Mengantar Obat, Sambil Belajar Mengurangi Jejak Karbon
Tulisan dari Endang Sukandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah terpikir berapa banyak perjalanan yang dibutuhkan agar obat bisa sampai ke apotek, klinik, atau rumah sakit? Di balik aktivitas logistik kesehatan yang terlihat biasa, ternyata ada persoalan lingkungan yang semakin menarik perhatian saya: berapa banyak emisi karbon yang dihasilkan dari setiap pengiriman?
Bagi kebanyakan orang, mungkin yang penting obatnya tersedia ketika dibutuhkan. Tidak terlambat, kondisinya baik, dan tentu saja aman digunakan.
Saya pun berpikir demikian.
Selama bekerja di bidang logistik dan distribusi kesehatan, saya terbiasa melihat aktivitas pengiriman sebagai bagian dari rutinitas operasional. Ada pesanan yang harus diproses, kendaraan yang harus berangkat, dan pelanggan yang menunggu kiriman.
Setiap hari, ribuan paket obat dan alat kesehatan bergerak melalui jaringan distribusi. Di balik setiap pengiriman, ada banyak orang yang bekerja memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Namun, belakangan ada satu pertanyaan yang semakin sering muncul dalam pikiran saya.
Berapa banyak energi yang kita gunakan, dan berapa banyak emisi karbon yang dihasilkan, untuk memastikan semua pengiriman itu sampai ke tujuan?
Pertanyaan sederhana ini ternyata membawa saya melihat pekerjaan sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda.
Ketika Bisnis Bertumbuh, Ada Hal Lain yang Ikut Bertambah
Dalam dunia logistik, pertumbuhan volume pengiriman biasanya menjadi kabar menggembirakan.
Artinya, aktivitas bisnis meningkat, jaringan pelayanan semakin luas, dan semakin banyak kebutuhan pelanggan yang dapat dipenuhi.
Di tempat saya bekerja, PT Anugrah Argon Medica (AAM), yang merupakan bagian dari PT Medela Potentia Tbk (MDLA), catatan operasional internal menunjukkan peningkatan volume distribusi sekitar 26% sepanjang 2023–2025.
Tentu ada banyak hal positif dari pertumbuhan tersebut.
Namun, semakin banyak produk yang dikirim, semakin banyak pula aktivitas yang dibutuhkan. Kendaraan melakukan perjalanan, gudang menggunakan listrik, fasilitas pendingin terus bekerja, dan berbagai sumber daya lainnya ikut digunakan.
Saya mulai berpikir, apakah peningkatan aktivitas itu harus selalu diikuti peningkatan penggunaan energi dan emisi dalam proporsi yang sama?
Atau sebenarnya ada cara untuk bekerja lebih efisien tanpa mengurangi kualitas pelayanan?
Dari sinilah ketertarikan saya terhadap dekarbonisasi semakin berkembang.
Awalnya, saya membayangkan bahwa mengurangi emisi logistik terutama berkaitan dengan mengganti kendaraan berbahan bakar bensin atau solar menjadi kendaraan listrik.
Ternyata persoalannya jauh lebih luas.
Ternyata, Bukan Hanya Kendaraan yang Menghasilkan Emisi
Ada hal menarik yang saya pelajari ketika mulai mendalami data emisi perusahaan.
Kalau kita berbicara tentang polusi dari aktivitas logistik, gambaran yang paling mudah muncul mungkin kendaraan pengiriman di jalan raya.
Saya juga sempat memiliki pemikiran serupa.
Namun, ketika melihat hasil inventarisasi emisi internal tahun 2025, saya menemukan sesuatu yang membuat cara pandang saya berubah.
Sekitar 61% jejak emisi dalam cakupan inventarisasi yang dikaji ternyata berasal dari penggunaan listrik atau yang dikenal sebagai Scope 2. Sementara itu, emisi langsung dari armada perusahaan hanya menyumbang sekitar 6%.
Angka tersebut cukup menarik bagi saya.
Bukan berarti kendaraan tidak penting. Justru kendaraan tetap menjadi bagian yang perlu diperbaiki. Tetapi ternyata sumber emisi terbesar tidak selalu berasal dari aktivitas yang paling terlihat.
Gudang membutuhkan penerangan. Sistem pendingin harus menjaga suhu penyimpanan. Peralatan operasional menggunakan listrik hampir sepanjang waktu.
Belum lagi kegiatan transportasi oleh perusahaan mitra yang juga menjadi bagian dari rantai distribusi.
Saya kemudian memahami bahwa jejak karbon sebuah pengiriman tidak hanya berasal dari perjalanan kendaraan menuju pelanggan.
Ada energi yang digunakan jauh sebelum kendaraan meninggalkan gudang.
Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa mengurangi emisi harus dimulai dengan memahami dari mana emisi tersebut berasal.
