Mengakrabi Maut

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional
·waktu baca 30 menit
Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memento Mori, Carpe Diem..
Beberapa waktu terakhir, saya berada di bawah naungan atmosfer batin yang begitu pekat oleh duka, terimbas oleh kelesuan eksistensial yang menekan kesadaran hingga ke titik yang paling riil beberapa tahun lalu.
Membuka memori kognisi saya di era Pandemi Covid-19, yang sarat akan kedukaan dan kehilangan.
Akan tetapi, justru di dalam kerapuhan suasana batin yang berat itu, seakan saya dituntut untuk tidak menyerah pada keputusasaan, namun memelihara dan menegakkan harapan sebagai sebuah tugas ontologis.
Di dalam lingkaran diskursus mengenai kepastian akhir manusia, saya acap kali mendapati ketimpangan epistemik yang direfleksikan secara paripurna oleh diktum klasik Lao Tzu.
merekalah yang sungguh-sungguh paham memilih untuk bungkam, sementara mereka yang riuh bersuara sesungguhnya tidak memahami apa-apa.
Maksim primordial ini bersua pada aktualitasnya yang paling radikal tatkala nalar manusia dibenturkan pada fenomena maut.
Kebijaksanaan kuno tersebut berlakunya universal bagi eksistensi kita bersama, dan secara khusus merengkuh ruang kesadaran pribadi saya, dimana ruang yang beberapa waktu belakangan ini tersantuk pada dorongan reflektif yang amat mendalam untuk berkuriositas, membedah, dan berkontemplasi terkait hakikat maut.
Perasaan tergerak yang berpadu dengan keharuan yang sedemikian berat menyergap tatkala kita mendengarkan larik-larik bait puisi Sastro Wardoyo yang baru saja saya tonton.
Puisi tersebut menjadi artikulasi puitis yang melipat jarak antara kita dan batas paling akhir dari keberadaan.
Bilamana kita membedah batas-batas epistemologis manusia dalam mengartikulasikan maut, kita akan membentur sebuah dinding batas (Grenzsituation) yang tak terlampaui, yakni subjek manusia yang hidup tidak pernah memiliki pengalaman langsung (direkte Erfahrung) mengenai mautnya sendiri.
Seluruh korpus pengetahuan kita terkait kematian semata-mata ditimba dari pengalaman mengamati maut yang menimpa orang lain, maut sebagai fenomena eksternal yang mengeliminasi keberadaan 'Yang Lain' dari hadapan kita.
Kendati begitu, manusia bukanlah sekadar jasad biologis yang terjerat oleh masa kini yang profan. Manusia dianugerahi daya imajinasi, saya membayangkan sebuah fakultas mental transendental yang memungkinkannya melintasi batas-batas persepsi inderawi yang terbatas.
Melalui imajinasi itulah manusia membangun struktur analogi, menyusun spekulasi filosofis, bahkan melancarkan penyelidikan terhadap keteraturan dan keberevolusian dunia di sekitarnya.
Berangkat dari kapasitas spekulatif itulah, manusia pada akhirnya memberanikan diri untuk melangkah ke dalam rimba kontemplatif tentang maut.
Ia membayangkan sebuah momentum futuristik yang mutlak, peristiwa yang secara pasti akan tiba, kendati jangkar waktunya senantiasa terselubung di balik tabir ketidakpastian.
Saat manusia berdiri berhadapan dengan keniscayaan itu, ia barangkali mampu merumuskan jawaban teoretis atas pertanyaan deskriptif, apakah maut itu?
Jawaban ini dimungkinkan karena ia dapat mengobservasi, merefleksikan, serta memetakan secara rasional segala jalinan dampak, keretakan sosial, bahkan jejak traumatis yang ditimbulkan oleh maut terhadap komunitas mereka yang masih hidup.
Akan tetapi, bagi saya di sinilah letak jurang paradoks epistemologisnya, mampukah manusia menjawab apa arti maut bagi dirinya sendiri?
Mampukah kita secara konsisten mengucapkan sesuatu yang secara intrinsik berada di luar jangkauan bahasa dan pengalaman subjek yang hidup, dengan mengartikulasikan ketiadaan eksistensial dari dalam jalinan keberadaannya?
Untuk menguji pengandaian ini, marilah kita melakukan sebuah eksperimen pikiran (Gedankenexperiment). Saya ingin anda proyeksikan dalam imajinasi, seandainya manusia menjadi satu-satunya makhluk yang menghuni alam semesta ini, seorang diri, tanpa kehadiran 'Yang Lain', tanpa ada preseden kematian sesamanya.
Dalam kondisi soliter yang mutlak demikian, subjek tersebut sama sekali tidak akan memiliki kapasitas untuk mengontemplasikan konsepsi tentang maut.
Tidak ada satu pun fragmen dalam struktur pengalamannya yang mampu mengarahkan nalarnya pada konstruksi abstrak tentang kematian.
Kematian baru mewujud sebagai konsep rasional karena adanya relasi antarsubjek dan hilangnya 'Yang Lain' dari medan persepsi.
Selama berabad-abad, peradaban manusia berupaya melarikan diri dari gertakan eksistensial kuriositaz ini dengan cara mengonstruksikan fondasi metafisika spekulatif terkait apa yang dapat diharapkan di seberang batas kematian.
Beragam tradisi keagamaan, doktrin eskatologis, manuskrip-manuskrip antik dari ribuan tahun silam telah disusun untuk memberikan jangkar kenyamanan mental.
Bagi individu yang mengadopsi artikulasi iman itu, kematian diinterpretasikan sebagai transisi menuju fase kehidupan pasca-mortalitas.
Sebaliknya, bagi subjek yang menolak konstruksi dogmatis tersebut dan memilih berdiri di atas pijakan nihilisme atau skeptisisme radikal, kematian tidak menawarkan harapan apa pun.
Di hadapannya hanya terbentang ketiadaan mutlak (absolutes Nichts). Namun, bila ditelaah secara kritis, gagasan tentang 'ketiadaan mutlak' itu pun sesungguhnya hanyalah sebuah abstraksi mental, semacam bayangan spekulatif yang diproyeksikan dari pengalaman inderawi ketika mengamati sirnanya kehadiran orang lain di hadapan mata.
Kuriositas elemenyer yang kemudian mengemuka adalah, betulkah maut itu secara ontologis merupakan suatu ketiadaan mutlak?
Sebagai seseorang dengan latar belakang akademis yang dibentuk oleh disiplin hubungan internasional, yang juga menggeluti filsafat dan kosmologi, saya merasa perlu untuk menarik diskursus ini ke dalam kerangka positivisme kosmik dan hukum-hukum fundamental alam.
