Krisis Bahasa Ibu: PR Besar bagi Keutuhan NKRI

Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faaza Eka Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kalangan generasi muda Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris kini menjadi kebanggaan tersendiri. Tidak sedikit percakapan sehari-hari yang disisipi ungkapan seperti literally, actually, relate, atau worth it. Fenomena ini menunjukkan semakin kuatnya pengaruh globalisasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kemampuan berbahasa asing bahkan sering dianggap sebagai indikator pendidikan, profesionalitas, dan kesiapan menghadapi dunia global.
Namun, di tengah semangat mempelajari bahasa internasional tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: apakah kita masih mengenal bahasa ibu kita sendiri?
Bahasa Daerah di Tengah Arus Globalisasi
Belajar bahasa Inggris tentu bukanlah sebuah kesalahan. Sebaliknya, penguasaan bahasa internasional merupakan kebutuhan di era modern. Bahasa Inggris membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, hingga peluang kerja yang lebih luas. Akan tetapi, muncul sebuah ironi ketika kemampuan berbahasa asing berkembang pesat, sementara bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu justru semakin ditinggalkan.
Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Ratusan bahasa daerah hidup dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara selama berabad-abad. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak bahasa daerah kini mengalami penurunan jumlah penutur dan berada dalam kondisi kritis karena tidak lagi diwariskan kepada generasi muda. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin semakin banyak bahasa daerah yang kehilangan penuturnya. Bahkan, sejumlah bahasa di Indonesia telah dinyatakan punah karena tidak lagi digunakan oleh masyarakat penuturnya.
Salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah berkurangnya penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga. Banyak orang tua kini lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka. Di sisi lain, dominasi media digital, internet, film, musik, dan berbagai platform global semakin memperkuat penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, bahasa daerah perlahan kehilangan ruang untuk digunakan dan diwariskan.
Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di dalam bahasa tersimpan sejarah, nilai-nilai budaya, kearifan lokal, hingga cara pandang suatu masyarakat terhadap dunia. Ketika sebuah bahasa hilang, yang lenyap bukan hanya kosakata, melainkan juga identitas dan warisan budaya yang telah dibangun selama generasi. Kepunahan bahasa berarti hilangnya salah satu bagian penting dari memori kolektif bangsa.
Mengapa Bahasa Ibu Penting bagi Keutuhan NKRI?
Persoalan ini menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan keutuhan NKRI. Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan keberagaman. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang menyatukan bangsa. Bahasa daerah merupakan salah satu bentuk keberagaman tersebut. Oleh karena itu, hilangnya bahasa daerah secara perlahan berarti berkurangnya salah satu unsur yang membentuk kekayaan identitas Indonesia.
Menjadi Global Tanpa Kehilangan Akar
Meski demikian, menjaga bahasa daerah bukan berarti menolak globalisasi. Dunia saat ini memang menuntut masyarakat untuk memiliki kemampuan berbahasa internasional. Yang perlu dibangun adalah keseimbangan. Generasi muda tidak harus memilih antara bahasa daerah atau bahasa Inggris. Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Justru akan menjadi sebuah keunggulan apabila seseorang mampu menguasai tiga bahasa sekaligus: bahasa daerah sebagai identitas budaya, bahasa Indonesia sebagai identitas nasional, dan bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi global. Kemampuan multibahasa tidak hanya memperluas peluang akademik dan profesional, tetapi juga menunjukkan bahwa seseorang mampu menjadi warga dunia tanpa kehilangan akar budayanya sendiri.
Upaya Menjaga Bahasa Ibu
Untuk mewujudkan hal tersebut, peran keluarga menjadi sangat penting. Orang tua perlu membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari agar anak-anak tetap memiliki kedekatan dengan bahasa ibu mereka. Sekolah juga dapat berkontribusi melalui penguatan pembelajaran bahasa daerah serta kegiatan budaya yang menarik dan relevan bagi generasi muda. Sementara itu, anak muda sendiri dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana kreatif untuk mengenalkan dan melestarikan bahasa daerah melalui konten digital yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Pada akhirnya, menjadi generasi global tidak harus berarti meninggalkan identitas lokal. Di tengah derasnya arus globalisasi, kita tetap dapat membuka diri terhadap bahasa internasional tanpa melupakan bahasa ibu. Sebab ketika bahasa daerah hilang, yang lenyap bukan hanya kata-kata, melainkan sebagian warna yang membentuk Indonesia. Menjaga bahasa ibu bukanlah langkah mundur dari modernitas, melainkan cara memastikan bahwa kemajuan tidak membuat kita tercerabut dari akar budaya bangsa. Dengan menjaga bahasa ibu, kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga menjaga keberagaman yang menjadi fondasi keutuhan NKRI.