Kita tidak bisa memperbaiki sesuatu dengan tepat kalau belum benar-benar mengetahui apa yang perlu diperbaiki.
Kedengarannya sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah.
Mengurangi Emisi, tetapi Obat Tetap Harus Aman
Ada satu hal yang membuat pekerjaan di bidang distribusi kesehatan cukup berbeda dengan logistik pada umumnya.
Kami tidak hanya mengirim barang.
Produk yang dikirim akan digunakan untuk mendukung pelayanan kesehatan, bahkan dalam kondisi tertentu berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
Karena itu, efisiensi tidak boleh dilakukan sembarangan.
Misalnya, ada produk yang harus disimpan dan dikirim dalam suhu tertentu. Produk seperti ini membutuhkan penanganan khusus agar kualitasnya tetap terjaga.
Dalam distribusi farmasi, prinsip Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) juga menjadi bagian penting dari pekerjaan sehari-hari.
Bayangkan jika kita terlalu bersemangat menghemat listrik, tetapi justru mengganggu kestabilan suhu penyimpanan obat.
Atau ingin mengurangi perjalanan kendaraan, tetapi pengiriman menjadi terlambat dan kualitas pelayanan menurun.
Tentunya bukan itu yang kita inginkan.
Bagi saya, tantangan sebenarnya bukan sekadar bagaimana mengurangi emisi sebanyak mungkin.
Tantangannya adalah bagaimana mengurangi emisi sambil tetap menjaga mutu produk, keandalan layanan, dan keselamatan pasien.
Itulah sebabnya tidak semua perubahan bisa dilakukan secara instan.
Ada yang harus dihitung, diuji, dievaluasi, kemudian diperbaiki sebelum diterapkan lebih luas.
Terkadang prosesnya memang lebih lambat daripada yang kita harapkan. Namun, saya percaya perubahan yang dilakukan dengan hati-hati justru lebih mungkin bertahan dalam jangka panjang.
Belajar dari Hal-Hal Kecil di Lapangan
Salah satu hal yang saya sukai dari dunia operasional adalah banyaknya peluang perbaikan yang sebenarnya ada di sekitar kita.
Tidak semuanya membutuhkan investasi besar atau teknologi yang rumit.
Kadang justru dimulai dari pertanyaan sederhana.
Apakah rute pengiriman hari ini sudah cukup efisien?
Apakah kendaraan berangkat dengan muatan yang optimal?
Apakah ada perjalanan yang sebenarnya bisa digabungkan?
Apakah listrik di gudang sudah digunakan sesuai kebutuhan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terdengar biasa bagi orang yang bekerja di bidang logistik.
Namun, ternyata jawabannya juga berkaitan erat dengan upaya mengurangi emisi.
Melalui pemanfaatan data, teknologi optimasi rute, dan sistem manajemen armada seperti Cartrack, kami berusaha memahami pola perjalanan kendaraan dengan lebih baik.
Tujuannya bukan hanya mempercepat pengiriman, tetapi juga mengurangi perjalanan yang kurang produktif.
Di sisi lain, ada pula upaya meningkatkan cara berkendara melalui pelatihan Eco & Safety Driving. Sebanyak 239 pengemudi di 20 cabang telah mengikuti pelatihan tersebut.
Bagi saya, program seperti ini menarik karena manfaatnya tidak hanya berhubungan dengan lingkungan.
Mengemudi dengan lebih baik juga berkaitan dengan keselamatan, penggunaan bahan bakar, dan perawatan kendaraan.
Hal serupa berlaku di gudang.
Penggunaan lampu LED, AC inverter, serta evaluasi sistem pendinginan yang lebih efisien mungkin bukan sesuatu yang terdengar spektakuler.
Tetapi ketika diterapkan secara konsisten di banyak fasilitas, perbaikan kecil seperti ini bisa menjadi bagian penting dari perubahan yang lebih besar.
Saya belajar bahwa keberlanjutan sebenarnya sangat dekat dengan kedisiplinan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari.
Ketika Kendaraan Listrik Mulai Menjadi Bagian dari Pengiriman
Salah satu perkembangan yang cukup menarik bagi saya adalah hadirnya kendaraan listrik dalam aktivitas distribusi.
Beberapa tahun lalu, kendaraan listrik mungkin lebih sering kita lihat sebagai bagian dari pembicaraan tentang masa depan transportasi.
Sekarang, penggunaannya mulai menjadi kenyataan dalam kegiatan operasional.
Di jaringan distribusi tempat saya bekerja, sepeda motor listrik mulai digunakan untuk mendukung pengiriman last-mile.
Pada 11 April 2026, perusahaan juga meluncurkan mobil listrik pertama untuk operasional distribusi di AAM Jakarta 2.
