Konten dari Pengguna

Reimajinasi Pesantren Masa Depan

Fahmi Arif El Muniry

Fahmi Arif El Muniry

Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Arif El Muniry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Santri Pesantren Minhajurrosyidin Jakarta Timur sedang Mengerjakan Soal Imtihan Wathani. (Foto: Fahmi Arif)
zoom-in-whitePerbesar
Santri Pesantren Minhajurrosyidin Jakarta Timur sedang Mengerjakan Soal Imtihan Wathani. (Foto: Fahmi Arif)

Pesantren, besok, tidak cukup dibayangkan sebagai lembaga pendidikan dengan internet cepat, aplikasi pembelajaran, dan gedung megah. Masa depannya menyangkut pertanyaan lebih mendasar, yakni manusia seperti apa yang hendak dilahirkan. Sebab kemajuan teknologi, kekayaan, dan pengetahuan tidak otomatis membuat manusia lebih bijaksana, jujur, serta bertanggung jawab dalam kehidupan bersama secara bersama.

Selama ini, pembicaraan tentang masa depan pesantren banyak berkisar pada digitalisasi, kemandirian ekonomi, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kompetensi santri. Semua penting, tetapi belum cukup. Pesantren juga perlu menjawab persoalan keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan hilangnya kepedulian terhadap sesama manusia di tengah perubahan zaman dalam kehidupan masyarakat luas.

Pendidikan bukan hanya membuat orang mengetahui lebih banyak, tetapi juga membantu mereka menggunakan pengetahuan dengan benar. Santri boleh menjadi pengusaha, pejabat, ilmuwan, atau ahli teknologi. Namun keberhasilan kehilangan makna apabila tidak disertai kejujuran, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap masyarakat. Di sinilah masa depan pesantren perlu dirumuskan kembali secara lebih mendasar.

Melampaui Perlombaan Kemajuan

Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din (Dar al-Minhaj, 2011), membahas pentingnya memperbaiki jiwa dalam kehidupan beragama. Gagasan ini relevan bagi pesantren yang tidak ingin terjebak pada ukuran keberhasilan berupa gelar, prestasi, dan popularitas. Ilmu seharusnya memperbaiki perilaku, menata niat, dan mencegah manusia menggunakan kepandaian untuk membenarkan kepentingan pribadi secara nyata.

Kita sering menjumpai orang yang fasih berbicara tentang kejujuran, tetapi mudah berbohong ketika kepentingannya terganggu. Ada pula yang mengajarkan kesederhanaan, tetapi sibuk mengejar pengakuan. Pesantren tidak kebal terhadap keadaan semacam ini. Karena itu, pendidikan akhlak tidak cukup melalui ceramah dan hafalan, tetapi harus diwujudkan dalam kebiasaan serta keteladanan sehari-hari bersama.

Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred (Crossroad, 1981), membahas hubungan pengetahuan dengan dimensi sakral kehidupan. Pemikiran ini mengingatkan bahwa ilmu tidak seharusnya hanya menjadi alat menguasai dunia. Pengetahuan juga harus membantu manusia memahami tanggung jawabnya, menghormati kehidupan, dan menyadari bahwa kemampuan tidak memberikan hak untuk bertindak sewenang-wenang secara sadar.

Dalam bidang ekonomi, pesantren perlu bergerak melampaui ukuran omzet dan jumlah unit usaha. Kemandirian finansial memang penting, tetapi keuntungan bukan satu-satunya tujuan. Usaha pesantren semestinya menciptakan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjaga lingkungan. Jika keuntungan bertambah sementara pekerja dirugikan dan alam dirusak, keberhasilan ekonomi itu patut dipertanyakan kembali secara berkelanjutan.

William James, The Varieties of Religious Experience (Longmans, Green, 1902), mengkaji pengalaman keagamaan dalam kehidupan manusia. Bagi pesantren, keberagamaan perlu terlihat dalam tindakan nyata. Kesalehan bukan hanya urusan ibadah pribadi, melainkan juga cara memperlakukan tetangga, pekerja, orang yang berbeda pendapat, dan mereka yang tidak mempunyai kekuatan untuk membalas perlakuan buruk.

Pesantren juga harus menyiapkan santri memasuki ruang kekuasaan tanpa kehilangan integritas. Menjadi pejabat, pengusaha, atau pemimpin masyarakat bukan akhir pendidikan. Justru ketika memiliki kekuasaan dan kekayaan, seseorang menghadapi ujian lebih besar. Santri perlu belajar bahwa jabatan adalah amanah, kekayaan adalah tanggung jawab, dan kepemimpinan berarti melayani, bukan meminta dilayani sehari-hari.

Dari Pembentukan Diri Menuju Kemaslahatan

Al-Harith al-Muhasibi, Al-Ri’aya li Huquq Allah (Dar al-Kutub al-Ilmiyya, 2000), menekankan pentingnya mengawasi diri dan mengoreksi perilaku. Prinsip ini perlu diterapkan dalam kehidupan kelembagaan pesantren. Menghormati kiai tidak berarti membenarkan semua tindakan. Menjaga tradisi bukan berarti menolak evaluasi. Pesantren kuat harus berani memperbaiki kekurangan tanpa kehilangan identitasnya dalam praktik sehari-hari.

Kehidupan bersama di pesantren memberikan ruang pendidikan yang luas. Santri belajar berbagi, mengantre, bekerja sama, menghadapi perbedaan, dan menyelesaikan persoalan. Pengalaman itu membentuk kedewasaan apabila dijalankan dengan keteladanan serta penghormatan terhadap martabat manusia. Disiplin tidak boleh menjadi alasan melakukan kekerasan, sebagaimana kepatuhan tidak boleh menghapus hak santri memperoleh perlindungan bersama.

Persoalan lingkungan juga harus menjadi bagian agenda pesantren. Menjaga bumi bukan sekadar menanam pohon ketika ada peringatan tertentu. Pesantren dapat mengembangkan pengelolaan sampah, penghematan air, pertanian berkelanjutan, dan usaha ramah lingkungan. Nilai keagamaan memperoleh makna nyata ketika memengaruhi cara manusia menggunakan sumber daya serta memperlakukan alam bagi kehidupan generasi mendatang.

Abdullah ibn Mubarak, Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq (Dar al-Kutub al-Ilmiyya, 1999), menghimpun riwayat tentang kezuhudan dan kelembutan hati. Pesan ini dapat diterapkan dalam kehidupan ekonomi. Hidup sederhana bukan berarti menolak kekayaan, tetapi tidak menjadikan harta sebagai ukuran harga diri. Kekayaan seharusnya memperluas manfaat, bukan sekadar menambah kepemilikan pribadi secara adil.

Masa depan pesantren bukan menjadi sekolah yang sekadar lebih canggih atau perusahaan yang kebetulan memiliki masjid. Pesantren perlu mengembangkan pendidikan, ekonomi, kebudayaan, kepemimpinan, dan kepedulian lingkungan dengan orientasi jelas. Kemajuan harus menghasilkan manusia yang lebih bertanggung jawab, bukan hanya kompetitif. Kemandirian harus memperkuat masyarakat, bukan sekadar membesarkan lembaga sendiri bersama. Wallahul musta'an.