Inflasi AS dan Dampaknya terhadap Indonesia

Dosen STIES Mitra Karya Bekasi dan Pelaku Usaha
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dr Eko Setiobudi, SE, ME tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Inflasi Amerika Serikat kembali menjadi alarm bagi perekonomian global. Data terbaru dari U.S. Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan bahwa Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat pada September 2026 meningkat 0,6 persen secara bulanan, setelah naik 0,4 persen pada Agustus. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,7 persen, meningkat dari 3,4 persen pada Agustus. Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2 persen.
Yang paling mengkhawatirkan adalah sumber kenaikan tersebut. Harga energi meningkat 5,2 persen secara bulanan dan 20,4 persen secara tahunan. Harga bensin bahkan melonjak 9,1 persen dalam sebulan dan 34,2 persen dibandingkan September tahun sebelumnya. Harga fuel oil meningkat 74,2 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi makanan relatif terkendali pada 2,5 persen.
Tekanan juga mulai terlihat di luar energi. Inflasi inti, yang tidak memasukkan makanan dan energi, meningkat 0,3 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan. Harga shelter naik 3,2 persen, tarif penerbangan 22,4 persen, dan pendidikan 3,8 persen dalam setahun. Ini menunjukkan bahwa persoalan inflasi AS tidak sepenuhnya merupakan fenomena sementara akibat energi. Tekanan harga mulai menjalar ke berbagai barang dan jasa.
Penyebabnya merupakan kombinasi beberapa faktor. Ketegangan geopolitik telah mengganggu pasar energi dan meningkatkan biaya transportasi. Gangguan rantai pasok juga memperbesar biaya produksi. Di sisi lain, kebijakan perdagangan dan tarif dapat meningkatkan harga barang impor. Investasi besar-besaran pada teknologi dan pusat data kecerdasan buatan juga menciptakan permintaan tinggi terhadap energi, semikonduktor, perangkat teknologi dan infrastruktur.
Dengan inflasi yang kembali meningkat tersebut, perhatian dunia kini tertuju pada Federal Reserve. Jika tekanan harga bertahan, ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas, bahkan kemungkinan pengetatan kembali meningkat. Pasar keuangan langsung merespons dengan kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar.
Sebagai ekonomi terbesar dunia dan penerbit mata uang cadangan utama, perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat mempunyai efek yang jauh melampaui batas negaranya. Ketika suku bunga AS tinggi, aset berbasis dolar menjadi lebih menarik. Modal global dapat bergerak menuju Amerika dan meninggalkan sebagian pasar negara berkembang. Dampak kenaikan inflasi AS tersebut bagi Indonesia diantaranya adalah:
Pertama, Indonesia berada dalam posisi yang cukup sensitif terhadap perubahan tersebut. Tekanan pertama muncul melalui nilai tukar rupiah. Jika dolar menguat dan terjadi arus keluar modal dari pasar domestik, rupiah menghadapi tekanan depresiasi. Depresiasi kemudian dapat meningkatkan harga barang impor, bahan baku, mesin, energi dan komponen industri yang dibayar dalam dolar. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa rupiah pada 22 September 2026 berada di sekitar Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78 persen dibandingkan akhir Agustus. Pada saat yang sama, BI mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah, inflasi dan perekonomian.
Kedua, dampak terhadap pasar modal. Kenaikan yield Treasury AS meningkatkan opportunity cost investasi di negara berkembang. Investor dapat mengurangi kepemilikan saham atau obligasi domestik dan memindahkan sebagian dana ke aset AS. Akibatnya, indeks saham dapat mengalami tekanan dan yield obligasi pemerintah Indonesia berpotensi meningkat.
Ketiga, pasar uang dan biaya pembiayaan. Jika tekanan terhadap rupiah semakin besar, BI menghadapi dilema antara mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan yang lebih longgar atau mempertahankan daya tarik aset rupiah melalui suku bunga yang relatif tinggi.
Keempat, sektor industri. Industri yang bergantung pada bahan baku, mesin, komponen atau energi impor menghadapi kenaikan biaya apabila rupiah melemah. Industri elektronik, otomotif, farmasi, manufaktur berbasis impor dan sejumlah sektor teknologi menjadi lebih rentan. Sebaliknya, eksportir komoditas tertentu dapat memperoleh keuntungan dari harga komoditas yang meningkat dan rupiah yang lebih lemah.
Bagaimanapun Indonesia saat ini memiliki bantalan yang cukup penting. BI mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, setara dengan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi tersebut jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Selain itu, transaksi Local Currency Transaction (LCT) Indonesia dengan sejumlah negara terus diperluas. BI mencatat transaksi LCT dengan mitra seperti China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Thailand dan Uni Emirat Arab telah mencapai US$49,42 miliar hingga Agustus 2026. Langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan transaksi perdagangan terhadap dolar.
Indonesia memang tidak mungkin mengendalikan inflasi Amerika Serikat. Yang dapat dilakukan adalah memperkuat daya tahan domestik. Tapi Indonesia harus melakukan langkah-langkah antisipasi agar dampak inflasi AS tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Hal ini bisa dilakukan melalui:
Pertama, BI harus menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan secara berlebihan. Kebijakan suku bunga, intervensi valas, instrumen lindung nilai dan pendalaman pasar keuangan perlu digunakan secara fleksibel sesuai perkembangan global.
Kedua, pemerintah perlu menjaga ketahanan energi dan pangan. Inflasi AS menunjukkan bahwa gangguan geopolitik dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan harga energi dan logistik. Indonesia perlu memperkuat produksi domestik dan diversifikasi sumber pasokan.
Ketiga, pemerintah perlu mempercepat hilirisasi dan substitusi impor. Semakin besar kandungan lokal dalam industri, semakin kecil dampak depresiasi rupiah terhadap biaya produksi.
Keempat, Indonesia harus memperluas perdagangan dan investasi dengan berbagai negara. Penguatan ASEAN, transaksi mata uang lokal dan diversifikasi pasar ekspor bukan berarti meninggalkan dolar, tetapi mengurangi risiko ketergantungan pada satu pusat ekonomi.
Kelima, pemerintah harus memperkuat pasar domestik. BI mencatat konsumsi rumah tangga Indonesia masih resilien dan pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 mencapai 13,65 persen secara tahunan.
Inflasi AS sebesar 3,7 persen mungkin terlihat sebagai angka domestik Amerika. Namun bagi Indonesia, angka tersebut dapat menjadi sumber tekanan terhadap rupiah, pasar modal, biaya pembiayaan dan industri. Karena itu, persoalannya bukan apakah Indonesia dapat menghindari dampak inflasi AS. Indonesia harus memastikan bahwa ketika gelombang tekanan global datang, fondasi ekonomi domestik cukup kuat untuk menyerapnya. Ketahanan ekonomi Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar pertumbuhan, tetapi juga oleh seberapa kecil ketergantungan terhadap guncangan eksternal.
