Berhenti Ikut Tren: Mencari ide kreativitas dari Hal-Hal kecil di sekitar

Halo semuanya, nama Saya Erika Saya mahasiswi aktif program studi ilmu komunikasi, Universitas Bunda Mulia Berkarya dalam karya tulis, karya cetak maupun media digital
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Erika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cara mengelola Kegelisahan menjadi Karya Kreatif ala Raditya Dika

Suasana hangat dan antusiasme tinggi langsung terasa di Universitas Bunda Mulia (UBM) saat Raditya Dika hadir sebagai narasumber utama untuk membedah dapur kreatif dunia konten. Sebagai seorang kreator, penulis, sekaligus figur publik yang telah lama berada di industri kreatif, ia memahami betul betapa melelahkannya rasa cemas dan overthinking yang sering menghantui para kreator pemula saat ingin mulai berkarya. Padahal, logika sederhananya sangat jelas: alih-alih pusing menebak algoritma publik, karya terbaik justru lahir secara natural dari keresahan personal yang paling jujur di keseharian kita.
“Semakin gelisah, semakin bagus karena semakin banyak bensinnya untuk membuat sebuah cerita“ ucap Raditya Dika, Senin (26/10/2026).
Sayangnya, alih-alih merangkul kegelisahan tersebut sebagai modal utama, banyak kreator pemula yang justru terjebak dalam pola pikir keliru sejak pertama kali ingin mulai berkarya:
1. Jebakan Bikin Konten: Sibuk Ikut Tren, Lupa Jadi Diri Sendiri
Pernahkah kamu duduk di depan laptop atau memegang ponsel, mau bikin konten atau nulis cerita, tapi berakhir bingung mau mulai dari mana?
Biasanya, penyebab utama itu ketika kita mendadak merasa stuck karena kita terlalu sibuk menebak-nebak: "Algoritma apa yang lagi disukai banyak orang?", "Orang-orang lagi ramai ngomongin apa ya?", atau "Nanti kalau saya buat ini, ada yang suka gak ya?"
Kita jadi sibuk mengejar tren dan menyenangkan selera orang lain. Padahal, karya yang paling berkesan, lucu, dan menyentuh hati justru tidak pernah lahir dari tren pasar yang dibuat-buat. Karya yang terbaik itu lahir dari hal-hal kecil, jujur, dan paling dekat dengan hidup kita sehari-hari.
2. Mengubah Kegelisahan Menjadi "Bensin"
Dalam dunia kreatif, rasa overthinking, keresahan, atau pengalaman gagal adalah bahan bakar (bensin) paling autentik. Seperti halnya karya-karya besar Raditya Dika yang berakar dari pengalaman personal, semakin spesifik dan jujur kegelisahan yang diangkat, justru akan semakin banyak orang yang merasa terwakili.
Berikut merupakan beberapa tips dari seorang Raditya Dika dalam memilih topik pembicaraan dalam kegelisahannya:
Menangkap Ide Lewat Journaling
Agar kegelisahan tidak menguap begitu saja, Raditya Dika menyarankan kebiasaan mencatat atau journaling. Luangkan waktu beberapa menit sebelum tidur untuk menuliskan satu hal paling berkesan atau mengganggu di hari tersebut. Catatan ini kemudian disaring untuk memastikan apakah keresahan itu cukup kuat, potensial dikembangkan menjadi cerita panjang, dan layak dibagikan kepada orang lain.
Merumuskan Ide dengan Rumus Premis
Kegelisahan yang masih mentah perlu dibingkai ke dalam struktur yang jelas agar pendengar atau pembaca paham arah cerita kita. Kuncinya ada pada rumus premis dasar:
Premis = Karakter + Tujuan + Halangan
Sesi bersama Raditya Dika di UBM memberikan penyegaran bagi para calon kreator. Di tengah gempuran tren media sosial yang melelahkan, kuncinya sederhana: berhenti menebak algoritma, mulailah peka terhadap kegelisahan harian, catat lewat journaling, lalu bingkai ke dalam rumus premis yang jelas.
Sebagai penutup, berhenti membebani diri dengan hasil akhir (outcome) seperti jumlah penonton atau validasi orang lain karena hal tersebut di luar kendali kita. Fokuslah sepenuhnya pada usaha terbaik dan nikmati proses pengerjaannya. Keluarkan kegelisahanmu dan biarkan karya itu mengalir apa adanya.