Mari kita berandai-andai bahwa gagasan mengenai kehidupan pasca-kematian tidak pernah ada. Bahkan dalam skenario materealistik yang paling dingin sekalipun, Hukum Kekekalan Energi dan Hukum Kekekalan Materi memberikan jaminan ontologis bahwa jasad material dari setiap makhluk hidup tidak akan pernah lenyap begitu saja dari kain alam semesta (fabric of the universe).
Secara fisik, jasad biologis yang menghentikan napasnya akan meluruh, mengalami dekomposisi molekuler, dan mendaur ulang atom-atom penyusunnya ke dalam biosfer.
Proses ini persis seperti setetes air yang terlepas dari awan, jatuh, dan kemudian menyatu kembali ke dalam arus besar air sungai yang mengalir menuju samudra.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa argumentasi ini mungkin terdengar begitu dingin, steril, dan tidak simpatik di tengah suasana ketika beberapa waktu belakangan, kita ada dalam situasi mengenang sahabat, kerabat, dan figur terkasih yang telah pergi mendahului ditangah pandemi Covid-19.
Mengapa di saat duka seperti itu memuncak, saya justru menyodorkan kalkulasi mekanis mengenai hukum kekekalan materi? Perlu saya tegaskan bahwa renungan filosofis ini tidak dirancang dalam ruang hampa yang terisolasi.
Gagasan-gagasan yang saya artikulasikan dalam risalah ini disusun berdasarkan jalinan kuriositas paling elementer yang diajukan oleh rekan-rekan saya di Yayasan Lontar dan Jakarta Content Week.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak lahir dari spekulasi akademis yang genit, ia adalah kristalisasi rekoleksi dari kegelisahan, kepanikan, dan kecemasan eksistensial kita bersama di tengah badai pandemi yang alih-alih mereda, justru secara eksponensial terus memunculkan varian-varian baru dari virus corona.
Sebagai seorang manusia yang akhir-akhir ini mengemban kewajiban untuk mengejawantahkan secara tertulis terkait apa yang menggelisahkan, saya merasakan dua ironi peradaban yang begitu menohok dan menusuk jantung kesadaran kita di tengah krisis global ini.
Ironi pertama bersumber dari benturan antara narasi akselerasi teknologi dan realitas material tubuh kita. Bila saya memanggil memori, pandemi Covid-19 meletus justru pada saat peradaban dunia sementara bergerak berderak-derak dalam kecepatan yang hiperbolis.
Para pemimpin negara, teknokrat, dan elite ekonomi global tiada henti mempropagandakan retorika triumfalisme, "Sambutlah Revolusi Industri 4.0! Siap atau tidak, ini adalah keniscayaan sejarah yang tidak untuk dikutuki ataupun dirayakan semata!"
Dalam doktrin tersebut, menolak akselerasi digital berarti menyetujui kepunahan sosio-ekonomi, sedangkan menerimanya dipercaya sebagai satu-satunya jalan untuk memacu kapasitas diri.
Di tengah gelombang demam kolektif terhadap bermacam wujud eksistensi digital, pada saat manusia merasa seakan telah berhasil meliberalisaai dirinya dari gravitasi fisik karena tidak lagi dituntut untuk hadir secara spasial dalam perjumpaan-perjumpaan konkret, atau realitas material yang telanjang justru menyeruak ke permukaan.
Kenyataan itu adalah apa yang kita rasakan secara intens saat ini, bahwa tubuh yang bernapas dan sapaan hangat yang hadir secara langsung tanpa perantaraan medium teknologi ternyata memiliki nilai eksistensial yang tak tergantikan oleh algoritma apa pun.
Di sinilah letak aksentuasi paradoksnya, semakin intensif manusia terhubung dalam jejaring konektivitas virtual, semakin mendalam pula rasa kesepian eksistensial yang menggerogoti jiwanya.
Tiba-tiba saja, jutaan individu merasa terasing dan sendirian di tengah riuhnya kebersamaan digital, terpuruk di dalam ceruk kesunyian tatkala berhadapan dengan akumulasi kehilangan yang terjadi begitu masif di sekeliling mereka.
Digitalisasi yang dijanjikan sebagai emansipasi dari batas-batas fisik malah seakan mempertegas alienasi manusia dari hakikat dirinya sebagai makhluk bertubuh.
Sementara badai pandemi kala itu belum memperlihatkan tanda-tanda mereda, muncul ironi kedua yang jauh lebih menusuk kerahasiaan eksistensi kita.
Kerentanan jasmani manusia (corporeal vulnerability) mengemuka secara sangat telanjang justru di saat ilmu kesehatan modern sementara berada pada puncak pencapaian saintifik yang paling mengagumkan dalam sejarah manusia.
Dunia kedokteran modern patut membanggakan prestasinya, sebut saja keberhasilan menurunkan angka kematian global akibat penyakit jantung hingga 40%.
Bahkan, bila kita membuka lembaran sejarah pada dekade 1960-an hingga 1970-an, terdapat sebuah era di mana konsensus medis di negara-negara maju membiakkan keyakinan jumawa bahwa peradaban manusia telah berhasil memenangkan peperangan abadi melawan penyakit menular.
Sikap triumfalistis ini tercermin secara sempurna dalam pernyataan Sir Frank Macfarlane Burnet, seorang imunolog ulung peraih Hadiah Nobel Fisiologi dan Kedokteran.
Pada saat ia menyusun karya ilmiahnya terkait virus dan penyakit menular pada era tersebut, Burnet secara eksplisit mendeklarasikan bahwa menulis tentang penyakit patogen saat itu hampir-hampir menyerupai tindakan menyusun narasi sejarah mengenai sesuatu yang sudah usang dan tinggal kenangan belaka.
Optimisme saintifik tersebut kala itu bukannya tidak memiliki pijakan empiris yang kokoh. Sepanjang rentang tahun 1950 hingga 1980, intervensi masif lewat teknologi vaksinasi dan penemuan antibiotik berhasil membebaskan warga dunia, khususnya di negara-negara industri maju, dari ancaman fatalitas yang diakibatkan oleh invasi virus dan bakteri.
Kasus yang paling monumental merupakan pemusnahan variola atau penyakit cacar dari muka bumi. Virus cacar secara resmi berhasil dilenyapkan dari sirkulasi alami manusia (sehingga kini spesies patogen tersebut hanya tersisa dalam status terkonservasi di dua laboratorium berkeamanan tingkat tinggi di Amerika Serikat dan Rusia).
