Khitobah, Sekolah Public Speaking ala Pesantren

Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fahmi Arif El Muniry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada ironi kecil dalam dunia pendidikan kita. Keterampilan berbicara di depan umum kini dipromosikan melalui seminar, pelatihan, dan sertifikat berbingkai mewah. Padahal, jauh sebelum istilah public speaking populer, pesantren telah menyediakan panggung sederhana bagi santri untuk melawan gugup, menyusun pikiran, dan membangun keberanian melalui latihan rutin.
Namanya khitobah. Santri bergiliran naik mimbar, menyampaikan ceramah, mengutip dalil, kadang terbata-bata, kadang terlalu bersemangat. Tidak ada tombol undo ketika lupa kalimat, juga tidak tersedia kecerdasan buatan untuk menyelamatkan pidato yang tersendat. Yang ada hanyalah latihan, koreksi, dan kesempatan mencoba kembali di hadapan teman-temannya sendiri.
Secara bahasa, khitobah berkaitan dengan kata Arab khaṭābah, yakni seni berbicara di hadapan khalayak untuk menyampaikan gagasan, nasihat, ajakan, atau pesan tertentu. Di pesantren, istilah itu menjelma menjadi praktik pendidikan. Santri bukan hanya mempelajari isi ceramah, tetapi juga belajar menyampaikan ilmu dengan suara, sikap, dan tanggung jawab.
Mimbar Kecil, Keberanian Besar
Aristoteles dalam Rhetoric (Penguin Classics, 2004), membahas seni persuasi melalui gagasan, karakter pembicara, dan emosi pendengar. Khitobah menuntut perpaduan serupa, meski santri tidak selalu mengenalnya sebagai teori retorika. Mereka mempelajarinya melalui praktik, pengulangan, pengamatan, dan nasihat pembimbing. Mimbar kecil menjadi ruang belajar yang nyata.
Santri menyiapkan teks, menghafal pembukaan, menyusun dalil, lalu berdiri di hadapan jemaah kecil. Ada yang suaranya bergetar, ada yang lupa kalimat, ada pula yang terlalu bersemangat hingga napasnya tertinggal. Semua itu bagian dari pelajaran. Keberanian tidak turun dari langit; ia tumbuh lewat latihan dan kesempatan berulang.
Ada ujian lain yang tidak tertulis dalam buku panduan khitobah, yakni kejahilan kawan-kawan sendiri. Santri yang sedang berpidato kadang dikerjai, ditertawakan, digoda, atau dipancing kehilangan konsentrasi. Mimbar latihan pun berubah menjadi arena uji mental. Di situ santri belajar mengendalikan emosi, menjaga fokus, dan meneruskan kalimat meski suasana tidak selalu bersahabat.
Tentu, kejahilan hanya mendidik jika tetap dalam batas kewajaran dan tidak berubah menjadi perundungan. Tujuannya bukan meruntuhkan kepercayaan diri, melainkan melatih santri menghadapi tekanan. Audiens pesantren kadang lebih sulit daripada jemaah sungguhan, sebab mereka mengenal kelemahan kawannya. Mimbar kecil itu menjadi laboratorium mental tempat keberanian diuji bersama kemampuan mengendalikan diri.
Latihan itu bahkan berlanjut ke khotbah Jumat. Santri belajar menyusun materi, memenuhi rukun khotbah, membaca ayat Al-Qur’an, mengatur suara, dan berdiri di mimbar. Sebelum terjun ke masyarakat, mereka dipersiapkan agar kelak tidak hanya mampu membaca kitab, tetapi juga siap menyampaikan ilmu di hadapan jemaah secara tertib dan bertanggung jawab.
Joseph Berg Esenwein dan Dale Carnegie dalam The Art of Public Speaking (Home Correspondence School, 1915), menempatkan latihan sebagai bekal kecakapan berbicara. Pesantren telah menjalankan prinsip serupa sebelum istilah itu populer. Santri tidak menunggu percaya diri datang; mereka mencoba, keliru, memperbaiki diri, lalu naik mimbar lagi hingga keberanian menjadi keterampilan.
Dari Mimbar Pesantren Menuju Panggung Publik
Namun, khitobah bukan lomba mencari suara paling lantang atau pembicara paling lucu. Jika ukurannya hanya tepuk tangan, santri bisa mengejar hiburan ketimbang kebenaran. Mimbar seharusnya melatih kejernihan pikiran, ketepatan dalil, kesantunan bahasa, dan tanggung jawab atas pesan. Berbicara bukan sekadar tampil, melainkan amanah kepada pendengar.
Abd al-Fattah Abu Ghuddah dalam al-Rasul al-Mu’allim wa Asalibuhu fi al-Ta’lim (Maktab al-Matbu’at al-Islamiyyah, 1996), mengulas metode pendidikan Nabi. Pesan perlu disampaikan dengan cara yang membantu orang memahami. Santri perlu membaca kebutuhan audiens, mendengar persoalan masyarakat, dan menyampaikan ajaran dengan bahasa yang mencerahkan, bukan menghakimi.
Tradisi ini masih hidup di berbagai pesantren. Khitobah bukan sekadar kegiatan pengisi jadwal malam. Ia merupakan pintu masuk kaderisasi dai. Santri berlatih menyusun materi dakwah, memahami audiens, menyampaikan ajaran dengan santun, hingga mempersiapkan diri menjadi khatib Jumat. Dari mimbar latihan, mereka belajar bahwa ilmu agama perlu disampaikan, bukan hanya disimpan dalam lemari kitab.
Di era digital, tradisi ini justru bisa diperluas. Santri dapat merekam ceramah, mengevaluasi artikulasi, membuat video dakwah, mengelola podcast, dan berdialog dengan audiens daring. Namun, teknologi hanyalah sarana. Kamera bisa memperjelas gambar, mikrofon memperkeras suara, dan algoritma memperluas jangkauan, tetapi semuanya tidak otomatis memperdalam ilmu atau memperhalus akhlak pembicaranya.
Abdurrahman Wahid dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita (The Wahid Institute, 2006), menghadirkan pemikiran tentang keberagamaan dalam kehidupan masyarakat. Semangat itu relevan bagi kaderisasi dai. Santri perlu belajar memahami persoalan umat, bukan sekadar mengulang ceramah. Dakwah yang bermakna menuntut ilmu, kepekaan sosial, keteladanan, dan kesediaan mendengar sebelum berbicara.
Pemerintah semestinya melihat khitobah lebih dari sekadar rutinitas pesantren. Di sana, kaderisasi dai sesungguhnya telah dimulai, jauh sebelum seorang santri dipercaya berdiri di mimbar Jumat atau berceramah di tengah masyarakat. Tradisi ini layak diperkuat melalui buku panduan, perpustakaan digital, pelatihan pembimbing, serta sarana rekaman dan produksi dakwah.
Jangan sampai pesantren tekun menyiapkan calon dai, sementara dukungan negara justru tertinggal di belakang. Setiap santri yang berlatih di mimbar kecil hari ini mungkin kelak menjadi penunjuk arah bagi masyarakatnya. Dari mimbar sederhana itulah suara dakwah tumbuh, keberanian ditempa, dan pengabdian disemai. Merawat khitobah berarti menyiapkan masa depan dakwah, agar pesantren tidak hanya mewariskan ilmu, tetapi juga melahirkan dai yang mampu berbicara dengan kejernihan pikiran, keluhuran akhlak, dan kepekaan terhadap zaman.
