Saya Adalah Binatang, Karena Itu Saya Ada

Pekerjaan : Free Writer, ASN di BAPPEDA Kab. Jeneponto, Prov. Sul-Sel
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ermansyah R Hindi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang utan adalah kita. Berita online tentang Ortan yang terluka di tengah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) membuat kita bertanya-tanya. Ini ada apa? Andai evolusi Mbah Darwinis(me) tongkrongi peristiwa Karhutla.
Sudahlah, Tuan-tuan! Oo, manusia adalah binatang lebih buas dan serakah daripada binatang itu sendiri. Tuan-tuan yang di atas kebanyakan ogah sama bangsa manusia (terutama wong cilik—rakyat jelata), ya bagaimana soal Ortan yang terancam diri dan habitatnya gara-gara Karhutla. Iya, kan?
Saya kira, sudah banyak pemikir dan saintis yang mengulik tentang evolusi. Ia jadi menarik karena bisa diperdebatkan. Dari arah yang lain, manusia sebagai "binatang berakal," yang tamat dan bangkit, pergi dan muncul kembali dalam kehidupan kita.
Bagaimamana pun kisahnya, kita menemukan diri kita dalam keadaan "terluka" yang lain karena kita sendiri, dari tengah hutan ke panggung kemajuan zaman. Kita punya pilihan masih berputar balik "menjadi binatang" dalam dunia maya yang nyata. "Si X binatang berakal, karena itu X ada" (Cartesian). Dalam gambar terbalik, kita memandangi tubuh yang lebih kuat dari kesadaran atau pikiran seperti orang utang menahan sekuat mungkin rasa sakit karena luka di tubuhnya.
Aha, tentang evolusi, dalam pengetahuan memberitahukan pada kita tentang bagaimana ukuran dan bentuk yang kecil dari banyak leluhur Hominin (bangsa manusia dan kerabat evolusionernya) dibandingkan manusia modern punya tengkorak dengan kapasitas otak lebih besar. Tentu, tubuh manusia yang mengalami perubahan dalam rentang sejarah evolusinya yang panjang. Manusia juga berevolusi yang menunjukkan dua kaki untuk berjalan tegak. Dahulu kala, teknologi, misalnya, manusia pakai batu, bahasanya verbal belaka dan melalui gambar di gua, komunikasinya pakai asap dari api, tulisan dengan basis material di dinding, daun, tulang, atau batu, akhirnya mengalami perubahan menjadi mesin yang lebih canggih sampai kecerdasan artifisial. Ini bisa berevolusi melalui proses belajar. Prosesnya panjang sekali, tidak kelar atau bukan pekerjaan sehari-semalam. Evolusi manusia secara fisik atau biologis dan teknologis memang menjangkau ratusan sampai ribuan tahun buat beranjak dari bentuk lama ke bentuk baru, dari bentuk baru terus-menerus ke bentuk-bentuk baru lainnya.
Dalam posmodern, evolusi teknologi dan budaya dikenal sebagai pertukaran simbolik. Dari dua gambaran evolusi ini ternyata manusia berbeda sama Ortan atau sebangsanya. Kita ada dalam metamorfosis dan perubahan yang berbeda. Sebagian yang lain terjadi kasus atau peristiwa yang berulang-ulang.
***
Kekayaan alam di antaranya Ortan masih tetap dalam evolusi sesuai lingkungan, karakteristik, dan bentuknya sendiri. Begitu pula tuan-tuan, ada yang pernah jadi orang-orang yang merangkak dari bawah sejenis kelas receh sekali. Terus, mereka mulai berhasrat untuk maju dan karena kerja kerasnya, maka ada yang jadi pejabat atau jadi pengusaha sebagai konsekuensi logis dan produk kehidupan yang kreatif secara bertahap.
Lain halnya, ketika kita punya luka fisik mungkin bisa sembuh. Di luar itu mungkin kehidupan bersama di bumi dikorbankan demi nafsu seiring kematian nalar, sehingga kita sulit untuk memahami tentang kerusakan alam. Loh, yang rusak siapa, Manusia—mereka sekaligus kita atau alam? Apa itu evakuasi? Apa itu luka? Apa itu manusia? Apa itu peduli? Apa itu kelestarian?
Tapi, ada kekuatan yang menerobos dan tidak bergantung sama evolusi, dimana evakuasi makhluk primal yang terluka akibat kebakaran hutan dan lahan, yaitu nafsu. Karena itu, nafsu bisa melahirkan hal-hal yang instan, tanpa tahapan berbelit-belit dan tanpa bersifat evolutif. Buat tuan-tuan dalam lingkaran kuasa, bahwa alam berbicara dengan logikanya sendiri sebagaimana binatang berakal bernama manusia, yang suatu saat nafsu dan instingnya melebihi apa yang ada dalam benaknya. Di saat lain, tuan-tuan bisa lihat bagaimana nafsu dan insting yang tidak terkontrol itu berubah jadi bahasa kuasa. Tidak heran di banyak kesempatan, nafsu dan insting dalam diri kita melebihi pula apa yang di alam ini.
Alam bukan sesuatu yang perlu ditempati untuk berterima kasih padanya karena ia menyediakan setiap apa yang dibutuhkan oleh manusia. Ia juga menjadi ruang bagi pribadi yang ingin melihat perbedaan antara nyata dan semu ditandai dengan kepuasan menjadi hasrat untuk mendominasi bahkan merusak alam beserta isinya. Diri dan alam diitari oleh ketidakpuasan dan kesenangan instan yang dengannya manusia kerap mempermainkan atau menyamarkan muslihat; ia dibenarkan demi mengeruk keuntungan yang berlindung di balik pelestarian alam atau kepedulian pada orang utan.
Sebaliknya, nalar yang ditangguhkan sama nafsu dan insting bisa membenarkan kepalsuan. Siapa saja bisa bahwa setiap orang tergoda sebagai kebenaran yang tidak perlu kita berlama-lama lagi untuk mengoceh tentang kepalsuan. Keduanya bukan tandingan atau melawan satu sama lainnya, melainkan saling melengkapi, saling silang, dan silih berganti dalam diri.
Jadi, kita menghadapi diri kita sendiri karena di luar hutan dengan habitat satwa pun sesungguhnya akan muncul siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Ia bukan lagi soal siapa yang kuat dan siapa yang lemah, melainkan siapa sesungguhnya dirinya, apakah tergoda atau hasrat terkontrol pada sesuatu.
Orang utang diciptakan dengan insting yang tidak jauh dari manusia. Ia bisa mengendus bahaya melalui instingnya. Cara memadamkan Karhutla itulah yang berbeda dengan manusia. Para petugas pemadan Karhutla yang diserahi pekerjaan dan tanggungjawab bisa tahu apa yang mesti dilakukan. Orang utan bergantung pada alam seperti hutan. Manusia bukan cuma menaklukkannya, dia mengelola dan lihai untuk mengeksploitasi alam dan seluruh sumberdaya yang dikandungnya.