Sejak kasus infeksi alami terakhir dicatat pada tahun 1977, penyakit cacar dinyatakan musnah total dari habitat manusianya. Implikasi epistemologis dari kejayaan medis ini sangat mendasar. tatkala penyakit menular berhasil ditekan hingga ke batas terluar, kalaupun terdapat kasus infeksi yang tersisa di negara-negara berkembang, fenomena tersebut tidak lagi dipandang sebagai sebuah tantangan keilmuan medis yang krusial.
Masalah tersebut direduksi semata-mata sebagai persoalan hambatan kehendak politik (political will) dan kelalaian tanggung jawab moral dalam distribusi kesejahteraan.
Euforia bahwa manusia telah melampaui era patogen bertahan dengan sangat stabil hingga memasuki era 1980-an. Namun, optimisme tersebut mendadak hancur berantakan ketika rentang tahun 1981 hingga 1990 mencatat kemunculan kembali varian-varian penyakit menular baru yang mematikan.
Fenomena re-emergensi patogen itu menyadarkan saya pada sebuah artikulasi filosofis mendasar, hal yang berporos dalam beberapa risalah saya akhir-akhir ini, di mana alam semesta ini memiliki derajat kompleksitas yang begitu kompleks dan tak terjangkau oleh keangkuhan kalkulasi linier manusia.
Dinamika proses fisika-biologis yang beroperasi di dalam ruang ekosistem adalah jalinan yang amat rumit. Tepat pada momentum di saat manusia merasa telah cukup memahami seluruh mekanisme alamiah dan meyakini bahwa proyeksi sains telah hampir menyentuh kepastian presisi tentang masa depan, alam senantiasa menyodorkan anomali yang tak terduga.
Terdapat dimensi-dimensi alamiah yang mengalami metamorfosis dan akselerasi jauh lebih cepat daripada seluruh kapasitas kalkulatif yang dapat ditakar oleh kecerdasan manusia.
Di samping itu, manusia perlu menyadari sebuah fakta ontologis yang acap kali teracuhkan oleh sikap antroposentrisme kita, bahwa manusia bukanlah satu-satunya entitas di muka bumi yang bergulat untuk menghindari ancaman kepunahan.
Manusia bukan juga sosok tunggal yang secara mati-matian berjuang untuk melestarikan eksistensi biologisnya.
Di dalam gelanggang evolusi di muka bumi, dengan segala variasi keunggulan adaptif yang pernah dipetakan oleh Charles Darwin, mekanisme seleksi alam ternyata membawa keberuntungan evolusioner yang jauh lebih besar kepada jasad-jasad renik yang kita sebut sebagai virus dan bakteri, ketimbang kepada spesies Homo sapiens.
Pada akhir dekade 1990-an, para ilmuwan dibuat terperanjat oleh kenyataan bahwa mereka telah mengidentifikasi lebih dari 300 jenis penyakit menular baru yang sebelumnya tidak pernah terpetakan dalam sejarah medis.
Pada titik krusial inilah, Joshua Lederberg, seorang pakar genetika dan virologi terkemuka, menyuarakan peringatan keras bagi peradaban.
Lederberg menegaskan bahwa alih-alih menyurut hingga ke titik lenyap sebagaimana yang diramalkan oleh narasi triumfalisme medis abad ke-20, penyakit menular justru tetap bertahan sebagai agen utama pemutus kehidupannya manusia di seluruh belakangan bumi.
Klimaks dari peringatan Lederberg tersebut kini kita rasakan secara langsung dalam tubuh sosial kita. Angka statistik mencatat lebih dari lima juta jiwa manusia melayang akibat terjangkit virus corona pada rentang beberapa tahun saja, di mana di dalamnya tercakup perkiraan tragis sebanyak 180 ribu tenaga kesehatan yang gugur di garis depan.
Di antara tumpukan angka-angka tersebut, terdapat sahabat-sahabat kita, para penulis, seniman, budayawan, serta para penggerak ekosistem perbukuan yang nama-namanya tentu kekal dalam memori kita semua.
Secara metodologis, angka statistik memang senantiasa berisiko terasa dingin, impersonal, dan seakan mereduksi martabat unik dari wujud manusia menjadi sekadar kuantitas matematis.
Akan tetapi, kendati statistik terkesan beku, kuantifikasi angka-angka tersebut memberikan kita sebuah peta gambaran yang objektif tentang betapa mahaluasnya problematika yang kita hadapi kala itu, serta betapa dahsyatnya distrupsi yang ditimbulkan terhadap kontinuitas peradaban kita.
Dua kondisi dramatis inilah yang kemudian memicu pikiran saya bersiteru dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang amat berat kepada saya, kuriositas yang sungguh menyudutkan nalar dan hampir-hampir mustahil untuk dijawab secara tuntas.
Kendati begitu, sebagai sebuah kewajiban intelektual, saya akan mencoba mengurainya satu demi satu. Pertanyaan mendasar yang pertama adalah,
Apakah manusia, dengan segala tilikan akal budinya yang selama ini diagungkan sebagai puncak tertinggi dari proses evolusi (atau dalam terminologi teologis kerap diklaim sebagai mahakarya puncak penciptaan), pada akhirnya mesti bersimpuh dan mengaku bahwa alam yang buta, alam yang nirsadar, alam yang hanya beroperasi berpacu pada hukum-hukum mekanis dan impresi kebetulan semata, pada hakikatnya bukanlah tandingan bagi nalar manusia?
Pertanyaan filosofis itu berkelindan erat dengan pertanyaan krusial berikutnya.
Apakah bencana pandemi Covid-19 merupakan bukti tidak terbantahkan mengenai kerentanan struktural manusia sebagai spesies Homo sapiens di atas permukaan planet bumi yang usianya semakin menua?
Kuriositas tentang posisi kerentanan manusia di atas bumi yang menua ini serta-merta membangkitkan ingatan akademis saya pada sebuah formulasi metodologis yang pernah disusun oleh astronomer tersohor dan komunikator sains ulung, Carl Sagan.
Untuk memberikan pemahaman yang presisi mengenai keneradaan manusia di dalam kedalaman sejarah ruang dan waktu kosmik, Sagan merancang sebuah skema heuristik yang sangat terkenal, yaitu Cosmic Calendar.
Dalam skema ini, Sagan memampatkan seluruh skala waktu evolusi alam semesta, yang terentang sepanjang 13,8 miliar tahun sejak Big Bang hingga detik ini, ke dalam skala waktu ringkas satu tahun kalender masehi.
