Konten dari Pengguna

Sambangan di Pesantren: Merawat Rindu, Belajar Merelakan

Fahmi Arif El Muniry

Fahmi Arif El Muniry

Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Arif El Muniry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Ilustrasi sambangan di sebuah pesantren. Sumber: ChatGPT 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Ilustrasi sambangan di sebuah pesantren. Sumber: ChatGPT 2026.

Bagi seorang santri, ada hari ketika pesantren terasa begitu luas, tetapi hatinya justru terasa sempit. Kitab terbuka, hafalan berulang, dan suara pengajian terdengar dari serambi. Namun, pikirannya sesekali pulang, menuju aroma masakan ibu, suara ayah, dan rumah tempat dahulu ia merebahkan lelah tanpa beban. Ia belajar membaca kitab dan menata perilaku, tetapi juga belajar menyembunyikan rindu.

Ketika jadwal sambangan tiba, gerbang pesantren seperti memiliki daya tarik berbeda. Santri merapikan sarung, membasahi rambut, lalu berkali-kali menoleh ke jalan. Ada yang duduk dekat gerbang, berpura-pura sibuk, padahal matanya mencari kendaraan yang dikenalnya. Rindu ternyata mempunyai daya disiplin tersendiri. Bahkan, santri yang kerap kalah oleh rasa malas bisa datang paling awal demi menyambut ibunya.

Ketika Gerbang Menjadi Panggung Kerinduan

Orang tua datang membawa kecemasan, sedangkan anak menyimpan cerita yang tak seluruhnya sanggup diucapkan. Sebungkus nasi, sekotak kue, dan pertanyaan sederhana tentang kabar rumah menjadi bahasa kasih yang tak membutuhkan penerjemah.

Di tikar kunjungan, pertanyaan ibu hampir selalu serupa. Sudah makan? Sehat? Uangnya cukup? Pertanyaan itu terdengar seperti pemeriksaan administrasi, tetapi sesungguhnya merupakan bahasa kasih. Ayah biasanya lebih hemat bicara. Ia bertanya tentang pelajaran, menasihati agar rajin mengaji, lalu terdiam. Di balik diamnya, tersimpan kecemasan seorang lelaki yang sedang belajar mempercayakan masa depan anaknya kepada pesantren.

John Bowlby, dalam Attachment and Loss (Basic Books, 1969), menjelaskan pentingnya ikatan emosional dalam membangun rasa aman. Sambangan merawat ikatan itu tanpa harus menghambat kemandirian. Sebab, mandiri bukan berarti memutus kasih sayang, sebagaimana mencintai bukan berarti terus menggenggam. Santri membutuhkan ruang untuk tumbuh, sekaligus keyakinan bahwa selalu ada rumah tempatnya pulang.

Namun, sambangan kadang menyimpan ironi. Ada santri membawa sekantong makanan, ada yang menerima uang saku berlimpah, sementara yang lain hanya memperoleh bekal sederhana. Mata seorang anak sesekali membandingkan miliknya dengan milik teman. Pesantren mengajarkan qanaah, tetapi hati manusia tidak selalu segera patuh. Bahkan di tempat orang belajar menundukkan dunia, godaan membandingkan isi kantong tetap menyelinap.

Karena itu, sambangan jangan berubah menjadi etalase kemampuan ekonomi keluarga. Bekal sederhana bukan tanda kurangnya cinta, sebagaimana bawaan berlimpah bukan ukuran keberhasilan pengasuhan. Ada orang tua yang datang dengan berbagai hidangan, ada pula yang menempuh perjalanan jauh hanya membawa makanan seadanya. Keduanya sama-sama membawa pengorbanan yang tidak selalu dapat dibaca dari isi tas.

Dari Kunjungan Menuju Pendidikan Cinta

Ibn Sahnun, dalam Adab al-Mu’allimin (Dar al-Kutub al-Sharqiya, 1972), membahas tanggung jawab pendidikan dan hubungan guru dengan murid. Gagasan itu mengingatkan bahwa mendidik anak bukan urusan pesantren sendirian. Kiai, nyai, dan orang tua memikul amanah bersama. Sambangan menjadi ruang untuk merawat komunikasi, memperkuat kepercayaan, dan memastikan anak tidak berjalan sendirian.

Pertemuan itu semestinya tidak berhenti pada penyerahan makanan, uang saku, lalu berfoto untuk media sosial. Bruno Bettelheim, dalam A Good Enough Parent (Knopf, 1987), membahas pengasuhan yang memahami kebutuhan anak. Orang tua dapat mendengarkan cerita tentang pelajaran, pertemanan, dan kesulitan. Kadang, yang paling dibutuhkan santri bukan nasihat panjang, melainkan kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi.

Bagian paling getir datang ketika waktu sambangan habis. Ibu membereskan wadah makanan, ayah melirik jam, dan anak mendadak teringat cerita yang belum sempat disampaikan. Ia ingin ikut pulang, tetapi tahu harus tinggal. Ketika ditanya apakah betah, ia menjawab, “Betah, Bu.” Padahal, mungkin ada malam ketika air mata jatuh tanpa seorang pun tahu.

Ia tidak ingin membuat ibunya cemas atau menjadikan pengorbanan ayahnya terasa sia-sia. Maka, keluh disimpan dalam dada, seolah-olah menjadi santri berarti tak boleh rapuh. Padahal, keberanian bukan berarti menahan air mata. Kadang, keberanian justru tumbuh ketika seseorang mengakui bahwa dirinya lelah, merindukan rumah, dan masih membutuhkan pelukan orang tuanya.

Al-Ghazali, dalam Ayyuha al-Walad (Dar al-Minhaj, 2013), mengingatkan pentingnya ilmu yang berbuah amal. Sambangan pun semestinya meneguhkan tujuan pendidikan, yakni membentuk manusia berilmu, beradab, dan bertanggung jawab. Orang tua datang bukan untuk membatalkan proses pendewasaan, melainkan menguatkan langkah anak agar sanggup meneruskan perjuangan dengan hati yang lebih teguh.

Pada akhirnya, sambangan adalah pertemuan antara cinta dan keikhlasan. Orang tua belajar melepaskan tanpa berhenti menyayangi, sedangkan santri belajar berjauhan tanpa merasa ditinggalkan. Kelak, ketika santri itu menjadi orang tua dan berdiri kembali di gerbang pesantren, ia akan memahami bahwa sambangan bukan hanya tentang anak yang merindukan rumah, tetapi juga orang tua yang belajar merelakan.

Sebab, tujuan pesantren bukan membuat anak lupa jalan pulang. Pesantren mendidiknya agar kelak pulang membawa ilmu yang menerangi, akhlak yang meneduhkan, dan hati yang lapang. Setelah sambangan usai, ia kembali membuka kitab. Rindu masih tinggal di dada, tetapi perlahan berubah menjadi doa dan keteguhan. Gerbang tertutup, kasih sayang tetap menemukan jalannya.