Aku Lelah Menjadi Diriku Sendiri, tapi Tidak Tahu Harus Menjadi Siapa

SEBAGAI MAHASISWA DI UNIVERSITAS KATOLIK SANTO THOMAS MEDAN
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Eko jaya Simamora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kelelahan yang tidak bisa diukur dengan jam istirahat, tidak bisa disembuhkan dengan libur singkat, dan tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Kelelahan itu muncul ketika seseorang merasa jenuh bukan pada hidupnya, melainkan pada dirinya sendiri. Ia bangun setiap hari sebagai orang yang sama, menjalani peran yang sama, dan memikul ekspektasi yang terus bertambah, tanpa pernah benar-benar bertanya apakah semua itu masih sanggup ia jalani dengan utuh.
Perasaan lelah menjadi diri sendiri sering kali datang tanpa tanda yang jelas. Tidak selalu ada kesedihan mendalam atau tangis yang meledak. Yang ada justru rasa hampa yang tenang, tetapi menekan. Hidup tetap berjalan, kewajiban tetap dipenuhi, dan senyum masih bisa dipasang. Namun, di dalam diri, ada jarak yang semakin lebar antara siapa seseorang terlihat di luar dan siapa dirinya yang sebenarnya di dalam.
Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi ketahanan, keberlanjutan, dan pencapaian, kejenuhan batin sering kali tidak mendapat tempat. Seseorang yang mengaku lelah dengan dirinya sendiri kerap dianggap berlebihan, kurang bersyukur, atau terlalu memikirkan hal yang tidak perlu. Padahal, kelelahan ini bukan tentang kurangnya nikmat hidup, melainkan tentang hilangnya ruang untuk bernapas sebagai manusia.
Banyak orang tumbuh dengan peran yang ditetapkan sejak dini. Menjadi anak yang diharapkan patuh, siswa yang dituntut berprestasi, pekerja yang harus selalu siap, dan individu dewasa yang dituntut stabil secara emosional. Peran-peran ini terus menumpuk dan membentuk identitas. Lama-kelamaan, seseorang tidak lagi hidup sebagai dirinya sendiri, melainkan sebagai rangkaian kewajiban yang harus dipertahankan agar tetap diterima.
Kejenuhan terhadap diri sendiri sering muncul ketika identitas berubah menjadi beban. Ketika seseorang merasa tidak punya ruang untuk gagal, ragu, atau sekadar mengeluh. Ia merasa harus selalu kuat, selalu bisa, dan selalu tersedia. Dalam kondisi ini, kelelahan bukan lagi tentang fisik, melainkan tentang kehilangan kebebasan untuk jujur pada diri sendiri.
Kalimat “aku lelah menjadi diriku sendiri” sering disalahpahami sebagai tanda kelemahan atau keinginan untuk menyerah. Padahal, dalam banyak kasus, kalimat itu justru lahir dari orang-orang yang terlalu lama bertahan. Mereka yang jarang mengeluh, terbiasa memendam, dan lebih sering menenangkan orang lain daripada dirinya sendiri. Kelelahan itu adalah akumulasi dari terlalu banyak diam dan terlalu sedikit didengar.
Tidak tahu harus menjadi siapa adalah fase yang menakutkan. Dalam dunia yang menuntut kejelasan arah, kebingungan dianggap sebagai kegagalan. Padahal, kebingungan adalah bagian alami dari proses menjadi manusia. Ia menandakan adanya kesadaran bahwa hidup yang dijalani perlu ditinjau ulang. Kesadaran ini menyakitkan karena menuntut keberanian untuk berubah, sementara perubahan selalu mengandung risiko.
Ironisnya, masyarakat sering lebih nyaman melihat orang lain tetap berada di tempat yang sama. Perubahan dianggap mengganggu keseimbangan. Seseorang yang ingin berhenti, berbelok, atau mengambil jarak sering dinilai tidak konsisten. Akibatnya, banyak orang memilih bertahan dalam kejenuhan karena takut mengecewakan, takut kehilangan pengakuan, atau takut tidak lagi dikenali.
Kejenuhan terhadap diri sendiri juga sering berkaitan dengan hilangnya makna. Seseorang melakukan banyak hal, tetapi tidak lagi tahu untuk apa. Rutinitas berjalan, target tercapai, tetapi batin terasa kosong. Dalam kondisi ini, hidup terasa seperti daftar tugas yang harus diselesaikan, bukan perjalanan yang dihayati. Diri sendiri menjadi asing, seolah hanya alat untuk memenuhi tuntutan.
Yang sering luput disadari, lelah menjadi diri sendiri bukan berarti ingin menjadi orang lain sepenuhnya. Yang diinginkan sering kali jauh lebih sederhana, jeda. Ruang untuk bernapas, waktu untuk mendengar ulang suara batin, dan kesempatan untuk merasakan hidup tanpa tekanan harus selalu benar. Namun, budaya yang memuja kecepatan jarang memberi ruang untuk berhenti.
Alih-alih disambut dengan empati, kejenuhan batin sering direspons dengan nasihat instan, lebih bersyukur, lebih kuat, lebih sabar. Nasihat ini mungkin baik, tetapi sering kali menutup ruang dialog. Padahal, yang dibutuhkan bukan dorongan untuk segera bangkit, melainkan izin untuk merasa lelah tanpa dihakimi.
Menjadi manusia bukanlah proses yang selalu naik dan maju. Ada fase stagnan, ragu, dan jenuh. Fase-fase ini bukan penyimpangan, melainkan bagian dari perjalanan. Mengakui kejenuhan terhadap diri sendiri adalah bentuk kejujuran yang jarang berani dilakukan, karena ia menuntut seseorang untuk menghadapi dirinya tanpa topeng.
Mungkin, tidak tahu harus menjadi siapa bukanlah masalah yang harus segera diselesaikan. Bisa jadi itu adalah undangan untuk berhenti sejenak dan menata ulang arah hidup. Bukan untuk menjadi versi diri yang lebih sempurna, melainkan versi diri yang lebih jujur.
Pada akhirnya, lelah menjadi diri sendiri adalah pengingat bahwa manusia bukan mesin peran. Kita berhak berubah, berhak ragu, dan berhak mengambil jarak dari identitas yang selama ini kita jalani. Kejenuhan bukan musuh yang harus dilawan, melainkan pesan yang perlu didengarkan.
Sebab, hidup yang terus dijalani tanpa kesadaran hanya akan memperpanjang kelelahan. Sementara keberanian untuk mengakui lelah, meski tanpa jawaban pasti, bisa menjadi awal dari pemulihan yang paling jujur.
Dan mungkin, dari sana, perlahan-lahan, seseorang tidak lagi sibuk mencari harus menjadi siapa, tetapi mulai berani menjadi dirinya sendiri dengan cara yang lebih manusiawi.