Mari kita bedah pergerakan waktu kosmik ini secara saksama guna mengevaluasi kembali posisi ontologis spesies kita. Dalam Kalender Kosmik Sagan, setiap satu hari kosmik setara dengan durasi waktu riil selama 37,5 juta tahun.
Januari, alam semesta kita bermula pada tanggal 1 Januari pukul 00:00:00 melalui peristiwa Big Bang, sebuah kosmogenesis yang melahirkan ruang, waktu, materi, dan energi dari titik tumpu singularitas.
Mei, Galaksi Bimasakti, yang menjadi rumah kosmik yang mengasuh sistem tata surya kita, baru terkondensasi dan terbentuk pada minggu pertama bulan Mei kosmik, setelah miliaran tahun akumulasi gravitasi beroperasi dalam kegelapan.
Agustus, bintang induk kita, Matahari, beserta planet Bumi baru membulat dan hadir pada akhir bulan Agustus kosmik, atau sekitar tiga setengah bulan setelah pembentukan Bimasakti. Pada fase awal terbentuknya di akhir Agustus tersebut, atmosfer bumi merupakan lingkungan yang sangat mematikan, sarat dengan gas-gas beracun yang akan serta-merta memusnahkan kita seandainya kita sudah hadir pada masa itu. Akan tetapi, pada momentum tersebut, manusia belum ada sama sekali.
September, sekitar tiga minggu setelah bumi terbentuk, yakni memasuki pertengahan bulan September kosmik, wujud kehidupan yang paling elementer dalam bentuk jasad-jasad renik bersel tunggal mulai bermunculan di samudra purba. Organisme mikroskopis ini mengonsumsi zat karbon dan memanfaatkan radiasi sinar matahari lewat fotosintesis primitif. Sambil melangsungkan metabolismenya, mereka mengekskresikan gas oksigen ke atmosfer secara bertahap, hingga perlahan mengubah warna langit purba menjadi kebiruan sebagaimana yang kita saksikan hari ini.
November, dua bulan setelah kemunculan mikroba tersebut, yakni pada bulan November kosmik, organisme bersel banyak (multicellular organisms) mulai berevolusi, memperkenalkan mekanisme reproduksi seksual, dan mengisolasi struktur biologis yang lebih kompleks.
Desember, perkembangan kehidupan bergerak semakin terakselerasi di bulan terakhir tahun kosmik. Pada tanggal 27 Desember kosmik, bumi memasuki eranya yang sangat terkenal yakni Era Jurasik. Dinosaurus sebagai reptil raksasa mendominasi dan menguasai hampir seluruh bentang daratan planet ini. Akan tetapi, dinasti raksasa yang tampak tak tertandingi ini sesungguhnya tidak bertahan lama dalam skala kosmik, dominasi mereka hanya berlangsung selama beberapa hari saja. Pada tanggal 30 Desember kosmik, sebuah destruksi massal melenyapkan seluruh dinosaurus dari muka bumi.
Anda lalu mungkin bertanya, lantas di manakah posisi Homo sapiens dalam rentetan sejarah kosmik yang maha panjang ini? Untuk menemukan jejak eksistensial spesies manusia, kita terpaksa menyusutkan resolusi Kalender Kosmik dari skala bulan dan hari menuju ke skala menit dan detik kosmik.
Perlu dicatat bahwa dalam skala ini, setiap satu menit kosmik setara dengan 26.000 tahun sejarah riil manusia.
Pada tanggal 31 Desember pukul 23:54:00, tepat delapan menit sebelum dentang tahun baru kosmik bergema, berlangsunglah sebuah peristiwa yang selanjutnya mentransformasikan bentang fisik bumi secara radikal, yakni kemunculan pertama spesies Homo sapiens, manusia dalam bentuk anatomis modern sebagaimana kita hari ini.
Tiga menit kemudian, yakni pada pukul 23:57:00 (hanya tiga menit menjelang tengah malam), manusia baru berhasil mendomestikasi hewan, mengembangkan sistem pertanian settled, menemukan seni ekspresif, membangun benteng-benteng perkotaan, dan memulai ambisinya untuk menundukkan keterbatasan alam.
Seluruh konstruksi penemuan sains, pengetahuan yang memungkinkan kita merancang skema Kalender Kosmik ini, ilmu medis modern yang melahirkan antibiotik dan vaksin, serta teknologi digital yang membuka posibilitas bagi kita untuk saling bertatap muka dan melangsungkan percakapan virtual malam ini, sesungguhnya baru terjadi pada satu detik terakhir menjelang berakhirnya tanggal 31 Desember.
Spesies cerdas yang melabeli dirinya Homo sapiens ini nyatanya baru beberapa menit saja menjadi penghuni alam semesta. Rata-rata usia hidup satu individu manusia bila dikonversikan ke dalam skala waktu kosmik ini hanyalah berlangsung selama kurang lebih 0,16 detik kosmik.
Namun, di sinilah letak kedahsyatan sekaligus ketidakseimbangan antropologisnya. Tepat pada satu detik terakhir menjelang tengah malam kosmik tersebut, hampir tidak ada satu pun jengkal tanah di atas bumi yang terbebas dari jejak ekologis manusia.
Hampir tidak ada satu pun spesies makhluk hidup di planet ini yang tidak terpengaruh oleh eksistensi dan aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk kehidupannya yang terisolasi di kedalaman samudra tergelap sekalipun.
Pemaparan sejarah kosmik sebagaimana yang dideskripsikan oleh Carl Sagan ini selalu memikat dan mempesona kesadaran manusia.
Dari perspektif kosmologi teoretis, perjalanan waktu yang memungkinkan kita hadir di tempat ini pada dasarnya disokong oleh sebuah kondisi yang begitu presisi, bahwa interaksi antar-besaran fisika fundamental layaknya konstanta gaya gravitasi, kekuatan interaksi elektromagnetik, atau besaran gaya nuklir kuat dan lemah, semuanya berada pada tatanan nilai yang amat pas (fine-tuned).
Hal ini sudah saya ekplanasikan secara komprehensif dalam risalah paling awal terkait kosmologi, dimana besaran-besaran basis itu saling mengunci secara harmonis, menyerupai dawai-dawai instrumen musik yang ditala sedemikian halus oleh alam semesta, hingga tidak ada satu jentik nada pun yang fals atau sumbang.
Keberadaan alam semesta yang teratur dan fine-tuned ini memberikan kita rasa nyaman dan membuat manusia merasa betah menghuninya.
