Konten dari Pengguna

Antara Aksara, Angka, dan TKA

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elva Maulidia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(sumber : dokumentasi TKA 2026 SDN Tunggakjati V)
zoom-in-whitePerbesar
(sumber : dokumentasi TKA 2026 SDN Tunggakjati V)

Bagaimana mungkin tes yang mengusung Semboyan “TKA jujur dan Menyenangkan” dan tidak menentukan kelulusan murid justru membuat kepala sekolah dan guru berdebar menunggu hasilnya?

Paradoks itu muncul ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) diumumkan secara nasional pada Mei 2026. Bagi sebagian orang tua, TKA mungkin dianggap tidak terlalu penting karena bukan syarat kelulusan. Namun, bagi sekolah, hasilnya dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk memahami capaian akademik murid dan mengevaluasi pembelajaran. Nilai bukan sekadar angka, melainkan informasi yang perlu dibaca dan ditindaklanjuti.

Pelaksanaan perdana TKA tahun ini membuktikan bahwa evaluasi terstandar nasional tidak harus berwajah menakutkan. Pengerjaan dilakukan secara online, kehadiran pengawas ruang hanya sebatas membersamai mereka mengerjakan secara mandiri, dengan laptop yang terhubung secara langsung melalui zoom meeting dan seorang proktor yakni operator sekolah bertugas memastikan jaringan stabil dan tidak ada hambatan teknis.

Pendekatan ini berhasil menghilangkan stigma ujian mencekam bahkan menciptakan atmosfer ujian ramah anak, ramah psikologis, namun tetap memegang teguh integritas, tidak ada kepanikan massal, tidak ada bocoran soal dan hasil yang keluar dari portal pengumuman adalah nilai ujian murni murid. Inilah sebuah potret jujur tanpa rekayasa atau manipulasi angka.

Suasana yang kondusif tersebut penting agar murid dapat mengerjakan soal secara mandiri dan hasilnya lebih mencerminkan kemampuan yang hendak diukur.

Jeritan Suara Hati dari Rapat Orang tua

Meskipun pelaksanaan teknis berjalan mulus, kepolosan dan kecemasan di tingkat akar rumput tetap menyisakan cerita otentik. suasana rapat sosialisasi TKA di SDN Tunggakjati V menggambarkan hal tersebut dengan gambling. Seorang ibu mengacungkan tangan dengan raut cemas dan berbisik polos: “Duh saya gaptek bu, gimana mau ngajarin anak ujian komputer, mana ga punya hp juga…tapi kalau nilai TKA anak saya kecil tetap bisa melanjutkan ke SMP kan Bu ?”

Pertanyaan itu mencerminkan dua kekhawatiran sekaligus: keterbatasan akses terhadap perangkat digital dan ketakutan terhadap dampak nilai TKA bagi masa depan anak.

Setelah mendapat penjelasan bahwa pelaksanaan dibantu proktor sekolah dan nilai TKA bukan penentu kelulusan, orang tua merasa lebih tenang. Namun, ada hal lain yang perlu diperhatikan: jangan sampai anggapan bahwa TKA tidak menentukan kelulusan membuat murid mengerjakan soal tanpa kesungguhan. Hasil tes tetap perlu mencerminkan kemampuan mereka sebaik mungkin.

Miskonsepsi Pembelajaran dan Kerangka Resmi BSKAP

Secara regulasi, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen merancang TKA sebagai instrumen pelaporan capaian akademik individu yang objektif untuk mendukung pembelajaran mendalam dan pemetaan mutu pendidikan. Muatan TKA Sekolah Dasar (SD) yang diatur dalam Peraturan kepala BSKAP nomor 47 Tahun 2025 serta Kemendikdasmen Nomor 56 Tahun 2026 menguji kompetensi yang sangat mendalam.

Pada Domain Bahasa Indonesia, murid diuji pemahaman inferensial dan evaluasi teks. Sedangkan pada domain Matematika, cakupan pengujian meliputi: bilangan, geometri, hingga data lewat koneksi matematika dan penalaran tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Riset yang dilakukan oleh Perdana and Suswandari tahun 2021 yang berjudul: Literasi Numerasi Dalam Pembelajaran Tematik Siswa Kelas Atas Sekolah Dasar, menunjukkan bahwa kendala utama di lapangan penyebab rendahnya nilai Matematika terjadi karena guru memberikan soal-soal yang tertutup dan mengandalkan hafalan rumus. Padahal hakikat literasi numerasi adalah kemampuan bernalar dalam kehidupan nyata.

