Apa yang Dikerjakan Pikiran Tanpa Tubuh?

Pekerjaan : Free Writer, ASN di BAPPEDA Kab. Jeneponto, Prov. Sul-Sel
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ermansyah R Hindi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sembari memainkan tuts-tuts komputer hari ini, saya juga coba menyambar buku Ethics (1959), karya Baruch Spinoza (meski tiga halaman tok, tampak lompat) di atas meja si anak kantoran. Mengisi waktu rehat jadi kesenangan tersendiri. Ini salah satu penggalan kalimat di Ethics.
"... kita pahami bahwa bukan cuma pikiran manusia bersatu sama tubuh, tapi juga apa yang harus dipahami melalui kesatuan antara pikiran dan tubuh," kata Spinoza (hlm. 47).
Kalimat simpelnya, apa? Spinoza seolah sedang berbicara bahwa tidak ada benda yang goyang atau diam karena dirinya sendiri. Semua keadaan—baik goyang maupun diam—selalu jadi akibat dari penyebab lain. Dari titik ini, ada prinsip kausalitas universal, yaitu setiap peristiwa memiliki penyebab, dan penyebab itu sendiri juga memiliki penyebab lain secara tak terhingga.
"Bahwa pikiran menyatu sama tubuh telah kita tunjukkan dari kenyataan bahwa tubuh merupakan objek dari pikiran." (hlm. 49).
Spinoza juga melihat: "Jika kita anggap suatu benda A sedang diam, maka selama tidak ada penyebab luar yang bekerja padanya, kita hanya bisa mengatakan bahwa benda itu tetap diam. Jika kemudian benda A bergerak, maka gerakan itu tidak mungkin berasal dari keadaan diamnya sendiri, melainkan dari sesuatu di luar dirinya."
Lalu, pikiran berkelindan sama tubuh tampak majemuk. Tubuh yang tidak punya jarak sama pikiran. Pikiran kita bergerak seiring tubuh.
Tubuh dikenali bukan karena dari tubuh atau benda-benda itu sendiri, melainkan hilangnya ketidakjarakan antara tubuh dan pikiran. Keduanya bergerak dari suatu durasi tertentu dan sulit dibedakan di mana titik celah ruang yang dilaluinya. Tubuh dan pikiran akhirnya berbanding lurus.
"Apabila sejumlah benda, baik yang berukuran sama maupun berbeda, didorong sedemikian rupa sehingga tetap bersatu satu sama lain, atau apabila mereka bergerak dengan kecepatan yang sama maupun berbeda sedemikian rupa sehingga mereka saling meneruskan gerakan mereka dalam suatu perbandingan tertentu, maka benda-benda tersebut disebut sebagai benda-benda yang saling bersatu (corpora invicem unita). Kita mengatakan bahwa semuanya bareng-bareng membentuk satu benda atau satu individu, yang dibedakan dari benda-benda (bodies) yang lain oleh persatuan tersebut." (hlm. 50)
Gagasannya cukup radikal. Artinya, jika ada persamaan, tubuh adalah seorang individu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri secara mutlak. Individu (tubuh, benda) adalah sekumpulan bagian yang saling terjalin dan mempertahankan pola hubungan tertentu.
Nah, selama ini hubungan atau "rasio gerak dan diam" antarbagian tubuh tetap terjaga, maka keseluruhan itu tetap dianggap sebagai satu individu yang mulai berpikir sama tubuhnya.
Misalnya, tubuh si A adalah individu ada karena organ-organ, sel-sel, dan bagian-bagiannya mempertahankan pola hubungan tertentu. Lebih jauh lagi, jika sebuah negara X bisa dipahami sebagai salah seorang rakyat B berdasarkan individu, ditambah dengan pertimbangan soal sistem politik dan institusi, di mana kekuatannya terjalin melalui pola yang sama atau berbeda. Jadi, tubuh tanpa roh atau kesadaran langsung ditebak sebagai robot. Kesadaran atau pikiran tanpa tubuh itu apa? Hantu, siluman, setan atau apa?
Terlebih lagi, tubuh yang diandalkan saat pengetahuan dan diskursus menjadi bahan obrolan di ruang kelas dan tongkrongan di media sosial. Yang nimbrung dalam obrolan seputar kuasa dan relasinya jelas pakai mulut, mata, telinga, dan sensasi luar lainnya untuk mencerminkan bahwa pikiran tanpa tubuh itu bisa tidak berkutik dalam menggambarkan dunia atau melihat realitas yang lebih beragam.