Mengapa demikian? Karena dalam skema kosmologis seperti ini, kita tidak lagi menganggap diri kita sebagai makhluk asing yang diimplan atau dilemparkan secara acak ke dalam realitas yang memusuhi kita. Sama sekali tidak.
Manusia menyadari bahwa dirinya berevolusi, tumbuh, dan memproses eksistensinya bersama-sama dengan materi alam semesta. Kita terbentuk bersama dengan evolusi flora, fauna, dan formasi bintang-bintang di angkasa.
Bahkan, secara material-kimiawi, molekul protein yang menyusun struktur organ, nitrogen dalam sel kita, oksigen dalam darah kita, serta zat besi dan mineral dalam tulang-jemulang kita sesungguhnya tidak pernah dibentuk secara primer di atas bumi ini.
Semua elemen berat itu adalah produk sekunder dari reaksi termonuklir di inti bintang-bintang purba yang meledak (supernova), menyebarkan debu-debu stelar ke seluruh jagat raya, yang di kemudian hari mengendap dan menyusun planet bumi beserta tubuh kita.
Kita, secara harafiah, adalah debu bintang yang memiliki kesadaran. Namun, narasi kosmologis yang mempesona ini acap kali mengendap bahaya berupa romantisisme palsu. Narasi yang sama berisiko menyelubungkan sisi lain dari sejarah alam, semacam lorong ngarai terjal yang gelap, kelam, dan sarat oleh kebengisan eksistensial.
Alam semesta tidak hanya berisi harmoni dawai-dawai fisika yang merdu, taoi juga gelanggang persaingan brutal yang oleh Charles Darwin diistilahkan sebagai perang antar-organisme yang berlangsung secara mengerikan namun senyap, peperangan yang tanpa jeritan, tetapi amat sangat sadis.
Darwin sendiri secara jujur mengaku betapa gelisahnya ia melihat realitas alamiah ini. Ia terhenyak tidak hanya oleh mekanisme persaingan sengit antarsesama spesies untuk memperebutkan daya dukung lingkungan, namun juga oleh catatan bencana kosmik dan ekologis yang telah memusnahkan lebih dari 99% spesies makhluk hidup yang pernah menghuni planet bumi.
Seluruh kepunahan masif itu sudah terjadi jauh sebelum spesies manusia pertama menjejaki kakinya di atas bumi. Ini memperlihatkan adanya penghapusan kehidupan dalam skala yang amat mahaluas.
Kehadiran manusia di kemudian hari semata-mata menambah daftar panjang dari spesies-spesies yang terdorong menuju jurang kepunahan, di samping akumulasi ratusan juta jiwa manusia sendiri yang tewas digulung oleh gelombang wabah dan pandemi sepanjang sejarah tersurat.
Kenyataan pahit ini membawa saya sebagai seseorang yang akhir akhir ini bergulat dengan filsafat dan kosmologi, dan anda semua pada sebuah kuriositas fundamental, mengapa alam semesta terkesan begitu boros? Mengapa ia begitu memboroskan kematian?
Sikap kita berhadapan dengan keniscayaan maut ini tentu berlainan secara dramatis dengan orientasi pemikiran filsuf dan sastrawan kenamaan Elias Canetti.
Di dalam karya-karya drama dan novel filosofisnya yang begitu brilian, Canetti mengekspresikan kebencian yang mendalam dan radikal terhadap maut.
Bagi Canetti, maut merupakan simbol paling telanjang dari kesiasiaan eksistensi manusia, pengkhianatan terhadap potensi kehidupan yang harus ditolak dan dilawan dengan seluruh serat kesadaran.
Akan tetapi, dari sudut pandang mekanika alam, apa yang terlihat sebagai tragedi dan bencana mengerikan di mata manusia sesungguhnya hanyalah manifestasi dari dinamika internal alam yang sedang terus berproses.
Benturan konvektif dan pergeseran lempeng tektonik bumi memang memicu gempa bumi dahsyat yang meruntuhkan kota-kota dan menelan korban jiwa yang tidak terhitung jumlahnya.
Namun, pada momentum yang senada, dinamika tektonik itulah yang membingkai bentang alam baru, membuka relung ekologis baru, dan membuka posibilitas kemunculan spesies-spesies baru dalam jangka panjang.
Begitu juga halnya dengan mutasi genetik, dimanab kerap kali mutasi menghasilkan kerusakan biologis yang mengerikan, termasuk melahirkan varian-varian virus yang bermutasi sedemikian cepat hingga sanggup melumpuhkan efikasi vaksin-vaksin terbaik manusia.
Namun, tanpa adanya mekanisme mutasi yang acak tersebut, tidak akan pernah ada bahan baku baru bagi seleksi alam untuk menguji dan memicu posibilitas-probabilitas baru dalam evolusi.
Dalam terminologi evolusi Darwinian yang terkesan dingin dan tidak mengenal belas kasihan, alam menerapkan satu diktum tunggal, dimana hanya mereka yang paling adaptif dan tanggap terhadap perubahan lingkunganlah yang akan bertahan hidup.
Karena, menjadi tanggap berarti memiliki daya tahan (resistance) sekaligus daya lenting (resilience). Kemampuan untuk menyerap kejutan benturan dan membangkitkan kembali struktur eksistensinya.
Bila kita bertanya, makhluk hidup apakah yang memiliki daya lenting paling tinggi di atas planet ini? Jawabannya mungkin akan membuat keangkuhan manusia terhenyak. Hewan dengan kapasitas adaptasi paling tangguh bukanlah manusia dengan peradaban tingginya, namun kecoa.
Kecoa merupakan entitas biologis yang sudah melintasi berbagai era kepunahan masif, dan hingga detik ini. Dengan seluruh pencapaian sains modern yang kita miliki, manusia belum pernah berhasil memusnahkan populasi kecoa dari ruang kehidupannya.
Lantas, bagaimana posisi manusia di hadapan hukum evolusi ini? Fakta bahwa manusia merupakan makhluk yang dibekali akal budi sehingga mampu berevolusi secara kultural tidak serta-merta membebaskan dirinya dari keniscayaan penuaan dan kematian.
Menua adalah ciri ontologis intrinsik dari kehidupan biologis itu sendiri, karena mekanisme seleksi alam pada hakikatnya beroperasi secara tidak efisien dan melemah tatkala suatu organisme telah melewati usia reproduktifnya.
Kendati demikian, sebagaimana yang telah saya kemukakan, alam tidak pernah menyia-nyiakan jasad yang telah mati. Tidak ada satu pun materi yang terbuang secara percuma di dalam siklus kosmik.
