Konten dari Pengguna

Eropa Mulai Melarang Media Sosial untuk Anak, Tapi Apakah Ini Solusi?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faatihah Syifa Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini sepenuhnya di generasi menggunakan Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini sepenuhnya di generasi menggunakan Gemini AI

Langkah Austria mencerminkan kekhawatiran Eropa, tapi belum tentu menyentuh akar masalah digital.

Ketika pemerintah Austria berencana melarang anak di bawah 14 tahun menggunakan media sosial, banyak orang tua mungkin langsung setuju. Di tengah kekhawatiran soal kecanduan gadget, konten berbahaya, dan kesehatan mental, kebijakan ini terdengar masuk akal.

Tapi kalau dipikir lebih jauh, pertanyaannya jadi berbeda: apakah benar masalahnya ada pada anak-anaknya?

Selama ini, diskusi tentang media sosial hampir selalu berfokus pada penggunanya. Anak dianggap terlalu rentan, terlalu mudah terpengaruh, dan belum siap menghadapi dunia digital. Bahkan Wakil Kanselir Andreas Babler menyebut media sosial bisa membuat anak “kecanduan dan sakit”.

Pernyataan itu tidak salah. Banyak orang juga merasakannya. Scroll tanpa henti, sulit lepas dari layar, sampai merasa cemas atau lelah setelah berlama-lama di media sosial itu bukan hal asing lagi.

Tapi justru di situ letak masalahnya.

Media sosial memang dibuat untuk membuat orang betah. Algoritma dirancang supaya kita terus melihat, terus klik, terus kembali lagi. Artinya, sistemnya sejak awal memang dibuat untuk menarik perhatian selama mungkin bukan hanya untuk anak-anak, tapi untuk semua orang.

Jadi ketika negara memilih melarang anak-anak, rasanya seperti menyelesaikan masalah di permukaan saja.

Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Austria. Australia sudah lebih dulu membatasi akses media sosial untuk usia tertentu, dan France serta beberapa negara Eropa lain mulai mengarah ke kebijakan serupa. Artinya, kekhawatiran ini memang nyata dan dirasakan banyak negara.

Namun, pola yang muncul juga sama: yang dibatasi adalah penggunanya, bukan platformnya.

Padahal, platform media sosial adalah aktor utama di balik semua ini. Mereka yang menentukan bagaimana algoritma bekerja, bagaimana konten disebarkan, dan bagaimana pengguna dibuat terus bertahan. Tapi dalam banyak kebijakan, justru bagian ini yang jarang disentuh secara serius.

Akhirnya, yang terjadi adalah situasi yang agak janggal. Anak-anak dilarang, tapi sistem yang membuat mereka kecanduan tetap berjalan seperti biasa.

Belum lagi soal efektivitas. Di era digital seperti sekarang, pembatasan usia sering kali mudah dilewati. Anak-anak bisa saja tetap mengakses media sosial dengan berbagai cara. Kalau itu terjadi, larangan ini hanya jadi aturan di atas kertas.

Lebih dari itu, pendekatan seperti ini juga berisiko mengalihkan fokus. Seolah-olah masalah utamanya adalah anak-anak yang “tidak siap”, padahal sistemnya sendiri memang tidak dirancang untuk aman.

Kalau benar ingin melindungi generasi muda, mungkin yang perlu dipikirkan bukan hanya siapa yang boleh mengakses, tapi bagaimana platform itu bekerja. Transparansi algoritma, pembatasan konten berbahaya, dan perlindungan data justru terasa lebih menyentuh akar masalah.

Pada akhirnya, larangan media sosial untuk anak memang terdengar seperti langkah tegas. Tapi tanpa perubahan pada sistemnya, kebijakan ini mungkin hanya jadi solusi cepat yang tidak benar-benar menyelesaikan apa-apa.

Dan kalau itu terjadi, yang tetap harus beradaptasi adalah anak-anak di dalam dunia digital yang sejak awal tidak pernah benar-benar dirancang untuk melindungi mereka.