Berdasarkan perkembangan yang dipublikasikan hingga September 2026, sebanyak 107 kendaraan listrik, berupa motor dan mobil, telah digunakan di 15 cabang yang tersebar di 13 kota.
Bagi saya, ini tentu perkembangan yang menggembirakan.
Namun, ada satu hal yang menurut saya penting untuk diingat.
Memiliki kendaraan listrik tidak otomatis membuat seluruh proses distribusi menjadi rendah karbon.
Kita tetap harus mempertimbangkan jarak tempuh, kapasitas muatan, kemampuan pengemudi, ketersediaan pengisian daya, hingga sumber listrik yang digunakan.
Belum tentu satu jenis kendaraan cocok untuk semua wilayah atau kebutuhan pengiriman.
Karena itu, saya lebih melihat elektrifikasi sebagai sebuah perjalanan pembelajaran, bukan sekadar perlombaan menambah jumlah kendaraan listrik.
Perubahan teknologi perlu diikuti kesiapan sistem dan orang-orang yang menggunakannya.
Listrik Gudang dan Pelajaran dari Panel Surya
Ketika mengetahui bahwa konsumsi listrik menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi, perhatian saya juga semakin tertuju pada penggunaan energi di fasilitas operasional.
Salah satu langkah yang dilakukan perusahaan adalah pemasangan panel surya atap di cabang Tangerang dengan kapasitas terpasang 93,75 kWp.
Saya melihat inisiatif ini sebagai langkah penting untuk mulai mengurangi ketergantungan pada listrik berbasis fosil.
Namun, ada satu pelajaran menarik.
Menggunakan energi terbarukan bukan berarti kita boleh mengabaikan efisiensi energi.
Listrik yang paling baik dikelola tetaplah listrik yang digunakan secara tepat.
Itulah sebabnya pengukuran konsumsi listrik, pengaturan penggunaan peralatan, dan evaluasi sistem pendinginan tetap perlu dilakukan.
Dalam fasilitas distribusi kesehatan, prinsipnya tetap sama: energi digunakan dengan lebih bijak, tetapi kualitas penyimpanan produk tidak boleh dikorbankan.
Perubahan seperti ini mungkin tidak selalu terlihat oleh pelanggan.
Namun, justru di balik layar itulah banyak peluang perbaikan bisa ditemukan.
Angka-Angka yang Membuat Saya Semakin Optimistis
Setelah berbagai upaya dilakukan, tentu muncul pertanyaan berikutnya.
Apakah semuanya benar-benar memberikan hasil?
Dari pengukuran yang dilakukan perusahaan, intensitas emisi gas rumah kaca pada 2025 tercatat turun sekitar 20% dibandingkan baseline 2023.
Secara khusus, intensitas emisi Scope 1 dan Scope 2 turun sekitar 18%.
Sementara itu, rata-rata biaya bahan bakar operasional juga mengalami penurunan sebesar 17% dibandingkan baseline 2024.
Melihat perkembangan tersebut, saya cukup optimistis bahwa efisiensi operasional dan keberlanjutan memang bisa berjalan beriringan.
Tetapi saya juga belajar untuk lebih berhati-hati dalam membaca angka.
Penurunan intensitas emisi, misalnya, tidak selalu berarti jumlah total emisi perusahaan otomatis turun.
Intensitas menggambarkan emisi dibandingkan dengan satuan aktivitas tertentu. Ketika volume bisnis terus meningkat, jumlah emisi keseluruhan tetap perlu diperiksa secara terpisah.
Bagi saya, justru di sinilah pentingnya data yang baik.
Angka bukan sekadar bahan untuk menunjukkan keberhasilan. Angka seharusnya membantu kita memahami apa yang sudah membaik, apa yang belum, dan apa yang masih perlu dikerjakan.
Saya semakin percaya bahwa sebuah program keberlanjutan tidak cukup hanya terlihat baik dalam presentasi.
Program tersebut perlu memberikan perubahan yang bisa diukur dan dijelaskan dengan jujur.
Ternyata, Keberlanjutan Juga tentang Orang-Orang di Dalamnya
Semakin lama terlibat dalam berbagai kegiatan lingkungan, saya menyadari bahwa teknologi dan investasi hanyalah sebagian dari cerita.
Ada unsur lain yang tidak kalah penting, yaitu manusia.
Pengemudi yang berusaha mengemudi lebih efisien, tim gudang yang disiplin menggunakan energi, hingga rekan-rekan cabang yang ikut menjaga kualitas data.
Semua memiliki kontribusi.
Saya juga melihat bagaimana kegiatan sederhana dapat membuat isu lingkungan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Misalnya, melalui kolaborasi dengan Food Cycle Farm, lebih dari 9,8 ton limbah makanan berhasil dikelola dan dimanfaatkan kembali sebagai pakan ikan selama Mei 2025 hingga April 2026.