Melalui daur terpadu biologi, geofisika, dan kimia, jasad organik yang membeku akan terurai kembali oleh mikroorganisme pembusuk, mengembalikan molekul-molekul dasar penyusunnya ke dalam tanah dan lautan, serta menyuburkan kembali rahim bumi.
Bangkai dari vegetasi purba dan jasad hewan-hewan raksasa masa lampau yang terkubur selama jutaan tahun mengalami transmutasi menjadi fosil hidrokarbon, sebuah cadangan energi yang hari ini kita ekstrak untuk menggerakkan mesin-mesin peradaban kita.
Di balik realitas material ini, terselip sebuah pemahaman yang di satu sisi memberikan kelegaan rasional, tapi di sisi lain menghadirkan kegetiran yang membekukan darah, bahwa seluruh konstruksi kehidupan kita hari ini seyogyanya berdiri tegak di atas tumpukan stratum kematian yang maha luas.
Di sinilah letak perbedaan elementer antara manusia dan entitas biologis lainnya. Hewan dan tumbuhan bergulat melestarikan eksistensinya lewat dorongan instingtif murni.
Manusia, sebaliknya, terlempar ke dalam satu dimensi eksistensial yang lebih kompleks. Ia tidak hanya sadar akan lingkungannya, tapi mawas akan kesadarannya sendiri (self-conscious).
Manusia merupakan satu-satunya entitas di bumi yang mampu berjarak dengan dirinya sendiri, memikirkan pikirannya, dan mengajukan kuriositas filosofis tentang makna eksistensinya.
Namun, malah karena kemawasan atas kesadarannya itulah, manusia dipaksa untuk memikul beban kognitif yang amat berat, sebuah beban eksistensial yang saya rasakan begitu pekat dan menekan bila berkontemplasi pada masa-masa pandemi.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang sejak usia mudanya sudah menyadari sebuah kepastian yang mengerikan bahwa eksistensi dirinya di dunia ini memiliki batas akhir, bahwa ia suatu hari kelak pasti akan mati.
Lantaran didorong oleh kecemasan ontologis terhadap kepunahan itu, manusia tidak pernah puas untuk hanya 'hidup' dalam pengertian biologis murni. Ia berupaya menyalurkan hasrat eksistensialnya yang membara dengan cara mendirikan benteng-benteng 'kehidupan' kultural.
Di dalam gelanggang kehidupan kultural itulah, manusia menorehkan narasi sejarah, menciptakan mahakarya seni, mendirikan institusi sosial, dan menggoreskan jejak eksistensinya agar tidak tersapu oleh pembusukan waktu.
Karya puisi "Dari Kematian Makin Akrab" karya Subagio Sastrowardoyo beberapa waktu saya baca, yang sarat akan kutipan-kutipan naratif yang saya anjurkan anda untuk mendalaminya, menjadi fragmen konkret dari upaya manusia mengukir jejak makna tersebut.
Kesadaran bahwa kematian semakin mendekat justru menjadi bahan bakar bagi manusia untuk mentransendensikan limitasi fisiknya dan merumuskan apa yang kita sebut sebagai makna.
Akan tetapi, di tengah keterpukauan kita atas keberhasilan manusia membangun peradaban dan memproduksi makna, badai pandemi Covid-19 datang menghantam dan menyodorkan kembali pertanyaan radikal yang baru saya sadari kini
Mengapa dengan seluruh supremasi sains dan teknologi modern yang berada pada kondisi terhebatnya, manusia tetap tampak begitu tak berdaya di hadapan invasi jasad renik mikroskopis seperti virus corona?
Di manakah letak superioritas eksistensial manusia tatkala berhadapan dengan entitas nir-nalar tersebut?. Secara kosmologis, usia alam semesta kita memang sudah sangat tua, 13,8 miliar tahun.
Sebaliknya, usia planet bumi kita baru mencapai sekitar 4,5 miliar tahun, yang artinya belum melampaui separuh dari estimasi masa hidupnya.
Akan tetapi, di atas bumi yang secara kosmologis masih 'paruh baya' ini, spesies manusia sudah berguguran dalam jumlah yang begitu masif akibat kegagalan merespons dinamika mikroba.
Seleksi alam memang tidak pernah dirancang untuk memberikan proteksi sempurna untuk manusia dari segala bentuk patogen.
Sains hadir sebagai instrumen buatan manusia untuk memperpanjang rentang ketahanan tersebut, dengan tujuan utama mengintervensi kerentanan biologis dan menunda kematian dini.
Fenomena covid mengindikasikan bahwa kegagalan kita tidak terletak pada keterbatasan evolusi alamiah semata, tapi juga pada kelemahan tatanan sosio-politik dan epistemologis kita sendiri.
Kita terhentak oleh pandemi bukan hanya karena maut mendadak berjarak begitu dekat dari napas kita, namun karena kita sadar bahwa pola hidup, preferensi ekonomi-politik, dan kebijakan kebudayaan kita telah mengubah maut, yang seharusnya merupakan proses evolusi alamiah yang wajar, menjadi global catastrophe.
Lintasan sejarah perkembangan sains medis dalam beberapa dekade terakhir memperlihatkan sebuah pergeseran biopolitik yang krusial.
Akibat timbulnya keyakinan semu bahwa era ancaman penyakit menular telah berakhir pasca-keberhasilan eliminasi cacar, alokasi dana penelitian dan infrastruktur pelayanan kesehatan di banyak negara maju secara masif dialihkan untuk menangani penyakit-penyakit kronis degeneratif (seperti penyakit jantung, kanker, dan diabetes) yang berkolerasi dengan gaya hidup masyarakat modern.
Akibatnya, investasi industri farmasi swasta untuk riset dan pengembangan vaksin baru serta antibiotik generasi baru mengalami kekeringan modal.
Disiplin keilmuan virologi dan epidemiologi penyakit menular mendadak kehilangan daya tarik finansial dan tidak lagi menjadi prioritas alokasi dana hibah penelitian.
Pada dekade 1990-an, Joshua Lederberg bersama rekan-rekannya telah secara gigih menunjukkan fakta biopolitik yang amat memprihatinkan ini.
Mereka memperingatkan bahwa bahkan negara super-power seperti Amerika Serikat sekalipun tidak lagi memiliki sistem surveilans dan kapasitas infrastruktur yang memadai untuk melacak, memantau, dan merespons potensi ancaman patogen baru.
Dikala pandemi berskala masif benar-benar meletus, struktur kesehatan masyarakat terbukti tidak siap melayani ledakan korban, hal tersebut mengindikasi kerapuhan struktural yang persis kita saksikan dan kita alami bersama beberapa tahun belakangan.
