AI Cukup Menjadi Khadim, Bukan Kiai

Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fahmi Arif El Muniry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di pesantren, pagi kadang datang lebih cepat daripada kesadaran. Ayam belum selesai berkokok, santri sudah bergegas mengambil air wudu. Ada yang mengantuk, ada yang kehilangan sandal, ada pula yang masih berunding dengan bantal tentang arti bangun. Begitulah pendidikan dimulai, jauh sebelum bel berbunyi dan pelajaran dibuka.
Kini, zaman menawarkan jalan pintas yang menggiurkan. Kitab kuning bisa diterjemahkan mesin, pertanyaan nahwu dijawab sekejap, makalah selesai sebelum mi instan matang. Santri tak perlu lagi terlalu lama memandangi halaman yang sulit dipahami. Tetapi, jangan-jangan, ketika semua menjadi mudah, justru ada sesuatu yang pelan-pelan kehilangan makna dalam kehidupan nyantri.
Wishnutama Kusubandio, dalam Di Tengah Kekhawatiran tentang AI, Justru Ada Peluang Besar (Kumparan, 2026), mengajak kita melihat peluang di balik kecemasan terhadap kecerdasan buatan. Pesantren pun tak perlu menutup pintu. Teknologi bukan musuh yang harus diusir, melainkan tamu yang perlu dikenali, dipersilakan duduk, tetapi tidak otomatis diberi kunci rumah.
Sebab pesantren bukan semata-mata tempat orang mengumpulkan pengetahuan. Di sini, ilmu tumbuh bersama adab, kesabaran, dan kesediaan mengalahkan diri sendiri. Santri tidak hanya belajar membaca kitab, tetapi juga membaca keadaan, menahan keinginan, dan memahami orang lain. Semua itu tak selalu tercantum dalam silabus, apalagi tersedia dalam tombol unduh.
Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menulis tentang pentingnya adab dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim (Maktabah al-Turats al-Islami, 1415 H). Pesannya tetap terasa dekat. Ilmu bukan sekadar barang yang berpindah dari buku ke kepala, seperti beras masuk karung. Ada tanggung jawab, penghormatan, dan laku hidup yang membuat pengetahuan menemukan arah serta kemuliaannya.
Mesin bisa menulis tentang tawaduk dengan kalimat yang menggetarkan. Namun, ia tak pernah menundukkan kepala ketika ditegur guru. Ia dapat menyusun uraian tentang keikhlasan, tetapi tak pernah menyapu halaman tanpa berharap pujian. Santri belajar bukan hanya dari apa yang diucapkan kiai, melainkan juga dari apa yang diam-diam dikerjakannya setiap hari.
Di asrama, pelajaran sering datang tanpa pengumuman. Teman yang mendengkur menguji kesabaran, antrean kamar mandi mengajarkan toleransi, sedangkan piket yang ditinggalkan seseorang melahirkan musyawarah kecil yang kadang lebih panas daripada bahtsul masail. Tak ada kecerdasan buatan yang bisa menjalani semua itu menggantikan santri, meski mungkin sanggup membuat notulen rapatnya.
Yang Tak Bisa Di-AI-kan dari Pesantren
Martin Buber, melalui I and Thou (Charles Scribner’s Sons, 1937), mengingatkan pentingnya perjumpaan antarmanusia yang mengakui sesama sebagai pribadi. Dalam pesantren, perjumpaan itu hidup dalam hubungan guru dan murid, pengasuh dan santri. Ada teguran yang menyakitkan sesaat, tetapi menyelamatkan kemudian. Ada nasihat sederhana yang menetap bertahun-tahun dalam ingatan.
Begitu pula sanad. Ia bukan sekadar daftar nama yang disambung dengan garis-garis panjang, seolah silsilah keilmuan sedang membuat bagan organisasi. Sanad mengandung tanggung jawab atas ilmu yang diterima dan diteruskan. Mesin dapat menyebut nama ulama, bahkan keliru dengan percaya diri, tetapi tidak otomatis menjadi mata rantai pengajaran yang hidup.
Lantas, haruskah pesantren menjauhi kecerdasan buatan? Tidak perlu. Menolak teknologi sepenuhnya sama ganjilnya dengan melarang santri memakai kamus karena takut terlalu cepat memahami bahasa Arab. AI dapat membantu mencari rujukan, membandingkan penafsiran, dan memudahkan administrasi. Yang perlu dijaga ialah jangan sampai kemudahan itu membuat santri berhenti bersungguh-sungguh.
UNESCO, Guidance for Generative AI in Education and Research (UNESCO, 2023), menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia. Prinsip ini cocok dengan pesantren yang menempatkan manusia sebagai subjek pendidikan. Santri perlu belajar memeriksa sumber, menguji jawaban, menjaga privasi, dan mengakui penggunaan AI. Jangan sampai mesin berhalusinasi, manusia malah berbangga diri.
Yang lebih berbahaya bukan santri menggunakan AI, melainkan santri kehilangan keberanian untuk berpikir. Jawaban mesin sering tampil rapi, sopan, dan meyakinkan. Padahal, kesalahan pun bisa mengenakan jas yang bagus. Karena itu, tradisi bertanya, mengaji, menyimak, dan berdebat dengan adab harus tetap hidup, bukan sekadar menjadi ornamen dalam brosur pesantren modern.
Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed (Continuum, 1970), mengkritik pendidikan yang memperlakukan murid seperti wadah kosong. Kritik itu terasa relevan ketika jawaban tersedia dalam hitungan detik. Santri jangan menjadi tempat penampungan keluaran mesin. Ia harus belajar meragukan, memeriksa, menyanggah, dan menyimpulkan. Sebab berpikir bukan pekerjaan yang patut dialihdayakan sepenuhnya.
Ada pula tirakat, perkara yang sukar diterjemahkan menjadi angka kinerja. Santri menahan kantuk, mengatur keinginan, dan mengulang pelajaran meski belum juga paham. AI bisa membuat jadwal belajar paling efisien, tetapi tak dapat menjalani disiplin itu untuk manusia. Aplikasi mampu membunyikan alarm, tetapi tak bisa memaksa seseorang berdamai dengan kemalasannya sendiri.
Maka pesantren digital tidak harus menjadi pesantren yang paling banyak layarnya. Ia semestinya menjadi pesantren yang paling bijak menggunakan teknologi. Rumah Kitab dan perangkat digital lain dapat memperluas jalan menuju ilmu. Namun, sorogan, khidmah, musyawarah, bahtsul masa’il, dan kebersamaan bukan barang usang yang harus disingkirkan demi mengejar zaman yang berlari.
Pada akhirnya, AI mungkin bisa membuat seseorang mengetahui seluruh istilah pesantren tanpa pernah mencium aroma kitab tua, mendengar lantunan Jurumiyah, atau merasakan rindu rumah pada malam pertama.
AI boleh menjadi khadim yang cekatan, menyediakan jawaban, merapikan catatan, dan membukakan pintu menuju khazanah ilmu. Tetapi kiai bukan sekadar mesin penjawab dengan sorban. Ada keteladanan yang disaksikan, adab yang ditanamkan, dan tanggung jawab yang dipikul. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi pesantren jangan sampai kehilangan kebijaksanaan. AI cukup menjadi khadim, bukan kiai. Wallahul musta’an.