Ada pula kegiatan penanaman 750 pohon melalui partisipasi 16 cabang di 14 kota pada Januari–Februari 2026.
Salah satu yang menarik adalah program Walka-Walka.
Melalui aktivitas berjalan kaki bersama, lebih dari 70 juta langkah yang dikumpulkan karyawan diwujudkan menjadi penanaman 700 pohon mangrove di pesisir Tangerang.
Saya menyukai gagasan di balik kegiatan tersebut.
Sesuatu yang sangat sederhana, seperti berjalan kaki, ternyata bisa menjadi cara untuk mengajak lebih banyak orang terlibat dalam kegiatan lingkungan.
Tentu kegiatan menanam pohon bukan pengganti dari kewajiban mengurangi emisi operasional.
Namun, kegiatan tersebut bisa membantu membangun kesadaran dan rasa memiliki terhadap tujuan yang lebih besar.
Saya percaya perubahan yang bertahan lama tidak cukup hanya digerakkan oleh kebijakan perusahaan.
Perubahan juga membutuhkan orang-orang yang memahami mengapa hal itu penting.
Masih Jauh dari Selesai
Kalau ditanya apakah perjalanan ini sudah berhasil, saya mungkin akan menjawab bahwa kami masih terus belajar.
Ada perkembangan yang patut disyukuri, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Saya juga bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan perusahaan yang memperoleh pengakuan melalui IDX Channel Anugerah ESG pada 2025 dan 2026.
Namun, penghargaan bukanlah akhir dari perjalanan.
Masih ada target jangka panjang yang perlu dikejar, termasuk ambisi pengurangan intensitas emisi hingga 52% pada 2030, perluasan kendaraan listrik menuju 50% armada operasional, serta pencapaian Net Zero untuk emisi operasional Scope 1 dan Scope 2 pada 2050.
Target-target tersebut tentu tidak sederhana.
Apalagi aktivitas distribusi kesehatan terus berkembang dan melibatkan banyak pihak, termasuk mitra transportasi, penyedia teknologi, pemasok, serta pengelola fasilitas.
Saya juga menyadari bahwa tidak semua solusi cocok diterapkan dengan cara yang sama di setiap lokasi.
Apa yang berhasil di satu cabang belum tentu langsung memberikan hasil serupa di cabang lainnya.
Karena itu, pendekatan yang menurut saya paling masuk akal adalah terus mencoba, mengukur, belajar, dan memperbaiki.
Satu langkah yang berhasil bisa menjadi awal untuk langkah berikutnya.
Pada Akhirnya, Semua Kembali ke Satu Pengiriman
Ada satu pemikiran yang semakin kuat dalam diri saya setelah menjalani proses ini.
Dulu, ketika berbicara tentang keberhasilan distribusi, perhatian saya lebih banyak tertuju pada apakah produk berhasil dikirim tepat waktu, apakah layanan berjalan baik, dan apakah biaya operasional tetap terkendali.
Semua itu tentu masih sangat penting.
Namun, sekarang saya mulai menambahkan satu pertanyaan.
Bisakah kita memberikan layanan yang sama baiknya dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan dampak lingkungan yang lebih kecil?
Saya percaya jawabannya bisa, meskipun jalannya tidak selalu mudah.
Tidak semua perubahan harus dimulai dari investasi besar atau teknologi canggih.
Kadang perubahan dimulai dari rute pengiriman yang sedikit lebih efisien, penggunaan listrik yang lebih bijak, kebiasaan berkendara yang lebih baik, atau keputusan sederhana untuk tidak melakukan perjalanan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Bila dilakukan oleh banyak orang secara konsisten, langkah-langkah kecil itu bisa menjadi sesuatu yang berarti.
Bagi saya, dekarbonisasi logistik kesehatan bukan sekadar tentang angka emisi atau mengganti kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik.
Ini tentang bagaimana kita terus belajar memberikan pelayanan yang lebih baik, dengan cara yang semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Karena pada akhirnya, tujuan kami tetap sama: memastikan obat dan alat kesehatan sampai kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Hanya saja, sekarang kami juga berusaha memperhatikan jejak lingkungan yang ditinggalkan dalam setiap perjalanan.
Satu pengiriman pada satu waktu.
Dan saya rasa, perjalanan untuk menjadi lebih baik masih akan terus berlanjut.
________________________________________
Tulisan ini merupakan refleksi dan pandangan pribadi saya berdasarkan pengalaman di bidang operasional logistik dan keberlanjutan, serta informasi yang tersedia hingga Oktober 2026. Seluruh pandangan yang disampaikan bukan merupakan pernyataan resmi perusahaan.
Bacaan terkait: Transformasi Distribusi Kesehatan Berkelanjutan – PT Medela Potentia Tbk.