Sementara riset medis dialihkan ke penyakit degeneratif, proses globalisasi yang diakselerasi oleh kemajuan teknologi transportasi dan ekspansi kapitalisme telah mentransformasikan manusia menjadi spesies dengan karakteristik yang amat berbeda bila dikomparasikan dengan leluhurnya seabad yang lalu.
Secara taksonomi biologis, kita memang tetaplah Homo sapiens. Akan tetapi, secara ekologis, ritme, mobilitas, dan pola konsumsi masyarakat modern telah bermetamorfosis secara radikal.
Manusia kini merangsek masuk ke dalam relung-relung ekosistem hutan perawan yang terisolasi, merusak habitat alami satwa liar, dan secara tidak langsung membuka pintu kontak antara manusia dengan reservoir virus purba.
Guna mengeksplanasikan dinamika kompleks ini, Lederberg mengintroduksi kerangka konseptual baru, Ecology of Disease.
Melalui pendekatan ini, metafora lama yang memandang pandemi sebagai "perang antara manusia melawan kuman" ditolak karena dinilai terlalu mendistorsi realitas.
Metafora perang mesti digeser oleh perspektif ekologis yang melihat jalinan interaksi biologis antara agen patogen (virus/bakteri) dan tubuh inang (host) dalam sebuah ekosistem yang saling mempengaruhi.
Sayangnya, sains modern di sisi lain mengalami proses hiper-spesialisasi yang ekstrem. Cabang-cabang keilmuan tumbuh bagaikan pohon dengan ranting-ranting yang semakin mengecil dan terisolasi satu sama lain, sehingga para ilmuwan di satu disiplin tidak lagi memiliki kapasitas berkomunikasi secara komprehensif dengan ilmuwan di disiplin lain.
Padahal, studi ekologi penyakit memerlukan metodologi yang tidak sebatas multidisipliner, tapi transdisciplinary. Mengapa demikian?
Karena munculnya wabah global secara intrinsik terikat pada komposit variabel yang sangat luas, mulai dari perilaku budaya, akselerasi teknologi, mobilitas transportasi global, hingga pilihan ekonomi-politik nasional yang kerap kali mengacuhkan paradigma human security demi mengejar akselerasi ekonomi kotor.
Dikala prioritas pembangunan tidak diarahkan secara serius untuk memberantas ketimpangan sosial dan mengukuhkan ketahanan kesehatan dasar, maka secara otomatis tubuh sosial kita menjadi sangat rentan terhadap ledakan biologis dari alam.
Di tengah situasi kerentanan yang ekstrem itu, saya baru tersadar bahwa, sebagian kalangan teknokrat dan futuris justru membiakkan sebuah ambisi hiperbolis yang dikenal sebagai gerakan Transhumanisme atau Pasca-Manusia (Post-Humanism).
Manusia, yang enggan menerima kekalahan dari jasad renik mikroskopis, memproyeksikan cita-cita teknologis untuk melampaui batas-batas biologisnya.
Lewat konvergensi rekayasa genetika, kecerdasan buatan (AI), nanoteknologi, dan kognitif sains, proyek transhumanisme ini bercita-cita mengintervensi proses penuaan, memperpanjang usia harapan hidup manusia hingga mencapai angka seribu tahun, atau bahkan merealisasikan imajinasi tentang keabadian fisik (physical immortality).
Namun, tatkala kita menganalisis proyek futuristik ini dengan kacamata kritis, kita dihadapkan pada sebuah realitas yang amat getir, siapakah yang pada akhirnya sanggup mengakses dan membayar teknologi perpanjangan umur yang sangat mahal tersebut?
Proyek transhumanisme dalam tatanan kapitalisme global tidak akan pernah membebaskan seluruh umat manusia. Sebaliknya, teknologi tersebut hanya akan menciptakan komodifikasi eksistensial yang melahirkan dikotomi kelas paling diskriminatif dalam sejarah.
Akan terjadi pembagian antara Kelas Manusia Biasa yang rentan dan fana, melawan Kelas Pasca-Manusia (Post-Human Class) yang kaya, teraugmentasi secara teknologis, dan punya akses terhadap kekebalan buatan.
Ini tentunya tidak menjadi solusi emansipatoris, tapi sebuah bentuk distopia biopolitik baru. Oleh sebab itu, saya ingin mengajak anda semua dan diri saya sendiri untuk mendaratkan harapan kita pada titik yang jauh lebih realistis.
Harapan tidak boleh digantungkan pada janji-janji utopis transhumanisme, tapi harus dijangkarkan pada rekonstruksi cara berpikir kita dalam memahami penyebab fundamental dari mengemukanya kerentanan manusia di tengah kemajuan sains saat ini.
Pandemi Covid-19 membawa saya cara baru untuk melihatnya sebagai teguran epistemologis yang keras. Ia menghentak kesadaran kita bukan semata-mata karena maut mendadak hadir begitu dekat, juga karena ia menelanjangi fakta bahwa pilihan sistemik kita selama ini telah mentransformasikan fenomena evolusi alami menjadi sebuah bencana global yang melumpuhkan kehidupan.
Lantas, apakah relasi manusia dengan alam telah berubah? Ya, relasi itu telah mengalami pergeseran yang mendasar. Akan tetapi, bagaimanakah kita mesti menyikapi dan mengarahkan perubahan tersebut?
Seluruh kontemolasi dan refleksi filosofis maupun teologis yang saya eksplanasikan di sini tidak boleh usai sebagai wacana metafisika yang mengawang-awang di dalam ruang steril akademis.
Seluruh abstraksi itu harus ditarik turun dan dijangkarkan pada kancah realitas konkret yang menyangkut kontinuitas hidup sehari-hari. Di sinilah saya merasa perlu untuk menegaskan secara radikal pentingnya menggeser orientasi pembangunan menuju konsepsi Human Security.
Ketahanan insani menuntut bahwa seluruh proses pembangunan nasional, formulasi kebijakan ekonomi-politik, serta reorientasi sistem pendidikan wajib secara jujur dan konsisten diarahkan demi keselamatan wujud manusia dan pemuliaan lingkungan hidupnya.
Mungkin pernyataan saya berikut ini akan memicu ketidaksukaan atau bahkan kemarahan dari berbagai kalangan penetap kebijakan konvensional.