Literasi membaca tidak berhenti pada kemampuan menemukan informasi tersurat. Murid juga perlu menyimpulkan maksud penulis dan menilai informasi berdasarkan isi teks. Dalam matematika, numerasi bukan sekadar menghafal rumus, melainkan menggunakan angka untuk memahami situasi nyata. Misalnya, murid tidak hanya diminta menghitung jumlah barang, tetapi juga menentukan pilihan yang paling masuk akal berdasarkan harga dan jumlah yang tersedia. Soal kontekstual seperti ini menuntut pemahaman sekaligus penalaran.

Risiko Bias Data pada Rapor Pendidikan

Di sini letak pentingnya menyikapi nilai murni TKA. sebagaimana ditegaskan dalam artikel yang ditulis oleh Sukamto dan rekannya yang berjudul: Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai Inovasi Evaluasi Pendidikan: Sebuah Tinjauan Naratif, TKA adalah inovasi evaluasi terstandar yang menjadi Kompas pemetaan mutu.

Ketika murid mengerjakan soal – soal TKA penalaran kompleks, secara asal – asalan hanya karena merasa nilai TKA nanti tidak menentukan kelulusan, penalaran anak yang sebenarnya tidak terukur dengan jujur atau berisiko tidak menggambarkan kemampuan mereka secara akurat.

Dampaknya, data yang masuk Rapor Pendidikan Sekolah menjadi bias. Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas bina dapat keliru membaca kebutuhan belajar murid jika terlalu bergantung pada angka tanpa mempertimbangkan konteks dan informasi lain. Dalam Skala yang lebih luas, sikap apatis ini menghambat terwujudnya visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua” yang dicanangkan Kemendikdasmen di bawah program “ASTA CITA”, sebab perbaikan mutu butuh pijakan data yang valid dan jujur.

Oleh karena itu, hasil TKA perlu ditafsirkan secara cermat dan digunakan bersama sumber informasi pembelajaran lainnya. Angka yang baik bukan sekadar angka tinggi, melainkan data yang dapat membantu sekolah mengenali hal yang sudah dikuasai murid dan kemampuan yang masih perlu diperkuat.

Sinergi Nyata Ekosistem Sekolah

Perbaikan pembelajaran membutuhkan kerja sama. Guru dapat memperbanyak latihan yang mengajak murid memahami bacaan dan bernalar, bukan sekadar menghafal jawaban. Sekolah dan pengawas perlu membantu orang tua memahami tujuan TKA tanpa menimbulkan ketakutan berlebihan. Di rumah, orang tua dapat mendampingi anak membaca, berdiskusi, dan memecahkan persoalan sederhana sesuai usia mereka.

Kerja sama tersebut juga perlu berangkat dari pemahaman yang sama terhadap hasil TKA. Ketika kemampuan murid dalam memahami bacaan atau menyelesaikan persoalan matematika masih perlu diperkuat, sekolah perlu menjadikan temuan itu sebagai bahan refleksi pembelajaran.

Guru dapat meninjau kembali strategi mengajarnya, sementara orang tua memberi ruang bagi anak untuk berlatih di rumah melalui kegiatan sederhana, seperti membaca dan mendiskusikan isi bacaan atau membandingkan harga barang saat berbelanja. Dengan demikian, hasil tes tidak berhenti sebagai angka, tetapi menjadi petunjuk untuk menentukan langkah perbaikan.

Kompas Mutu Masa depan

Pada akhirnya, nilai murni TKA yang diumumkan bulan Mei 2026, bukan vonis atas kemampuan seorang anak, melainkan kompas yang membantu sekolah dalam memahami kebutuhan belajar murid dan menunjukkan ke arah mana mutu pembelajaran harus dibenahi bersama.

Ketika hasil tes dibaca dengan cermat, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih tepat. Literasi membantu murid memahami informasi, sedangkan numerasi melatih mereka menggunakan angka untuk bernalar. Keduanya perlu dikembangkan bukan hanya untuk menghadapi tes, tetapi juga untuk membantu anak berpikir dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui semangat pengerjaan yang jujur dan menyenangkan, nilai TKA bukan lagi sekadar deretan angka mati di atas kertas, melainkan cermin kedalaman berpikir generasi penerus bangsa. Mari bersinergi menjadikan evaluasi akademik sebagai pijakan nyata dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, inklusif dan relevan.