Konten dari Pengguna

Gabungan Afrika-BRICS: Menantang Hegemoni Barat lewat Investasi dan Ekspor

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elvita Khairani Siagian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gabungan Afrika dengan BRICS melalui keanggotaan negara-negara seperti Ethiopia, Mesir, dan potensi lainnya sebagai bagian dari ekspansi blok tersebut menjadi titik balik penting dalam lanskap ekonomi global, di mana benua yang sering dipandang sebagai sumber komoditas mentah kini bergerak menuju posisi sebagai mitra dagang strategis dalam aliansi Selatan-Selatan yang dipimpin China, Rusia, India, serta negara anggota lainnya, dengan kekuatan kolektif yang mencakup lebih dari 40% populasi dunia, seperempat GDP global, dan pengaruh besar di pasar energi serta mineral kritis. Langkah ini secara langsung menggoyang dominasi Barat melalui akses pasar baru, investasi infrastruktur tanpa syarat politik ketat, dan peningkatan ekspor yang memberikan alternatif dari ketergantungan pada IMF dan World Bank serta sistem perdagangan berbasis dolar AS. essay ini menguraikan secara rinci latar belakang ekspansi tersebut, peluang investasi masif, dorongan ekspor dan perdagangan, tantangan yang menyertainya, serta implikasi jangka panjangnya.

Pendahuluan

sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Shutterstock

BRICS+ berkembang pesat sejak pembentukannya sebagai kelompok Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, dengan ekspansi baru-baru ini yang menyertakan negara Afrika untuk memperluas jangkauan ke sumber daya alam dan pasar konsumen raksasa, menciptakan blok yang mewakili 35% perdagangan dunia dan potensi de-dolarisasi melalui mekanisme pembayaran lokal serta New Development Bank (NDB) yang menyalurkan triliunan dolar untuk proyek-proyek strategis. Bagi Afrika, yang telah lama bergulat dengan defisit infrastruktur dan perdagangan intra-benua yang rendah di bawah 20%, integrasi ini selaras dengan African Continental Free Trade Area (AfCFTA) yang bertujuan membangun zona perdagangan bebas terbesar di dunia, memungkinkan negara-negara seperti Ethiopia memanfaatkan posisi sebagai hub logistik Timur Afrika sementara Mesir memperkuat peran Terusan Suez sebagai pintu gerbang perdagangan Timur-Barat. Ekspansi ini didorong oleh kebutuhan bersama. BRICS membutuhkan mineral transisi energi seperti kobalt dan litium dari Afrika untuk industri hijau, sementara benua tersebut haus akan modal untuk industrialisasi, menciptakan simbiosis yang menggeser pusat gravitasi ekonomi dari Atlantik ke Indo-Pasifik.

Peluang Investasi Dari BRICS+

Sumber: Shutterstock

Investasi dari BRICS+ ke Afrika tertumpu pada transformasi infrastruktur dasar yang selama ini menjadi penghambat pertumbuhan, seperti pembangunan pelabuhan modern, jaringan kereta api lintas-benua, dan pembangkit listrik skala besar, dengan China memimpin melalui inisiatif Belt and Road yang telah menuangkan miliaran dolar untuk proyek seperti jalan tol Nairobi-Mombasa di Kenya atau bendungan hidroelektrik di Ethiopia, sementara Rusia berkontribusi dengan teknologi pertanian dan energi nuklir murah, serta India melalui kemitraan farmasi dan digital yang menciptakan ekosistem startup di Nigeria dan Afrika Selatan. Aliran foreign direct investment ini, yang mencapai puluhan miliar dolar tahunan, tidak hanya menutup kesenjangan infrastruktur senilai US$100 miliar per tahun tapi juga menghasilkan efek multiplier seperti jutaan lapangan kerja baru di sektor konstruksi dan logistik, meningkatkan daya saing manufaktur Afrika yang selama ini terpuruk akibat biaya transportasi tinggi. Pendekatan BRICS yang pragmatis berfokus pada hasil ekonomi daripada kondisionalitas politik yang memberi Afrika ruang bernapas untuk mengembangkan kapasitas domestik tanpa tekanan reformasi eksternal, meskipun ini menuntut tata kelola yang lebih baik untuk memaksimalkan manfaat jangka panjang.

Peningkatan Ekspor dan Perdagangan

Sumber: Shutterstock

Integrasi Afrika ke BRICS+ merevolusi pola ekspor dengan membuka pasar premium untuk komoditas unggulan seperti minyak Nigeria, emas Ghana, kobalt Republik Demokratik Kongo, dan hasil pertanian Ethiopia, yang kini bisa dijual langsung ke China dan India tanpa perantara Barat, mengurangi ketergantungan pada pasar Eropa yang menurun dan meningkatkan pendapatan ekspor hingga 20-30% melalui kesepakatan tarif preferensial serta pengurangan biaya transaksi via mata uang non-dolar. Perdagangan intra-BRICS tumbuh eksponensial, dengan Afrika berperan sebagai pemasok bahan baku untuk rantai pasok global seperti baterai kendaraan listrik dan panel surya, sementara sinergi dengan AfCFTA mendorong pengolahan lokal untuk naik ke nilai tambah lebih tinggi. Misalnya bijih menjadi baterai atau kakao menjadi produk akhir. Sehingga benua ini beralih dari eksportir primer menjadi pemain rantai nilai. Contoh sukses termasuk Mesir yang memanfaatkan lokasi strategisnya untuk menjadi pusat logistik BRICS, dan Afrika Selatan sebagai founding member yang memfasilitasi aliran barang senilai miliaran dolar, menciptakan efek domino pertumbuhan GDP regional yang diproyeksikan mencapai 4-6% dalam beberapa tahun ke depan.

Tantangan dan Resiko Hegemoni Baru

Di balik peluang gemilang, Kerja sama ini menyimpan jebakan seperti ketidakseimbangan perdagangan di mana impor barang jadi murah dari China membanjiri pasar Afrika dan melemahkan industri lokal seperti tekstil atau elektronik, ditambah beban utang dari proyek infrastruktur yang bisa mencapai titik kritis jika tidak dikelola dengan hati-hati, maka berpotensi memaksa penjualan aset strategis seperti pelabuhan atau tambang. Persaingan geopolitik juga muncul, dengan sanksi Barat terhadap Rusia atau China yang bisa merembet ke mitra Afrika, serta ketegangan internal BRICS atas pembagian sumber daya langka, yang menuntut Afrika untuk memperkuat negosiasi kolektif melalui Uni Afrika agar tidak jatuh ke pola ketergantungan baru. Selain itu, isu lingkungan dari eksploitasi mineral masif dan kurangnya transfer teknologi nyata bisa menghambat agenda pembangunan berkelanjutan, membuat tantangan utama adalah membangun kapasitas domestik agar investasi BRICS benar-benar menjadi katalisator kemandirian daripada sekadar pengganti hegemoni Barat.