Namun, saya harus menyatakannya secara terus terang, bahwa daripada peradaban kita terus-menerus dihabiskan oleh kehebohan retoris mengenai "ketahanan nasional" dan "ketahanan ideologi," yang belakangan ini semakin bising dan direproduksi secara obsesif dalam diskursus publik di Indonesia, kini sudah saatnya kita memindahkan fokus dan sumber daya negara untuk memperkuat riset-riset fundamental di bidang ilmu kesehatan masyarakat, virologi, imunologi, dan studi penyakit menular juga.
Urgensi pergeseran ini menjadi berlipat ganda mengingat posisi geografis dan ekologis kita. Indonesia terbentang di kawasan tropis, artinya bentangan alam yang secara ekologis merupakan laboratorium alamiah yang maha luas bagi eksistensi dan mutasi berbagai jasad renik serta agen penyakit menular.
Apabila kita tidak memiliki political will, kehendak sosial, dan kehendak budaya yang radikal untuk mengubah paradigma hidup kita dan memperbaiki sikap kita pada alam, maka kita sedang menyerahkan diri kita menjadi korban abadi dari sirkulasi patogen yang terus bermutasi.
Tanpa reposisi paradigma ini, spesies kita yang kian rentan ini akan semakin tidak memiliki daya tahan menghadapi gempuran evolusi alamiah.
Jika kita meneropong kembali gambaran evolusi kosmik dalam skala luas, kita disodorkan pada sebuah realitas bahwa alam semesta pada hakikatnya menunjukan wajah yang dingin, impersonal, dan sama sekali tidak peduli (indifferent) terhadap nasib manusia.
Alam tidak memiliki empati, ia beroperasi secara mekanis di luar kategori kebaikan maupun kejahatan. Akan tetapi, justru dari dalam alam semesta yang impersonal, nirsadar, dan penuh dengan kalkulasi acak (stochastic processes) inilah timbul sebuah teka-teki paling menakjubkan yang hingga kini terus membingungkan para filsuf dan ilmuwan.
Bagaimana mungkin sebuah alam semesta yang maha raksasa, yang buta, yang bergerak berdasarkan kebolehjadian matematis murni dan mutasi genetik yang acak, sanggup melahirkan "anak-anak kosmik," yakni wujud manusia, yang di satu sisi begitu rapuh dan takluk di bawah kemahakuasaan maut, namun di sisi lain dianugerahi penglihatan tajam, daya tilik filosofis, kedalaman refleksi, serta kepekaan estetis untuk menilai, mengkritik, dan mengagumi seluruh karya dari "Ibu Alam" yang tidak berpikir itu?.
Anak-anak manusia ini sudah berhasil mengembangkan akal budi yang memungkinkan mereka membebaskan diri dari determinisme fisik murni.
Sebagaimana yang pernah diartikulasikan oleh Bertrand Russell, selama api pikiran itu masih menyala di dalam kesadaran kita, manusia pada hakikatnya adalah entitas yang merdeka.
Melalui kemerdekaan berpikir itulah, manusia sanggup berdiri tegak menantang dan menggugat tirani maut, sebagaimana yang diproyeksikan secara elok dalam bait-bait sajak Sastrowardoyo.
Dengan kebebasan eksistensial itulah, kita memiliki kapasitas untuk memilih, detik-detik kosmik apakah yang akan kita isikan ke dalam sisa lembaran Kalender Kosmik kita selanjutnya?
Kita mesti jujur mengakui bahwa di hadapan kemahaluasan alam semesta, eksistensi biologis satu orang manusia secara objektif tidaklah lebih bermakna ketimbang eksistensi satu partikel virus yang waktu itu kita lawan.
Alam tidak pernah menangisi kejatuhan peradaban manusia, sebagaimana alam tidak pernah meratapi punahnya jutaan spesies serangga di masa purba.
Dari perspektif kosmik murni, alam semesta tidak menyediakan 'makna' bawaan, alam semesta hanya bergulir mengikuti irama fisiknya sendiri.
Kendati alam semesta itu bisu dan impersonal, manusia tidak pernah berhenti menjadi makhluk pencari makna. Sepanjang trajektori peradaban, manusia selalu berikhtiar menerobos keheningan kosmik, mengkontemplasikan, dan menafsirkan apakah ada 'Penabuh Irama' di balik simfoni alam ini.
Di bawah bayang-bayang maut yang melingkupi kita setiap saat, pikiran saya terbang melayang mengingati narasi-narasi primordial yang telah dirumuskan oleh para leluhur kita sejak zaman bahari.
Jauh sebelum sains modern lahir, para leluhur telah bergulat merenungkan enigma kehidupan yang berdiri di atas tumpukan kematian, mencari makna di balik fenomena maut yang begitu dekat dan begitu karib.
Para perumus mitos tradisional memandang jasad yang terbujur mati, berefleksi di atasnya, dan berikhtiar mentransformasikannya menjadi sesuatu yang berdaya guna bagi keberlanjutan hidup mereka yang masih bernapas.
Apakah dengan menyodorkan analogi mitologis ini saya sedang mempromosikan sebuah cara berpikir yang pragmatis secara dangkal? Moga-moga tidak demikian.
Maksud utama saya adalah mengajak anda, daripada kita terus-menerus tercekam dan terparalisis oleh temuan-temuan kosmologis yang menakutkan, daripada kita hanya terpukau oleh kehebatan teknologis sains namun sekaligus terpuruk dalam kecemasan duka yang senyap dan tak tertutur, marilah kita mulai bertanya pada diri kita sendiri.
Harapan realistis apakah yang masih masuk akal untuk kita wujudkan di atas tanah yang menyerap jasad-jasad terkasih di bawah kaki kita? Kita tentu punya kebebasan untuk berefleksi tentang maut dari puncak tertinggi panggung filsafat spekulatif.
Akan tetapi, di tengah kegentingan nyata antara hidup dan mati, di hadapan tantangan masa depan yang maha berat ini, segala teori yang berada di ketinggian langit metafisika harus dipaksa turun menjadi siasat-siasat konkret di atas bumi.
Saya menawarkan sebuah undangan terbuka bagi anda, silakan memilih dan merumuskan siasat-siasat kecil dalam kehidupan sehari-hari demi menerjemahkan harapan yang realistis itu menjadi kebaikan bersama.
Dengan demikian, kendati secara biologis tubuh kita amat rentan, kita tahu pasti bahwa lewat pilihan sikap hidup yang rasional, bijaksana, dan ditopang oleh kebenaran sains, kita masih mampu mewariskan gelanggang kehidupan yang lebih baik, bernapas, dan bermartabat bagi anak-anak kita, bagi cucu-cucu kita, bagi generasi muda yang akan datang, serta bagi planet bumi yang sedang kita ikhtiarkan perbaikannya ini.
