terhadap Kartini dan Anwar. Hubungan yang seharusnya menjadi tempat mencari ketenangan justru berubah menjadi sumber kecemasan.
Kedekatan Kartini dengan Anwar semakin sulit diterima oleh Hasan. Perasaannya membuat ia terus memikirkan hubungan keduanya, sementara Kartini juga semakin terjebak dalam situasi yang rumit. Dalam beberapa bagian cerita, Kartini berusaha menghadapi persoalan yang muncul akibat kecemburuan Hasan, tetapi hubungan mereka tidak kunjung menemukan penyelesaian yang baik.
Ketegangan tersebut akhirnya membawa Hasan dan Kartini pada perpisahan. Ketika mengetahui bahwa mereka telah bercerai, narator yang sebelumnya menerima naskah kehidupan Hasan merasa bahwa keadaan sahabatnya itu semakin mengkhawatirkan.
Perpisahan tersebut bukan sekadar berakhirnya sebuah pernikahan. Bagi Hasan, hal itu menambah beban yang telah lebih dahulu ia tanggung. Ia kehilangan ketenangan dalam hubungan keluarga, tidak memperoleh kepastian dalam pencarian keyakinannya, dan terus dihantui persoalan yang berhubungan dengan orang-orang terdekatnya.
Dari sini, terlihat bahwa konflik dalam Atheis tidak berkembang melalui satu persoalan saja. Perubahan pandangan hidup Hasan, pertentangannya dengan ayah, serta persoalan rumah tangga saling memengaruhi. Ketika satu masalah belum selesai, masalah lain muncul dan memperberat keadaan batinnya.
Penyesalan Setelah Kematian Ayah
Salah satu bagian paling menyedihkan dalam novel ini terjadi ketika Hasan kembali berhadapan dengan ayahnya yang sedang sakit keras. Setelah berbagai pertentangan yang mereka alami, Hasan masih memiliki kesempatan untuk menemui ayahnya. Namun, hubungan mereka telah terlanjur dipenuhi luka akibat perbedaan pendirian. Dalam keadaan lemah, ayah Hasan meminta agar ia tidak mengganggu ketenangannya dalam beriman. Sang ayah berkata,
“Janganlah engkau dekat-dekat kepadaku ... janganlah kauganggu aku dalam imanku, agar mudah kutempuh perjalananku ke hadirat-Nya” (Mihardja, 2010, hlm. 231–232).
Perkataan tersebut memperlihatkan bahwa sang ayah ingin menghadapi akhir hidupnya dengan tenang, tanpa pertentangan mengenai keyakinan. Hasan kemudian meninggalkan kamar ayahnya sambil menangis. Ia menyadari bahwa perdebatan yang selama ini terjadi telah menimbulkan penderitaan bagi orang tuanya.
Tidak lama kemudian, ayahnya meninggal dunia. Hasan mendengar napas terakhir sang ayah dan tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Kehilangan tersebut membuatnya semakin dihantui perasaan bersalah. Ia merasa telah menyakiti orang yang selama hidupnya mencintai dan mengharapkannya tetap berada dalam keyakinan keluarga.
Di tengah kesedihan itu, Hasan kembali memikirkan ajaran yang dahulu ia terima dari ayah, ibu, dan orang-orang yang membesarkannya. Ia juga mempertanyakan kembali teori Rusli dan Anwar yang sebelumnya ia gunakan dalam perdebatan. Kematian ayahnya membuat persoalan yang selama ini ia hadapi terasa semakin berat. Hasan kemudian mengungkapkan kegelisahannya melalui pertanyaan,
“Bagaimana hendak kutebus dosaku?” (Mihardja, 2010, hlm. 236).
Pertanyaan itu bukan hanya menunjukkan kesedihan karena kehilangan ayah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Hasan mulai menilai kembali perkataan dan tindakannya sendiri. Ia tidak lagi berada dalam situasi ketika perdebatan dapat dimenangkan melalui argumen. Kini, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan ayah telah berakhir.
Bagi saya, bagian ini merupakan inti emosional novel Atheis. Penyesalan Hasan memperlihatkan bahwa manusia dapat begitu sibuk mempertahankan pendirian hingga lupa memperhatikan perasaan orang yang berada di hadapannya. Keinginan untuk menentukan jalan hidup sendiri memang penting, tetapi cara menyampaikan perbedaan juga menentukan apakah hubungan dengan orang lain dapat tetap terjaga.
Novel ini tidak harus dimaknai sebagai larangan untuk mempertanyakan keyakinan. Sebaliknya, kisah Hasan menunjukkan pentingnya menjalani proses pencarian dengan kesadaran dan tanggung jawab. Seseorang dapat berbeda pendapat dengan keluarganya tanpa harus menjadikan setiap percakapan sebagai pertarungan untuk membuktikan siapa yang paling benar.
Akhir Kehidupan Hasan dan Penyesalan Kartini
Perjalanan Hasan berakhir dengan tragis. Setelah berpisah dari Kartini, ia kemudian ditahan oleh Kenpei, polisi militer Jepang. Kondisi fisiknya yang lemah dan penyakit tuberkulosis yang dideritanya membuat keadaan tersebut semakin mengkhawatirkan. Hasan tidak mampu bertahan menghadapi penyiksaan yang dialaminya dan akhirnya meninggal dunia.
Kabar kematian Hasan diketahui Kartini ketika ia datang ke kantor Kenpeitai. Pada bagian awal novel, pembaca telah diperlihatkan Kartini yang keluar dari tempat tersebut dengan tubuh lemas, wajah pucat, dan air mata yang terus mengalir. Ia dibimbing oleh Rusli karena hampir tidak mampu berjalan sendiri setelah mendengar kabar tentang kematian mantan suaminya.
Kartini merasa kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka. Selama ini, hubungan dengan Hasan telah diwarnai berbagai persoalan, tetapi setelah mengetahui bahwa Hasan telah meninggal, ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menunjukkan penyesalan secara langsung.
Dalam kesedihannya, Kartini membayangkan bahwa seandainya Hasan masih hidup, ia dapat berusaha menjadi istri yang lebih setia dan memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukannya. Namun, semua keinginan itu tidak lagi dapat diwujudkan. Hasan telah tiada, dan Kartini harus hidup dengan penyesalan yang tidak mudah dihilangkan.
Bagian penutup ini memperlihatkan bahwa penyesalan bukan hanya menjadi beban Hasan, tetapi juga Kartini. Keduanya digambarkan sebagai manusia yang harus menghadapi akibat dari hubungan yang telah dipenuhi konflik dan kesalahpahaman. Kematian Hasan membuat persoalan yang belum selesai menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat diperbaiki melalui pertemuan atau percakapan.
Menariknya, novel ini dibuka dengan kesedihan Kartini dan kemudian membawa pembaca menelusuri kehidupan Hasan melalui naskah yang ditulisnya. Cara penceritaan tersebut membuat pembaca mengetahui akibat dari berbagai peristiwa sebelum memahami seluruh perjalanan yang mengantarkan tokoh-tokohnya ke keadaan tersebut.
Dengan demikian, pembaca tidak hanya mengikuti kisah perubahan keyakinan Hasan, tetapi juga melihat bagaimana berbagai keputusan dalam kehidupan dapat meninggalkan dampak yang panjang bagi orang-orang di sekitarnya.
Mengapa Atheis Masih Relevan untuk Dibaca?
Menurut saya, novel Atheis tetap relevan dengan kehidupan sekarang karena persoalan yang dihadapi Hasan masih dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Saat ini, seseorang dapat mengenal beragam pandangan mengenai agama, ideologi, dan kehidupan melalui pergaulan maupun media sosial. Pertemuan dengan pemikiran yang berbeda dapat memperluas wawasan, tetapi juga dapat menimbulkan kebingungan apabila seseorang belum memiliki dasar pemahaman yang kuat.
Pengalaman Hasan mengingatkan bahwa mengenal suatu pemikiran tidak sama dengan benar-benar memahaminya. Seseorang perlu memeriksa argumen, mempertimbangkan bukti, dan menyadari alasan di balik pendiriannya. Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk mengikuti lingkungan atau membantah orang lain.
Selain itu, kisah Hasan dan ayahnya memperlihatkan pentingnya komunikasi dalam keluarga. Perbedaan keyakinan dan pandangan hidup dapat menjadi persoalan yang sensitif, terutama ketika menyangkut sesuatu yang dianggap mendasar oleh masing-masing pihak. Dalam keadaan seperti itu, saling mendengarkan dan menghormati menjadi penting agar perbedaan tidak berubah menjadi luka yang sulit disembuhkan.
Novel ini juga mengingatkan pembaca untuk tidak mengabaikan persoalan emosional ketika menghadapi konflik. Hasan bukan hanya mengalami keraguan dalam keyakinan, tetapi juga kecemburuan, kesedihan, dan ketakutan kehilangan orang-orang terdekatnya. Berbagai perasaan tersebut memengaruhi cara ia mengambil keputusan dan menghadapi masalah.
Karena itu, kisah Hasan dapat dibaca sebagai gambaran bahwa pencarian jati diri merupakan proses yang tidak sederhana. Seseorang perlu mengenali dirinya sendiri, memahami pemikiran yang dihadapinya, serta mempertimbangkan akibat dari setiap tindakan. Pada saat yang sama, ia juga perlu menyadari bahwa kebebasan menentukan pendirian tidak menghapus tanggung jawab untuk memperlakukan orang lain dengan baik.
Kesimpulan
Melalui novel Atheis, Achdiat K. Mihardja menghadirkan kisah tentang manusia yang berusaha menemukan pegangan hidup di tengah perubahan pemikiran dan konflik pribadi. Hasan tumbuh dalam keluarga religius, kemudian berhadapan dengan pandangan Rusli dan Anwar yang mengguncang keyakinannya. Di tengah pencarian tersebut, ia juga mengalami persoalan percintaan, kecemburuan terhadap Kartini dan Anwar, pertentangan dengan ayahnya, hingga penyesalan setelah kehilangan orang-orang terdekatnya. Perjalanan itu memperlihatkan bahwa perubahan pendirian tidak selalu menghasilkan ketenangan apabila seseorang belum memahami dirinya sendiri dan belum mampu mengelola konflik yang dihadapinya. Bagi saya, kekuatan novel ini terletak pada penggambaran Hasan sebagai manusia yang tidak sempurna, penuh keraguan, dan harus menghadapi konsekuensi dari keputusan-keputusannya. Pada akhirnya, novel Atheis mengajak pembaca merenungkan hubungan antara kebebasan berpikir, pencarian jati diri, dan tanggung jawab dalam menjaga hubungan antarmanusia.
Daftar Pustaka
Mihardja, Achdiat K. (2010). Atheis. Jakarta: Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional.
